LESINDO.COM – Foto lama itu menyimpan lebih dari sekadar kenangan. Di dalamnya tersimpan kisah tentang perjuangan, pengabdian, dan persaudaraan yang tumbuh melalui perjalanan panjang sebuah komunitas senam pernapasan.
Tiga sosok yang berdiri berdampingan dalam foto tersebut pernah menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Di sebelah kiri berdiri Bu De Febry, sosok yang dikenal hangat dan penuh perhatian. Di tengah adalah pelatih yang turut merintis dan mendampingi perjalanan komunitas tersebut. Sementara di sebelah kanan berdiri Bu De Yoso, yang lebih akrab dipanggil Bu De Sri Suwarsih, salah satu figur yang turut mewarnai perjalanan panjang latihan pernapasan dan terapi kesehatan tersebut.
Bagi orang luar, mungkin mereka hanya terlihat sebagai instruktur senam biasa. Namun bagi puluhan anggota yang sebagian besar merupakan para lansia, ibu-ibu dan bapak-bapak yang datang untuk menjaga kesehatan, mereka adalah sahabat, keluarga, sekaligus tempat berbagi harapan.
Perjalanan itu tidak dibangun dalam semalam. Pada masa awal perintisan, segala sesuatu dilakukan dengan penuh kesabaran. Mengenalkan senam pernapasan kepada masyarakat bukan perkara mudah. Banyak orang yang belum memahami manfaat latihan pernapasan, relaksasi, dan pengelolaan energi tubuh sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan diri.
Namun sedikit demi sedikit, kepercayaan mulai tumbuh. Anggota bertambah dari waktu ke waktu. Pada masa keemasannya, setiap sesi latihan mampu mengumpulkan sekitar 40 hingga 50 peserta. Mereka datang dengan beragam latar belakang dan keluhan kesehatan, tetapi pulang dengan semangat yang sama: merawat diri dan menjaga kebugaran bersama.
Latihan yang dilakukan bukan sekadar gerakan fisik. Napas menjadi inti dari setiap proses. Setiap tarikan dan hembusan napas dilatih dengan kesadaran penuh. Tubuh diajak bergerak secara perlahan, sementara pikiran diarahkan menuju ketenangan.
Di akhir latihan, ada sebuah tradisi yang hingga kini masih membekas dalam ingatan para anggotanya.
Masing-masing peserta membawa botol berisi air putih dari rumah. Botol-botol itu kemudian diletakkan di tengah lingkaran. Bersama-sama mereka melakukan konsentrasi, berdoa, dan mengarahkan energi positif menurut keyakinan dan metode yang mereka pelajari. Air tersebut kemudian dibawa pulang untuk diminum sendiri atau diberikan kepada anggota keluarga, kerabat, maupun tetangga yang sedang sakit.
Bagi mereka, kegiatan itu bukan sekadar ritual. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kepedulian terhadap sesama. Ada semangat untuk berbagi harapan, berbagi doa, dan menghadirkan ketenangan bagi orang lain yang sedang mengalami kesulitan.
Seperti perjalanan kehidupan pada umumnya, komunitas ini juga mengalami pasang surut. Ada masa-masa penuh perjuangan ketika jumlah peserta masih sedikit. Ada masa kejayaan ketika lapangan latihan dipenuhi anggota. Dan ada pula masa kejenuhan ketika kesibukan hidup, usia yang semakin bertambah, serta berbagai perubahan membuat sebagian orang tidak lagi aktif berlatih.
Namun waktu membuktikan bahwa manfaat terbesar yang mereka peroleh bukan hanya soal kesehatan fisik.
Yang tumbuh justru rasa kekeluargaan yang begitu kuat.
Hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat mereka tidak lagi sekadar teman latihan. Mereka menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain. Saling menjenguk ketika sakit, saling menguatkan ketika menghadapi persoalan hidup, dan saling mendoakan dalam setiap kesempatan.
Kini, sebagian dari perjalanan itu telah menjadi kenangan. Bu De Febry, sosok yang berdiri di sebelah kiri dalam foto tersebut, telah lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Kepergiannya meninggalkan duka sekaligus jejak kebaikan yang masih dikenang hingga hari ini. Senyum dan kebersamaannya mungkin telah berlalu bersama waktu, tetapi kenangan tentang dirinya tetap hidup dalam hati para sahabat seperjuangan.
Sementara Bu De Sri Suwarsih, yang akrab disapa Bu De Yoso, masih menjadi bagian dari kisah panjang yang terus dikenang. Namanya mengingatkan pada masa-masa ketika semangat belajar, berbagi, dan menjaga kesehatan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari komunitas tersebut.
Foto itu kini telah menjadi arsip perjalanan waktu. Sebagian orang yang ada di dalamnya telah menua, sebagian telah menempuh jalan hidup masing-masing, dan sebagian telah kembali kepada pemilik kehidupan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ilmu yang pernah dipelajari masih melekat hingga hari ini. Gerakan pernapasan mungkin sudah tidak dilakukan sesering dahulu, tetapi pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan, mengelola pikiran, dan hidup dalam kebersamaan tetap menjadi bekal yang berharga.
Pada akhirnya, perjalanan mencari ilmu tidak pernah sia-sia. Mungkin manfaatnya tidak selalu tampak seketika, tetapi ia akan tinggal dalam bentuk yang lebih dalam: kesehatan yang terjaga, persahabatan yang tumbuh, dan kenangan indah yang terus hidup meski waktu terus berjalan.
Sebab yang paling berharga dari sebuah perjalanan bukanlah berapa lama kita melangkah, melainkan siapa saja yang pernah berjalan bersama kita dan meninggalkan jejak kebaikan di sepanjang jalan itu. (Veb)

