spot_img
BerandaJelajahjelajahKetika Dahan Pohon Menjadi Tribun MotoGP

Ketika Dahan Pohon Menjadi Tribun MotoGP

Di negeri ini, kejadian sederhana kerap menyimpan cerita yang panjang. Orang-orang bisa menemukan cara untuk menikmati keramaian, merayakan kemenangan, atau sekadar menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang kelak dikenang.

Oleh : Mutiara P

LESINDO.COM – Di Mandalika, deru motor balap kelas dunia tak hanya mengundang decak kagum penonton di tribun. Di balik pagar sirkuit, sejumlah warga menemukan cara sendiri untuk menikmati pertunjukan: memanjat pohon, mencari dahan yang nyaman, lalu menyaksikan jagoan mereka melesat tanpa harus membeli tiket.

Ada banyak cara untuk menikmati balapan. Sebagian orang merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan tempat terbaik di tribun. Sebagian lainnya memilih duduk di depan televisi, ditemani kopi dan camilan. Namun, di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ada cara lain yang barangkali sulit ditemukan di tempat penyelenggaraan balap motor kelas dunia lainnya: naik pohon demi menyaksikan para pembalap berlaga.

Di balik pagar pengaman luar Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, beberapa pemuda dan anak-anak tampak bertengger di dahan pohon rindang. Dari tempat yang tak lazim itu, mereka berusaha menangkap setiap momen balapan, mengikuti suara mesin yang meraung dan motor-motor yang melesat di lintasan.

Tak ada kursi bernomor, tak ada tiket yang harus dipindai, apalagi biaya tambahan untuk mendapatkan tempat duduk. Yang diperlukan hanyalah pohon yang memungkinkan mereka melihat lintasan, keseimbangan tubuh, dan tentu saja keberanian untuk bertengger di atas dahan.

Barangkali, jika ada sedikit uang di saku, sebagian dari mereka lebih memilih membeli es untuk mengusir dahaga. Setelah itu, tinggal mencari tempat yang memungkinkan untuk menikmati tontonan. Bahkan, duduk di atas pohon pun jadi.

Begitulah cara sebagian warga lokal merayakan gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia atau MotoGP Mandalika 2026. Sebuah perhelatan olahraga internasional yang menghadirkan pembalap-pembalap terbaik dunia, tetapi kemeriahannya tidak hanya menjadi milik mereka yang mampu membeli tiket.

Dari dahan pohon, mengejar deru mesin

Pada Minggu, 11 Oktober 2026, sebuah foto yang diunggah fotografer Shony Wahyu melalui akun Instagram terverifikasi @shonywahyu menangkap potret unik tersebut. Dalam bingkai itu, aksi warga yang bertengger di atas pohon menjadi perhatian, terlebih ketika pembalap papan atas Marco Bezzecchi melintas di lintasan dengan motor balapnya.

Foto itu kemudian menyebar di media sosial. Bukan semata-mata karena tingkah warga yang tak biasa, melainkan juga karena menyimpan cerita tentang cara orang menikmati sebuah peristiwa besar dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Bagi penonton di tribun, balapan mungkin dinikmati melalui layar besar, fasilitas yang tertata, dan sudut pandang yang telah diperhitungkan. Bagi mereka yang memilih dahan pohon, pengalaman itu tentu berbeda. Pandangan mungkin terhalang ranting, posisi duduk tak selalu nyaman, dan suara mesin terdengar dari balik pagar pembatas.

Namun, ada sesuatu yang tak bisa diukur dari tempat duduk atau harga tiket: kegembiraan ketika pembalap idola melintas di depan mata, meskipun hanya sesaat.

Motor-motor itu datang dengan kecepatan tinggi. Suaranya menggelegar, kemudian perlahan menjauh. Dalam hitungan detik, tontonan yang ditunggu kembali menghilang di tikungan berikutnya. Para penonton di atas pohon barangkali harus menunggu putaran selanjutnya untuk kembali menyaksikan momen serupa.

Tetapi, bukankah sebagian kesenangan memang terletak pada penantian?

Ketika hiburan kelas dunia berjumpa dengan akal lokal

Mandalika telah menjadi salah satu panggung olahraga otomotif yang mempertemukan Indonesia dengan dunia. Nama kawasan di selatan Pulau Lombok itu bergema melalui siaran televisi, pemberitaan media, serta unggahan warganet yang mengikuti persaingan para pembalap.

Di tengah gemerlap perhelatan tersebut, perilaku warga yang menonton dari pohon menghadirkan sisi lain dari sebuah pesta olahraga. Di satu sisi, ada industri balap dengan teknologi canggih, sponsor besar, dan perputaran ekonomi. Di sisi lain, ada warga yang ingin ikut merasakan suasananya dengan cara yang sederhana.

Dua dunia itu bertemu di satu tempat, meskipun tidak selalu melalui pintu masuk yang sama.

Aksi tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat menemukan cara sendiri untuk mendekati sesuatu yang menarik perhatian mereka. Ketika akses menonton langsung membutuhkan biaya, kreativitas kadang muncul dalam bentuk yang tak terduga.

Tentu saja, tak ada alasan untuk serta-merta menganggap semua warga yang menonton dari pohon tidak mampu membeli tiket. Bisa jadi, ada beragam alasan di balik pilihan mereka. Foto yang beredar itu tidak cukup untuk menjelaskan keadaan ekonomi ataupun motif setiap orang yang berada di sana.

Namun, pemandangan tersebut mengingatkan bahwa antusiasme masyarakat tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan membeli akses terhadap sebuah hiburan.

Ada orang yang rela membayar mahal demi pengalaman eksklusif. Ada pula yang merasa cukup dengan melihat dari kejauhan, selama masih bisa menangkap sepotong kemeriahan yang sedang berlangsung.

Sebuah foto, banyak cerita

Di negeri ini, kejadian sederhana kerap menyimpan cerita yang panjang. Orang-orang bisa menemukan cara untuk menikmati keramaian, merayakan kemenangan, atau sekadar menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang kelak dikenang.

Di Mandalika, pohon yang biasanya menjadi peneduh berubah menjadi semacam tribun darurat. Dahan-dahannya menjadi tempat singgah bagi rasa ingin tahu, sementara lintasan di bawahnya menjadi panggung bagi para pembalap yang berlomba mengejar waktu.

Ada sisi jenaka dalam pemandangan itu. Namun, ada pula pelajaran tentang bagaimana sebuah peristiwa besar diterima oleh masyarakat di sekitarnya. MotoGP bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menyentuh garis finis, melainkan juga tentang bagaimana kemeriahannya menjalar ke luar sirkuit dan masuk ke dalam kehidupan warga.

Meski demikian, menonton dari pohon bukan tanpa risiko. Dahan bisa patah, pijakan dapat licin, dan posisi yang terlalu dekat dengan area berbahaya bisa mengancam keselamatan. Antusiasme semestinya tetap berjalan beriringan dengan kehati-hatian. Menikmati balapan tak perlu mengorbankan keselamatan diri.

Pada akhirnya, foto warga yang bertengger di atas pohon itu mungkin hanya menjadi satu dari sekian banyak potret yang lahir dari MotoGP Mandalika 2026. Para pembalap akan melanjutkan perjalanan mereka, hasil balapan akan tercatat dalam statistik, dan sorotan kamera akan berpindah ke peristiwa berikutnya.

Namun, cerita tentang warga yang memilih dahan pohon sebagai tempat menonton boleh jadi bertahan lebih lama dalam ingatan.

Sebab, tidak semua orang pulang dari sebuah perhelatan besar dengan membawa tiket, suvenir, atau foto bersama pembalap. Ada pula yang pulang dengan cerita sederhana: pernah menyaksikan motor balap kelas dunia melesat di depan mata, dari atas pohon, tanpa mengeluarkan uang untuk membeli tiket.

Di Mandalika, rupanya, kemeriahan tak selalu harus dibeli. Kadang, ia cukup dinikmati dari kejauhan—asal tahu di mana harus mencari tempat untuk melihatnya.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments