spot_img
BerandaJelajahjelajahJangan Menjadi Pemuja, Kita Hanya Penonton yang Terlalu Bersemangat

Jangan Menjadi Pemuja, Kita Hanya Penonton yang Terlalu Bersemangat

Presiden boleh berganti. Menteri bisa berganti. Partai bisa berpindah koalisi. Orang-orang yang kemarin saling serang di panggung politik, hari ini bisa duduk semeja sambil tersenyum dan berfoto bersama.

Oleh: Hibban M

LESINDO.COM – Ada seorang teman yang dulu begitu bersemangat setiap kali kontestasi pemilihan presiden tiba. Media sosialnya mendadak berubah menjadi markas pemenangan. Hampir setiap hari ada saja unggahan tentang jagoannya. Dipuji setinggi langit, seolah-olah tidak memiliki satu pun kekurangan. Sebaliknya, lawan politiknya diperlakukan seperti orang yang tidak memiliki sedikit pun kebaikan.

Kalau membaca unggahannya, rasanya negeri ini akan segera berubah menjadi surga begitu jagoannya dilantik. Semua persoalan bangsa seolah sudah ditemukan obatnya. Tinggal menunggu hari pencoblosan.

Saya kadang tersenyum sendiri. Bukan karena tidak boleh memiliki pilihan politik, tetapi karena melihat semangatnya yang begitu menggebu-gebu. Sampai-sampai saya bertanya dalam hati, sebenarnya apa yang sedang diperjuangkan? Masa depan bangsa, masa depan sang kandidat, atau jangan-jangan masa depan dirinya sendiri?

Kalau memang menjadi bagian dari tim pemenangan, masuk lingkaran pertama atau kedua, barangkali masih bisa dipahami. Setidaknya ada kemungkinan memperoleh pekerjaan, jaringan, koneksi, atau kesempatan ekonomi ketika jagoannya menang. Ada hitung-hitungan pragmatis di sana. Kalah mungkin kecewa, tetapi setidaknya pernah ikut bermain di lapangan.

Namun, teman saya ini bukan bagian dari lingkaran itu. Bukan tim sukses, bukan orang partai, apalagi calon pejabat. Ia hanya warga biasa yang tampaknya terlalu larut dalam euforia politik. Hidupnya sendiri, kalau boleh jujur, masih harus berjuang dari hari ke hari.

Saya tidak sedang merendahkan keadaan ekonominya. Sebab, hidup sederhana bukan dosa, dan menjadi orang biasa bukanlah sebuah kekurangan. Yang membuat saya tersenyum justru ketidakseimbangan antara semangat membela tokoh dengan kemampuan mengurus kehidupan sendiri.

Dulu kami pernah berada dalam satu lingkungan pekerjaan. Saya cukup mengenal perangainya. Dalam bahasa Jawa, ada istilah kementhus: merasa lebih hebat, lebih tahu, dan lebih mampu daripada kenyataan yang terlihat. Kadang orang seperti ini tidak kekurangan keyakinan, hanya saja keyakinannya terlalu besar dibandingkan kapasitas yang sedang dimiliki.

Belakangan ia merantau ke luar Jawa, barangkali berharap menemukan peruntungan baru. Namun, rupanya pindah tempat tidak otomatis memindahkan watak. Nasib boleh dicari ke mana-mana, tetapi kalau cara membawa diri tidak berubah, persoalan lama bisa ikut pindah bersama koper.

Kini, setelah hiruk-pikuk kontestasi itu berlalu, suara lantangnya juga menghilang. Media sosial yang dahulu penuh semangat perjuangan mendadak sepi. Entah sedang sibuk mengurus kehidupan, sedang kecewa, atau memang sudah selesai menjadi relawan tidak resmi.

Saya tidak tahu.

Tetapi dari situ saya belajar satu hal: jangan sampai energi kita habis untuk memenangkan orang lain, sementara kehidupan sendiri tidak pernah benar-benar kita menangkan.

Politik dan Kebutuhan Memperbaiki Diri

Kita memang warga negara yang memiliki hak memilih. Boleh menyukai calon tertentu, boleh mengkritik pemerintah, boleh pula berbeda pandangan. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang kritis, bukan masyarakat yang kehilangan akal sehat karena fanatisme.

Tetapi kita juga perlu tahu posisi.

Kalau bukan bagian dari tim pemenangan, bukan orang yang memiliki kepentingan langsung, dan tidak memperoleh manfaat apa pun selain kepuasan membela jagoan, mengapa harus sampai bermusuhan dengan tetangga, saudara, bahkan teman sendiri?

Presiden boleh berganti. Menteri bisa berganti. Partai bisa berpindah koalisi. Orang-orang yang kemarin saling serang di panggung politik, hari ini bisa duduk semeja sambil tersenyum dan berfoto bersama.

Sementara kita?

Masih sibuk mengingat siapa yang dahulu berbeda pilihan. Bahkan mungkin masih menyimpan tangkapan layar unggahan orang lain untuk dijadikan bahan perdebatan.

Lucunya, para elite yang dahulu kita bela mati-matian bisa saja sudah saling bersalaman. Kita yang berada di bawah masih sibuk mempertahankan permusuhan.

Mereka sudah berdamai, kita masih perang.

Mereka sudah berbagi panggung, kita masih berbagi umpatan.

Barangkali ada baiknya kita sesekali bercermin. Sebelum terlalu sibuk mengurusi siapa yang pantas memimpin negeri, pastikan dulu kehidupan sendiri tidak berantakan. Perbaiki pekerjaan, ekonomi keluarga, hubungan sosial, dan kualitas diri.

Bukan berarti orang yang ekonominya belum mapan tidak boleh bicara politik. Tentu saja boleh. Hak politik bukan hak istimewa orang kaya. Namun, jangan sampai politik menjadi pelarian dari persoalan pribadi yang sebenarnya lebih mendesak untuk diselesaikan.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments