spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Ketika Dakwah Terjebak dalam Gemerlap Dunia

Part 2 : Ketika Dakwah Terjebak dalam Gemerlap Dunia

Popularitas boleh bertambah. Rezeki boleh melimpah. Ilmu boleh semakin dalam. Namun, jangan sampai semua itu membuat kita lupa bahwa semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar pula ujian angin yang menerpanya.

Oleh : Lembah Manah

Ketika materi perlahan mengubah hati

LESINDO.COM – Godaan dunia tidak selalu datang dalam bentuk yang kasar. Ia bisa hadir melalui sesuatu yang tampak wajar: penghargaan, fasilitas, kendaraan, kemewahan, dan pujian.

Seseorang mungkin memulai perjalanan dakwah dengan niat tulus untuk berbagi ilmu. Ia mendatangi kampung-kampung, berbicara di masjid sederhana, dan menyampaikan nasihat tanpa banyak memikirkan imbalan. Namun, seiring bertambahnya popularitas, kehidupan berubah. Undangan semakin banyak, honor semakin tinggi, dan fasilitas semakin berlimpah.

Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras. Memiliki rumah yang layak, kendaraan yang nyaman, atau kehidupan yang berkecukupan bukanlah sesuatu yang harus dicurigai. Kemewahan pun tidak dengan sendirinya menjadi bukti buruknya akhlak seseorang.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika kekayaan mulai mengubah cara seseorang memperlakukan orang lain.

Ucapan yang dahulu menyejukkan berubah menjadi keras dan merendahkan. Jamaah yang datang dengan keterbatasan ekonomi dipandang sebelah mata. Orang yang berbeda pendapat dianggap tidak memahami agama. Nasihat tentang kesederhanaan disampaikan dengan gaya hidup yang justru semakin jauh dari nilai yang diajarkan.

Perubahan seperti ini tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, sering kali tanpa disadari oleh orang yang mengalaminya.

Dalam tradisi Jawa, ada ungkapan aja dumeh—jangan mentang-mentang. Jangan mentang-mentang berilmu, merasa paling benar. Jangan mentang-mentang terkenal, merasa lebih tinggi. Jangan mentang-mentang memiliki banyak pengikut, menganggap orang lain tidak berarti.

Sebab, ilmu yang tidak disertai kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan. Popularitas yang tidak disertai pengendalian diri dapat menjadi jebakan. Dan kekayaan yang tidak disertai rasa syukur dapat membuat seseorang lupa kepada mereka yang dahulu berjalan bersamanya.

Menilai dengan jernih, bukan menghakimi

Sesekali kita menyaksikan pendakwah menjadi perbincangan publik karena ucapan atau tindakannya. Ada yang dianggap merendahkan orang lain, ada yang dipersoalkan gaya hidupnya, dan ada pula yang menuai kritik karena persoalan honorarium.

Dalam menghadapi fenomena seperti ini, masyarakat perlu bersikap bijaksana. Tidak setiap pendakwah yang menerima bayaran berarti menjual agama. Tidak setiap orang yang memiliki kendaraan mewah berarti kehilangan keikhlasan. Kita tidak memiliki kewenangan untuk memastikan isi hati seseorang.

Namun, masyarakat juga tidak harus menutup mata terhadap perilaku yang nyata-nyata bertentangan dengan nilai yang disampaikan.

Dakwah bukan sekadar rangkaian kata-kata indah di atas panggung. Ia juga tercermin dalam cara seseorang berbicara kepada orang kecil, memperlakukan orang yang berbeda pendapat, dan menjalani kehidupan ketika tidak ada kamera yang merekam.

Keikhlasan memang tidak dapat diukur hanya dari penampilan. Akan tetapi, keselarasan antara ucapan dan tindakan tetap menjadi sesuatu yang layak diperhatikan.

Masyarakat berhak memilih siapa yang akan dijadikan panutan. Kita dapat menghargai ilmu seseorang tanpa harus meniru seluruh gaya hidupnya. Kita dapat mengambil nasihat yang baik tanpa menutup mata terhadap kekurangan penyampainya.

Pada akhirnya, ukuran seorang pendakwah bukan hanya seberapa banyak jamaah yang hadir, seberapa tinggi honor yang diterima, atau seberapa mewah kendaraan yang dikendarai. Lebih penting dari itu adalah seberapa jauh ilmu dan kehadirannya membawa manfaat, menumbuhkan akhlak, serta mendekatkan manusia kepada kebaikan.

Sedikit yang dibawa, ringan yang dipertanggungjawabkan

Kembali kepada ibu dan anak di depan kasir swalayan.

Keranjang kecil mereka mungkin tidak menarik perhatian. Mereka tidak membawa pulang banyak barang. Namun, ketika tiba giliran membayar, urusannya selesai lebih cepat. Tidak banyak yang harus diperiksa, tidak banyak yang harus dihitung.

Kehidupan pun demikian. Kita sering menghabiskan waktu untuk mengumpulkan sesuatu yang kelak harus kita jelaskan kembali: dari mana diperoleh, bagaimana digunakan, dan apakah ada hak orang lain yang terabaikan.

Dalam Islam, kekayaan bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Harta dapat menjadi jalan kebaikan ketika diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan untuk kemaslahatan. Tetapi harta juga dapat menjadi beban ketika membuat manusia lupa pada batas, tanggung jawab, dan tujuan hidupnya.

Mungkin itulah sebabnya sebagian orang memilih hidup sederhana, bukan karena tidak mampu memiliki lebih banyak, melainkan karena memahami bahwa setiap tambahan kepemilikan membawa tambahan tanggung jawab.

Menjadi orang biasa-biasa saja bukan berarti tidak memiliki cita-cita. Bisa jadi, itu merupakan pilihan sadar untuk menjaga hati tetap lapang, langkah tetap ringan, dan kehidupan tidak terlalu rumit oleh urusan dunia.

Sebab, pada akhirnya, yang akan dibawa pulang bukanlah deretan kendaraan, banyaknya pengikut, atau panjangnya daftar undangan. Yang tersisa adalah amal, akhlak, dan pertanggungjawaban atas segala yang pernah dipercayakan kepada kita.

Popularitas boleh bertambah. Rezeki boleh melimpah. Ilmu boleh semakin dalam. Namun, jangan sampai semua itu membuat kita lupa bahwa semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar pula ujian angin yang menerpanya.

Dan mungkin, kebijaksanaan terbesar bukanlah tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa mampu kita menjaga diri agar tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments