spot_img
BerandaBudayaPart 2 : Payung dan Kuasa di Nusantara

Part 2 : Payung dan Kuasa di Nusantara

Payung menggambarkan perlindungan dan kasih sayang dalam kehidupan rumah tangga. Dua manusia yang berjalan bersama membutuhkan ruang untuk saling menaungi.

LESINDO.COM – Jauh dari Eropa, Nusantara memiliki kisah payungnya sendiri. Di berbagai kerajaan dan tradisi lokal, payung bukan sekadar alat untuk melindungi tubuh. Ia adalah lambang.

Di Jawa, Bali, Sulawesi, dan berbagai wilayah lain, payung besar digunakan dalam upacara dan lingkungan kerajaan. Kehadirannya sering berkaitan dengan kekuasaan, kemuliaan, dan penghormatan.

Di atas kepala seorang raja, bangsawan, atau pemuka adat, payung berubah menjadi tanda visual tentang siapa yang sedang dilindungi.

Atau, lebih tepatnya, siapa yang dianggap layak mendapat perlindungan.

Ukuran, warna, hingga hiasan dapat membawa makna tertentu. Payung menjadi bagian dari tata simbol yang menjelaskan struktur masyarakat tanpa perlu pidato panjang.

Seseorang cukup melihat siapa yang berjalan di bawah payung.

Lalu memahami kedudukannya.

Dalam kebudayaan Jawa, tradisi payung juga berkembang sebagai kriya. Salah satu jejaknya dapat ditemukan di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah.

Dari Juwiring ke Tasikmalaya

Di Juwiring, tradisi pembuatan payung berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Payung tradisional dibuat dari bahan-bahan sederhana, tetapi digunakan dalam berbagai kebutuhan sosial dan budaya.

Ada payung untuk kehidupan.

Ada pula payung yang hadir dalam kematian.

Dalam sejumlah tradisi, payung digunakan dalam prosesi tertentu, termasuk upacara adat dan pengiringan jenazah. Fungsinya melampaui perlindungan dari cuaca. Payung menjadi bagian dari perjalanan manusia dalam siklus kehidupan.

Sementara itu, di Tasikmalaya, payung berkembang menjadi karya seni.

Payung Geulis.

Namanya sendiri telah menjelaskan kehadirannya. Dalam bahasa Sunda, geulis berarti cantik.

Payung-patung itu dihiasi lukisan tangan. Flora, bentuk geometris, dan berbagai motif dekoratif memenuhi permukaannya. Payung bukan lagi sekadar benda yang dibuka ketika hujan.

Ia menjadi kanvas.

Sebuah karya seni yang dapat berjalan.

Dari sana terlihat bahwa perjalanan payung di Nusantara tidak pernah sepenuhnya berhenti pada fungsi praktis.

Payung selalu membawa cerita.

Tentang kekuasaan.

Tentang tradisi.

Tentang keindahan.

Ketika Payung Menjadi Bahasa Cinta

Di Minangkabau, Sumatra Barat, payung memperoleh makna yang lebih puitis melalui Tari Payung.

Dalam tarian itu, payung tidak hanya menjadi properti.

Ia menjadi metafora.

Payung menggambarkan perlindungan dan kasih sayang dalam kehidupan rumah tangga. Dua manusia yang berjalan bersama membutuhkan ruang untuk saling menaungi.

Satu memegang.

Yang lain berada di bawahnya.

Namun, maknanya bukan tentang siapa yang lebih tinggi.

Melainkan tentang kesediaan untuk melindungi.

Barangkali di situlah perjalanan panjang payung menemukan maknanya yang paling manusiawi.

Dari lambang kekuasaan para raja hingga properti tarian tentang cinta, benda ini terus berubah mengikuti zaman.

Ia pernah menjadi tanda bahwa seseorang lebih tinggi daripada yang lain.

Ia pernah menjadi simbol perempuan.

Pernah dianggap tidak pantas bagi laki-laki.

Pernah dibuat dari daun.

Dari papirus.

Dari sutra.

Dari kertas berminyak.

Dari tulang ikan paus.

Lalu dari baja.

Hari ini, payung dapat ditemukan di hampir setiap sudut kehidupan. Payung murah dijual di pinggir jalan. Payung mahal dipajang di toko-toko fesyen. Payung lipat masuk ke tas kerja. Payung besar berdiri di halaman kafe.

Kita menggunakannya tanpa banyak berpikir.

Padahal, ketika sebuah payung terbuka, sebenarnya kita sedang memegang ribuan tahun sejarah.

Sejarah tentang manusia yang tidak ingin tunduk sepenuhnya pada alam.

Tentang matahari yang terlalu terik.

Tentang hujan yang terlalu deras.

Tentang raja yang ingin terlihat agung.

Tentang perempuan yang menjadikan payung sebagai aksesori.

Tentang seorang lelaki Inggris yang tetap berjalan meski diejek.

Dan tentang para perajin Nusantara yang menjadikan selembar kain dan kertas sebagai bagian dari kebudayaan.

Mungkin itulah ironi payung.

Benda yang selalu kita buka ketika membutuhkan perlindungan itu, ternyata telah berkali-kali berubah sepanjang sejarah.

Dari simbol kekuasaan menjadi barang sehari-hari.

Dari kemewahan menjadi kebutuhan.

Dari pelindung matahari menjadi teman hujan.

Dan kini, ketika hujan berhenti, manusia kembali melipatnya.

Menyimpannya.

Melupakannya.

Sampai langit kembali berubah gelap.

Lalu, seperti manusia yang kembali mencari perlindungan ketika hidup memasuki musim sulit, tangan itu kembali membuka payung.

Barangkali sejak ribuan tahun lalu, fungsi payung tidak pernah benar-benar berubah: manusia selalu membutuhkan sesuatu untuk berdiri di antara dirinya dan dunia yang kadang terlalu panas, terlalu deras, atau terlalu keras.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments