Oleh : Wening Danutirta
LESINDO.COM – Ada orang yang datang ketika hidupnya sedang terjepit. Suaranya terdengar pelan, wajahnya menyimpan kecemasan, dan kata-katanya dipenuhi harapan. Ia bercerita tentang kebutuhan yang mendesak, kesulitan yang belum menemukan jalan keluar, atau sesuatu yang harus segera diselesaikan. Pada saat seperti itu, bantuan menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Saya tahu rasanya berada di posisi itu. Karena pernah melewati masa-masa sulit, saya memahami bahwa kesulitan bukan semata-mata perkara tidak memiliki uang atau barang. Ada perasaan terdesak, kebingungan mencari jalan keluar, dan kekecewaan ketika harus menghadapi semuanya seorang diri.
Itulah sebabnya, ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, saya berusaha membantu sebisanya.
Bukan karena saya selalu memiliki kelebihan. Bukan pula karena hidup saya sudah mapan dan semua kebutuhan telah terpenuhi. Saya membantu justru karena tahu bagaimana rasanya membutuhkan pertolongan, tetapi tidak seorang pun datang mengulurkan tangan.
Pengalaman menjadi orang yang pernah kesulitan membuat saya lebih mudah memahami kesulitan orang lain.
Ketika saya meminjamkan sesuatu, bukan berarti saya sedang memiliki banyak. Ada kalanya saya sendiri harus berhitung, mempertimbangkan kebutuhan, dan mengukur kemampuan. Namun, pengalaman pernah berada dalam keadaan kekurangan mengajarkan satu hal: jangan buru-buru menutup pintu bagi orang yang sedang berusaha mencari jalan keluar.
Saya pernah melewati fase itu. Tidak semuanya mudah. Ada hari-hari ketika keadaan harus diterima dengan lapang dada, masalah diselesaikan satu per satu, dan keluhan ditahan agar tidak menghabiskan tenaga yang tersisa. Hidup mengajarkan bahwa tidak setiap kesulitan membutuhkan banyak kata. Sebagian harus dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan keyakinan bahwa keadaan tidak selamanya akan seperti itu.
Dari pengalaman tersebut, tumbuh keinginan sederhana: jika suatu hari saya mampu meringankan beban orang lain, mengapa harus menunggu sampai hidup saya benar-benar berlebih?
Tetapi kehidupan memiliki sisi lain yang tidak selalu menyenangkan.
Ada orang yang datang dengan wajah penuh harap, kemudian menghilang setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan. Ketika meminta bantuan, hubungan terasa dekat. Pesan datang silih berganti, percakapan berlangsung akrab, dan janji untuk mengembalikan pinjaman terdengar meyakinkan.
Namun, setelah urusannya selesai, semuanya berubah. Pesan tidak lagi berbalas. Telepon tak kunjung diangkat. Kabar yang dahulu mudah didapat mendadak menjadi sesuatu yang sulit ditemukan.
Seolah-olah hubungan yang pernah terjalin hanya diperlukan selama ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
Uang atau barang yang dipinjam mungkin tidak seberapa nilainya. Yang lebih terasa justru hilangnya kepercayaan. Sebab, ketika seseorang datang meminta bantuan, yang diberikan bukan hanya sesuatu yang dibutuhkan, melainkan juga kepercayaan bahwa ia akan menjaga amanah tersebut.
Saya tidak selalu terkejut menghadapi keadaan seperti itu. Saya tahu kepada siapa saya memberikan bantuan dan memahami bahwa setiap orang memiliki watak serta cara sendiri dalam menghadapi tanggung jawab. Bahkan, ketika seseorang tidak mengembalikan apa yang dipinjam, dalam hati saya berusaha mengikhlaskannya sejak awal.
Bukan karena saya kaya. Bukan pula karena kehilangan tidak berarti apa-apa.
Saya hanya tidak ingin sesuatu yang nilainya bisa dihitung dengan uang berubah menjadi beban pikiran yang berkepanjangan. Ada hal-hal yang lebih mahal daripada sejumlah uang: ketenangan batin, kesehatan, dan kemampuan menjalani hari tanpa terus-menerus dikuasai kekecewaan.
Namun, ikhlas bukan berarti membenarkan tindakan mengingkari janji. Pinjaman tetaplah amanah. Mengembalikan sesuatu yang dipinjam adalah tanggung jawab, bukan sekadar pilihan ketika hubungan masih dekat.
Dalam keyakinan saya, kehidupan tidak berhenti pada urusan dunia. Ada pertanggungjawaban yang kelak harus dihadapi setiap manusia. Apa yang hari ini dianggap sepele, termasuk hak orang lain yang belum ditunaikan, bukan berarti kehilangan nilainya di hadapan Tuhan.
Saya justru merasa kasihan ketika seseorang memilih menghilang hanya untuk menghindari kewajibannya sendiri. Ia mungkin berhasil menghindari percakapan yang tidak menyenangkan, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan yang sesungguhnya.

