Ketika Kawula Mencari Gusti
LESINDO.COM – Salah satu gagasan yang paling sering dibicarakan dalam spiritualitas Jawa adalah manunggaling kawula Gusti.
Ungkapan ini kerap dipahami sebagai perjalanan manusia untuk mendekat kepada sumber kehidupan.
Bukan semata-mata kedekatan secara fisik.
Sebab Tuhan tidak dibatasi oleh ruang.
Bukan pula sekadar kedekatan melalui kata-kata.
Melainkan melalui kesadaran.
Manusia belajar mengenali dirinya.
Menyadari kelemahannya.
Mengurangi keakuannya.
Menundukkan kesombongannya.
Semakin manusia merasa dirinya paling besar, mungkin justru semakin jauh ia dari kesadaran tentang kebesaran semesta.
Sebaliknya, ketika manusia mampu memahami keterbatasannya, di situlah ia mulai membuka ruang bagi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Dalam perjalanan sejarah, gagasan tentang penyatuan atau kedekatan manusia dengan Yang Ilahi kemudian memperoleh banyak penafsiran dan diperkaya oleh pemikiran tasawuf.
Namun satu pertanyaan tetap bertahan hingga sekarang:
Bagaimana manusia dapat mengenal Tuhannya apabila ia belum mengenal dirinya sendiri?
Mungkin, pertanyaan itulah yang membuat laku batin Jawa terus bertahan.
Slametan dan Harapan untuk Tetap Selamat
Warisan spiritual Jawa tidak hanya hidup dalam ruang-ruang sunyi.
Ia juga hidup di tengah masyarakat.
Di dapur.
Di halaman rumah.
Di antara tetangga.
Di atas tampah dan besek makanan.
Salah satu bentuknya adalah slametan.
Orang berkumpul.
Doa dipanjatkan.
Makanan dibagikan.
Tidak ada yang datang semata-mata untuk mengenyangkan perut.
Ada harapan yang sedang dibagikan.
Harapan agar kehidupan tetap selamat.
Agar keluarga dijauhkan dari bahaya.
Agar perjalanan dimudahkan.
Agar rezeki cukup.
Agar manusia tetap hidup dalam keseimbangan.
Di dalam slametan, manusia tidak hanya berbicara dengan Tuhan.
Ia juga berbicara dengan sesamanya.
Makanan menjadi penghubung.
Doa menjadi bahasa bersama.
Kebersamaan menjadi cara untuk mengingatkan bahwa keselamatan tidak selalu dapat diraih seorang diri.
Dalam dunia yang semakin individualistis, tradisi semacam ini mengandung pesan sederhana yang mungkin semakin relevan:
Manusia tidak hidup sendirian.
Suwung yang Tidak Pernah Kosong
Barangkali, salah satu warisan paling menarik dari spiritualitas Jawa adalah cara memandang suwung.
Bagi manusia modern, kosong sering kali berarti tidak ada apa-apa.
Kekosongan dianggap menakutkan.
Rumah yang sunyi membuat gelisah.
Telepon yang tidak berbunyi terasa aneh.
Hari tanpa kesibukan dianggap sia-sia.
Padahal, dalam banyak tradisi laku batin, justru di dalam kesunyian manusia mulai mendengar.
Ketika suara dunia perlahan diredam, muncul pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tertimbun oleh kesibukan.
Apakah hidup hanya tentang mengejar?
Apakah manusia benar-benar membutuhkan semua yang diinginkannya?
Ke mana seseorang akan pergi setelah seluruh pencapaiannya selesai?
Mungkin, Sang Hyang Taya—dalam segala kerumitan dan perdebatan sejarah mengenai konsep Kapitayan—tetap menarik untuk direnungkan bukan semata-mata karena ia merupakan jejak masa lalu.
Melainkan karena ia mengingatkan manusia tentang sesuatu yang sering terlupakan.
Bahwa tidak semua yang nyata harus dapat dilihat.
Tidak semua yang penting harus dapat dimiliki.
Dan tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan berlari.
Kadang-kadang, manusia justru menemukan jalan ketika berhenti.
Ketika diam.
Ketika menundukkan diri di hadapan semesta.
Ketika menyadari bahwa dirinya hanyalah satu titik kecil dalam kehidupan yang sangat luas.
Di situlah mungkin letak warisan terdalam spiritualitas Jawa.
Bukan pada upaya untuk menjelaskan Tuhan secara sempurna.
Sebab Yang Mahamutlak tidak akan pernah selesai dijelaskan oleh bahasa manusia.
Melainkan pada kesediaan manusia untuk terus mencari.
Dengan rendah hati.
Dengan kesadaran.
Dan dengan keberanian untuk masuk ke dalam keheningan.
Sebab, mungkin, seperti yang telah lama dipahami oleh laku batin Nusantara, suwung tidak selalu berarti kosong.
Kadang-kadang, justru dalam kesunyian yang paling dalam, manusia mulai menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya.(Rha)

