Oleh : Goes Mic
LESINDO.COM – Kisah Rasulullah SAW ketika berdakwah di Thaif memberikan pelajaran yang sangat dalam tentang bagaimana menghadapi penolakan dan perlakuan buruk. Dalam perjalanan dakwah tersebut, Rasulullah mengalami penolakan keras. Beliau dihina, diusir, bahkan dilempari batu hingga mengalami luka. Dalam keadaan demikian, Malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga gunung dan menawarkan kemungkinan untuk membinasakan penduduk Thaif.
Namun, Rasulullah tidak memilih pembalasan.
Beliau justru berharap agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.
Sebuah jawaban yang memperlihatkan keluasan jiwa seorang manusia pilihan.
Bayangkan, seseorang yang tubuhnya terluka justru masih mampu memikirkan kebaikan bagi orang-orang yang melukainya. Beliau tidak menyangkal rasa sakit, tetapi tidak membiarkan rasa sakit itu berubah menjadi kebencian yang menguasai hatinya.
Di sinilah pelajaran spiritualnya.
Kalau seseorang yang telah menyakiti kita masih bisa kita perlakukan dengan baik, setidaknya jangan sampai kita menjadikan luka sebagai alasan untuk melukai orang lain.
Kita mungkin tidak mampu menyamai kemuliaan akhlak Rasulullah. Namun, kita bisa belajar dari keteladanan beliau: bahwa kesabaran bukan berarti tidak merasakan sakit, melainkan tidak menjadikan rasa sakit sebagai alasan untuk berbuat zalim.
Jangan buru-buru menyebutnya pencitraan
Di sisi lain, ada pertanyaan yang mungkin muncul dari orang-orang yang menyaksikan dua pihak yang sedang bermusuhan tetapi masih berjabat tangan.
Apakah itu ketulusan atau sekadar pencitraan?
Apakah seseorang benar-benar telah memaafkan, atau hanya sedang membangun kesan baik di hadapan orang lain?
Pertanyaan seperti itu manusiawi. Sebab, tidak semua sikap santun lahir dari hati yang tulus. Ada pula keramahan yang digunakan untuk memperoleh simpati, membangun citra, atau menyembunyikan maksud tertentu.
Dalam kehidupan sosial, kita memang perlu berhati-hati. Jangan mudah menilai seseorang hanya dari satu adegan. Sebuah jabat tangan tidak otomatis membuktikan kemuliaan jiwa, sebagaimana wajah yang tampak dingin tidak selalu menunjukkan kebencian.
Ketulusan tidak cukup dinilai dari satu peristiwa. Ia membutuhkan konsistensi sikap, kejujuran, dan waktu.
Karena itu, kita tidak perlu tergesa-gesa mengagungkan seseorang yang berjabat tangan dengan lawannya. Namun, kita juga tidak sepatutnya langsung menuduhnya sedang berpura-pura.
Biarlah perilaku berikutnya yang menjelaskan.
Kesadaran juga berarti tidak mudah menghakimi orang lain hanya berdasarkan prasangka kita sendiri.
Hukum alam bukan alasan untuk membalas
Ada keyakinan yang hidup dalam masyarakat bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Dalam tradisi Jawa dikenal ungkapan ngunduh wohing pakarti, siapa menanam, dialah yang akan memetik buahnya.
Dalam ajaran Islam pun terdapat prinsip bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah.
Namun, memahami hukum sebab-akibat bukan berarti kita harus menunggu kehancuran orang yang pernah menyakiti kita. Apalagi merasa memiliki hak untuk menjadi pelaksana pembalasan atas nama semesta.
Urusan keadilan bukanlah milik ego pribadi.
Jika ada penghinaan, fitnah, atau tindakan yang melanggar hukum, selesaikan melalui jalan yang benar. Jika ada hak yang dirampas, perjuangkan dengan cara yang dibenarkan. Jika ada hubungan yang tidak sehat, buatlah batas agar luka yang sama tidak terus berulang.
Kita tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan hanya karena merasa alam semesta kelak akan memberikan balasan.
Sebab, kesadaran tertinggi justru mengajarkan manusia untuk berhenti menambah luka, bukan sibuk membayangkan luka yang akan diterima orang lain.
Pada akhirnya, yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri
Mungkin inilah bagian paling berat dalam perjalanan manusia: tetap mampu bersikap baik kepada seseorang yang pernah membuat hidupnya tidak baik-baik saja.
Bukan karena ia tidak memiliki harga diri. Bukan karena ia takut menghadapi persoalan. Bukan pula karena seluruh luka telah sembuh.
Melainkan karena ia mulai memahami bahwa martabat dirinya tidak boleh ditentukan oleh perilaku buruk orang lain.
Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan menang tanpa ngasorake, menang tanpa merendahkan. Sebuah sikap yang tidak menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk mempermalukan orang lain.
Orang yang memiliki kesadaran tidak selalu ingin menjadi pemenang dalam pandangan manusia. Ia lebih sibuk memastikan agar dirinya tidak kehilangan adab ketika sedang memperjuangkan kebenaran.
Barangkali suatu hari kita akan berdiri berhadapan dengan seseorang yang pernah mencaci, merendahkan, bahkan melukai keluarga kita. Kita mungkin masih mengingat semuanya. Hati belum tentu sepenuhnya pulih. Namun, ketika kesempatan untuk berjabat tangan datang, kita masih memiliki pilihan untuk tidak menurunkan martabat diri sendiri.
Sebab, tangan yang terulur tidak selalu menandakan bahwa permusuhan telah selesai. Kadang, ia hanya menjadi tanda bahwa seseorang tidak ingin meneruskan kebencian.
Pada akhirnya, ilmu kesadaran bukan tentang seberapa tinggi seseorang mampu berbicara mengenai kesabaran, keikhlasan, dan spiritualitas. Ilmu itu justru diuji ketika ia berdiri di hadapan orang yang pernah menyakitinya, sementara hatinya masih menyimpan luka.
Di situlah kualitas jiwa menemukan ukurannya.
Bukan ketika kita menghormati orang yang menyayangi kita, melainkan ketika kita tetap mampu menjaga kehormatan diri di hadapan orang yang pernah merendahkan kita.
Karena sesungguhnya, salah satu kemenangan terbesar manusia bukanlah ketika berhasil mengalahkan musuhnya, melainkan ketika ia berhasil mengalahkan keinginan dalam dirinya untuk menjadi serupa dengan orang yang telah menyakitinya.

