spot_img
BerandaJelajah“Jejak Kaki di Pasir Goa Cemara: Cara Lansia Kartasura Merawat Bahagia”

“Jejak Kaki di Pasir Goa Cemara: Cara Lansia Kartasura Merawat Bahagia”

LESINDO.COM – Di bawah rindang cemara yang berjajar rapat di tepian selatan Pantai Goa Cemara, Minggu pagi, 17 Mei 2026, langkah-langkah kecil para perempuan lanjut usia terdengar pelan menyusuri pasir yang masih menyimpan kesejukan malam. Tidak ada aba-aba penuh tekanan. Tidak ada teriakan kompetisi. Yang terdengar justru gelak tawa, candaan sederhana, dan sapaan hangat yang mengalir akrab di antara mereka.

Hari itu, puluhan anggota Kelompok Dawis Anggrek, Pucangan RT 03 RW 13, Kartasura, menggelar kegiatan outbound tahunan—sebuah agenda sederhana yang selalu dinanti bersama Lingling Outbound Organizer. Bukan sekadar piknik, bukan pula hanya wisata rutin, melainkan ruang kecil untuk merayakan usia, menjaga kebugaran, dan memberi jeda dari rutinitas hidup yang tak pernah benar-benar berhenti.

Bagi sebagian orang, outbound mungkin identik dengan permainan penuh tantangan, aktivitas fisik yang menguras tenaga, atau agenda perusahaan yang sarat kompetisi. Namun di tangan ibu-ibu Dawis Anggrek, konsep itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih hangat: fun outbound, aktivitas ringan yang dirancang untuk kesehatan, kebersamaan, dan kebahagiaan.

Pantai Goa Cemara dipilih bukan tanpa alasan. Hamparan pasir lembut di bawah kaki justru menjadi “arena terapi” alami. Banyak peserta sengaja melepas alas kaki, membiarkan telapak mereka bersentuhan langsung dengan butiran pasir.

“Rasanya seperti dipijat,” ujar salah seorang peserta sambil tersenyum kecil, menjaga langkah agar tetap seimbang.

Outbound untuk lansia tidak berfokus pada kompetisi atau ketangkasan fisik yang ekstrem, melainkan pada kegembiraan, interaksi sosial, dan stimulasi motorik ringan. (mc)

Sensasi pasir yang menopang pijakan itu menjadi terapi motorik yang sederhana, namun bermakna. Di usia senja, menjaga keseimbangan tubuh adalah perkara penting. Langkah-langkah kecil di atas pasir membantu melatih otot kaki, koordinasi tubuh, sekaligus mengurangi risiko kehilangan keseimbangan.

Keunggulan lain tempat ini adalah deretan pohon cemara yang tumbuh rapat mengelilingi area. Meski matahari terus meninggi, suasana tetap teduh dan nyaman. Hingga kegiatan berakhir sekitar pukul 11.30 WIB, tak ada keluhan kepanasan. Semilir angin pantai berpadu dengan aroma laut dan daun cemara menciptakan suasana yang menenangkan.

Namun manfaat kegiatan ini tak berhenti pada aspek fisik.

Di tengah permainan memindahkan bola, menyusun strategi sederhana, hingga senam ringan bersama, para lansia itu sesungguhnya sedang merawat kesehatan mental mereka. Tawa yang pecah di sela permainan bukan sekadar ekspresi bahagia, melainkan bentuk pelepasan dari penat hidup sehari-hari.

Sebab sebagian dari mereka, meski usia terus bertambah, masih aktif bekerja di sektor nonformal. Ada yang tetap berjualan, membantu usaha keluarga, mengurus cucu, atau menjalani rutinitas rumah tangga tanpa jeda.

Karena itu, sehari keluar dari kampung, menikmati laut, bercengkerama dengan teman sebaya, menjadi kemewahan kecil yang nilainya sulit diukur.

“Kami ingin ibu-ibu tetap bisa menikmati masa tua dengan happy,” tutur Bu Hindun salah satu pengurus kelompok.

Kalimat sederhana itu seperti merangkum seluruh makna kegiatan.

Bagi Kelompok Dawis Anggrek, kebahagiaan tidak selalu harus mahal. Tidak perlu perjalanan jauh, hotel mewah, atau agenda penuh formalitas. Cukup menabung bersama sedikit demi sedikit. Ketika dana dirasa cukup, mereka berangkat—mencari suasana baru, tertawa bersama, lalu pulang membawa cerita.

Kegiatan semacam ini biasanya digelar secara berkala, kurang lebih setahun sekali, atau menyesuaikan kesiapan tabungan kelompok. Destinasinya pun tak pernah terlalu jauh dari rumah, tetapi cukup untuk memberi jeda dari rutinitas.

Di usia ketika banyak orang mulai merasa sendiri, kehilangan ruang sosial, atau terjebak pada aktivitas domestik yang monoton, outbound sederhana seperti ini justru menjadi terapi holistik—menjaga tubuh tetap bergerak, pikiran tetap segar, dan hati tetap merasa memiliki teman seperjalanan.

Di bawah cemara-cemara pantai itu, para ibu Dawis Anggrek seakan membuktikan satu hal: menua bukan berarti berhenti bahagia. Menjadi lansia bukan berarti kehilangan semangat untuk menikmati hidup. Sebab usia boleh bertambah, tetapi tawa, rupanya, selalu punya cara untuk tetap muda. (Fai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments