LESINDO.COM – Ada masa dalam hidup ketika saya merasa telah memahami ke mana harus melangkah.
Setidaknya, saya pernah berpikir demikian.
Saya menyusun rencana, membayangkan hari-hari yang akan datang, lalu berusaha menjalani semuanya sebaik mungkin. Ada harapan yang perlahan saya rajut. Ada tujuan yang ingin saya tuju. Ada pula keyakinan bahwa selama saya terus berusaha, hidup akan berjalan sebagaimana yang saya harapkan.
Namun, semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin saya menyadari satu hal: hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang telah kita susun.
Ada kejadian-kejadian yang datang tanpa pernah kita duga. Ada kenyataan yang mengetuk pintu ketika kita belum siap membukanya. Ada jalan yang tiba-tiba berubah arah, bahkan ketika kita merasa telah berjalan begitu jauh.
Pada saat-saat seperti itulah, saya belajar bahwa manusia boleh memiliki rencana, tetapi tidak selalu memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana rencana itu akan berakhir.
Kadang, kita hanya bisa diam.
Menarik napas.
Lalu mencoba menerima kenyataan yang datang tanpa sempat kita persiapkan.
Hidup, barangkali, memang selalu menyimpan rahasia.
Dan mungkin, semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami bahwa tidak semua rahasia kehidupan harus segera ditemukan jawabannya.
Ada masa ketika manusia merasa telah menyusun hidupnya dengan rapi.
Kita membuat rencana. Menentukan tujuan. Menghitung kemungkinan. Menyiapkan jalan agar langkah yang ditempuh tidak terlalu jauh menyimpang dari harapan.
Namun, hidup sering kali tidak berjalan mengikuti garis yang kita gambar sendiri.
Terkadang, ketika kita merasa telah menemukan arah, justru jalan di depan berubah. Ketika kita merasa sudah siap melangkah, sebuah kenyataan datang tanpa permisi. Ada pintu yang tiba-tiba tertutup. Ada orang yang pergi ketika kita masih ingin bersamanya. Ada harapan yang runtuh justru saat kita telah menggantungkan begitu banyak mimpi di atasnya.
Dan ada pula kejutan-kejutan kehidupan yang datang ketika kita sama sekali belum siap menerimanya.
Hidup, barangkali, memang selalu menyimpan rahasia.
Rahasia itu tidak selalu hadir dalam bentuk kebahagiaan. Kadang ia datang sebagai kesedihan. Kadang sebagai kehilangan. Kadang sebagai kegagalan yang membuat kita bertanya-tanya, mengapa semua ini harus terjadi.
Pada saat-saat seperti itulah manusia sering kali menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kuasa sebesar yang selama ini dibayangkan.
Kita boleh merencanakan perjalanan, tetapi tidak selalu bisa menentukan cuaca. Kita dapat menyiapkan perahu, tetapi tidak mampu memerintahkan ombak untuk selalu tenang. Kita bisa berusaha menjaga sesuatu dengan sekuat tenaga, tetapi tidak semua yang kita genggam memang ditakdirkan untuk tinggal.
Ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh kemampuan manusia.
Di sebuah titik, langkah harus berhenti. Bukan karena kita tidak ingin melanjutkan perjalanan, melainkan karena kita telah sampai pada batas tenaga. Pikiran telah berusaha mencari jalan. Hati telah mencoba bertahan. Tangan telah bekerja sekuat mungkin. Namun persoalan itu tetap berdiri di depan, seperti dinding tinggi yang belum menemukan pintu.
Dalam keadaan seperti itu, manusia sering kali terjebak dalam keinginan untuk memaksakan semuanya.
Padahal, tidak semua persoalan harus diselesaikan oleh tangan kita sendiri.
Tidak semua jalan harus kita buka dengan tenaga kita.
Dan tidak semua rahasia kehidupan harus kita pahami hari ini.
Barangkali, ada hal-hal yang memang baru akan kita mengerti setelah waktu berjalan cukup jauh.
Menjalani Bagian yang Menjadi Tugas Kita
Hidup bukan tentang mampu mengendalikan seluruh keadaan.
Ada bagian yang memang menjadi tugas kita: berusaha, bekerja, belajar, menjaga, memperbaiki, dan bertanggung jawab terhadap apa yang berada dalam jangkauan.
Tetapi ada pula bagian yang berada jauh di luar kemampuan manusia.
Tentang hasil.
Tentang waktu.
Tentang pertemuan dan perpisahan.
Tentang pintu mana yang akhirnya terbuka dan pintu mana yang harus ditutup.
Di sanalah barangkali kita perlu belajar membedakan antara berjuang dan memaksakan kehendak.
Berjuang berarti memberikan kemampuan terbaik pada apa yang bisa kita lakukan. Sementara memaksakan kehendak adalah kelelahan yang lahir karena ingin menguasai sesuatu yang sesungguhnya tidak berada dalam kendali kita.
Tidak mudah menerima perbedaan itu.
Sebab manusia sering kali ingin memastikan bahwa setiap usaha menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Padahal hidup tidak pernah memberikan jaminan semacam itu.
Kadang kita telah berjalan begitu jauh, tetapi justru harus berbelok.
Kadang kita merasa sebuah kegagalan adalah akhir dari segalanya, tetapi beberapa tahun kemudian kita baru memahami bahwa kegagalan itu ternyata menyelamatkan kita dari jalan yang salah.
Ada rahasia yang baru terbuka setelah kita melewati banyak musim.
Kejutan yang Tidak Selalu Kita Siapkan
Kehidupan juga kerap datang membawa kejutan.
Ada kabar yang membuat kita tersenyum ketika sebelumnya kita merasa kehilangan harapan. Ada pertolongan yang muncul dari arah yang sama sekali tidak pernah kita duga. Ada pertemuan yang mengubah jalan hidup. Ada kesempatan yang datang ketika kita sudah hampir menyerah.
Namun sebaliknya, ada pula kenyataan yang datang begitu tiba-tiba hingga kita tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan hati.
Di situlah manusia diuji.
Bukan hanya diuji ketika diberi kesulitan, tetapi juga ketika diminta menerima kenyataan yang tidak pernah masuk dalam rencana.
Barangkali hidup memang tidak selalu meminta kita untuk memahami semuanya.
Kadang hidup hanya meminta kita untuk menjalaninya.
Satu langkah.
Satu hari.
Satu persoalan pada satu waktu.
Tidak perlu memikul beban hari esok sebelum hari itu benar-benar datang. Tidak perlu menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan dalam satu malam. Tidak perlu memaksa diri menjadi kuat setiap saat.
Ada waktunya kita cukup melakukan apa yang mampu kita lakukan hari ini.
Setelah itu, selebihnya biarlah langit yang menyelesaikan.
Biarlah Langit Menyelesaikan Sisanya
Pada akhirnya, hidup mungkin hanya meminta kita menjalankan bagian yang sanggup kita jalani.
Berusaha tanpa harus merasa menjadi penguasa atas hasil.
Berjalan tanpa harus mengetahui seluruh jalan di depan.
Dan menerima bahwa kehidupan selalu memiliki halaman yang belum dibuka.
Mungkin hari ini kita sedang berada di sebuah lorong yang gelap. Kita belum mengetahui ujungnya. Kita belum memahami mengapa harus melewati jalan itu. Namun siapa yang tahu, justru di balik lorong itulah ada pemandangan yang selama ini kita cari.
Maka, lakukanlah apa yang mampu dilakukan.
Jalani tugas yang menjadi bagian kita.
Berusahalah dengan sungguh-sungguh selama masih ada tenaga dan kesempatan.
Tetapi ketika semua kemampuan telah diberikan dan jalan tetap belum terlihat, mungkin tidak ada salahnya berhenti sejenak, menarik napas, lalu menengadah.
Karena tidak semua harus selesai oleh tangan kita.
Ada hal-hal yang memang harus kita perjuangkan.
Dan ada pula hal-hal yang, setelah segala ikhtiar dilakukan, harus kita serahkan.
Selebihnya, biarlah langit menyelesaikan dengan caranya sendiri.
Sebab mungkin, ketika kita merasa kehilangan kendali atas hidup, justru pada saat itulah Tuhan sedang menyiapkan sebuah jalan yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. (Cha)

