Oleh : Kinanti
LESINDO.COM – Hidup bukan perlombaan untuk mengetahui siapa yang paling cepat selesai. Ada ujian yang harus dituntaskan dengan air mata, ada yang memerlukan kesabaran panjang, dan ada pula yang jawabannya baru kita pahami setelah bertahun-tahun berlalu.
Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah, ada satu kalimat yang selalu terdengar menjelang akhir ujian kenaikan kelas. Pak guru biasanya berdiri di depan kelas, memperhatikan murid-murid yang masih sibuk menunduk di atas lembar jawaban.
“Yang sudah selesai mengerjakan soal, silakan keluar. Sudah boleh pulang.”
Kalimat sederhana itu terasa biasa saja. Siapa yang sudah selesai, boleh pulang. Siapa yang belum, harus tetap duduk, membaca kembali soal, memeriksa jawaban, atau berusaha menyelesaikan pertanyaan yang masih kosong.
Saat itu, mungkin tak pernah terbayangkan bahwa suasana ruang ujian tersebut kelak bisa menjadi perumpamaan tentang kehidupan.
Bukankah kita semua sedang mengerjakan ujian masing-masing?
Bedanya, ujian kehidupan tidak dibatasi oleh bel sekolah, tidak selalu memiliki jadwal yang pasti, dan tidak menyediakan lembar jawaban yang bisa kita lihat kunci kebenarannya. Kita tidak pernah benar-benar tahu berapa lama waktu yang tersisa, soal apa yang akan muncul berikutnya, atau kapan perjalanan ini dinyatakan selesai.
Suatu hari, ketika waktu kita di dunia telah berakhir, kita akan kembali kepada Sang Pencipta. Seperti murid yang meninggalkan ruang ujian, kita pun akan meninggalkan kehidupan dengan segala cerita, perjuangan, dan tanggungan yang pernah menyertainya.
Namun, selama napas masih berembus, barangkali masih ada sesuatu yang harus kita pelajari, perbaiki, tunaikan, atau selesaikan.
Ketika Ujian Orang Lain Terlihat Lebih Ringan
Ada masa ketika seseorang merasa lelah bukan hanya karena beratnya persoalan yang dihadapi, melainkan juga karena melihat kehidupan orang lain tampak jauh lebih mudah.
Kita melihat seseorang yang usahanya berkembang, keluarganya terlihat harmonis, pekerjaannya mapan, anak-anaknya tumbuh sesuai harapan, dan hidupnya seolah berjalan tanpa banyak hambatan. Sementara itu, kita sendiri masih berjuang membayar kebutuhan rumah tangga, menghadapi persoalan keluarga, mencari pekerjaan, merawat orang sakit, atau menata kembali kehidupan yang berantakan.
Dalam keadaan seperti itu, sangat manusiawi jika sesekali muncul pertanyaan, “Mengapa ujian saya terasa begitu berat, sementara orang lain sepertinya baik-baik saja?”
Tetapi, bukankah yang kita lihat sering kali hanya bagian luar kehidupan seseorang?
Kita menyaksikan senyumnya, tetapi tidak mengetahui berapa banyak air mata yang ditahannya sendirian. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak menyaksikan malam-malam panjang ketika ia hampir menyerah. Kita melihat rumah tangganya yang tampak bahagia, tetapi tidak mengetahui percakapan-percakapan sunyi yang harus mereka lalui untuk mempertahankannya.
Setiap orang memiliki ruang ujian sendiri. Soalnya berbeda, waktunya berbeda, dan kemampuan yang harus dipelajarinya pun tidak selalu sama.
Ada yang diuji dengan kekurangan harta. Ada yang justru diuji ketika hartanya melimpah. Ada yang harus berjuang mendapatkan keturunan, sementara yang lain diuji dengan tanggung jawab membesarkan anak. Ada yang kehilangan orang tercinta, ada yang menghadapi penyakit, ada pula yang harus bertahan di tengah kesepian meskipun dikelilingi banyak orang.
Tidak semua kesulitan terlihat oleh mata. Tidak semua air mata jatuh di hadapan orang lain.
Karena itu, membandingkan beratnya ujian kita dengan kehidupan orang lain sering kali hanya membuat hati semakin lelah. Kita tidak mengetahui keseluruhan cerita mereka, sebagaimana orang lain pun tidak mengetahui seluruh perjuangan yang sedang kita jalani.
Tidak Semua Soal Memiliki Jawaban yang Cepat
Dalam ujian sekolah, soal yang sulit terkadang dapat dilewati terlebih dahulu. Kita mengerjakan soal yang lebih mudah, kemudian kembali pada pertanyaan yang belum terjawab.
Kehidupan pun kadang menuntut cara yang serupa.
Ada persoalan yang dapat diselesaikan dengan bekerja lebih keras. Ada yang memerlukan keberanian untuk meminta maaf. Ada yang mengharuskan kita mengubah kebiasaan buruk, menurunkan ego, atau belajar menerima sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.
Namun, ada pula persoalan yang tidak segera menemukan jalan keluar meskipun kita telah berusaha semampunya.
Kita sudah berdoa, tetapi keadaan belum berubah. Kita sudah bekerja keras, tetapi hasil belum sesuai harapan. Kita sudah menjaga hubungan baik, tetapi tetap disalahpahami. Kita berusaha menjadi orang baik, tetapi masih saja berhadapan dengan perlakuan yang menyakitkan.
Pada saat seperti itu, kesabaran bukan berarti berhenti berusaha. Ikhlas bukan berarti menyerah pada keadaan. Tawakal bukan berarti duduk diam menunggu pertolongan datang.
Kita tetap perlu mencari jalan keluar, meminta bantuan ketika diperlukan, memperbaiki kesalahan, dan menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Hanya saja, kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua hasil berada dalam kendali manusia.
Barangkali ada jawaban yang memang belum kita temukan. Barangkali ada pelajaran yang baru terasa setelah kita melewati masa sulit tersebut. Atau mungkin, sampai akhir hayat pun, kita tidak akan mengetahui seluruh alasan di balik sebuah peristiwa.
Tidak mengapa.
Manusia tidak harus memahami seluruh rahasia kehidupan untuk tetap melangkah dengan baik.

