spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Menjadi Pribadi Merdeka: Kalah Menang Boleh, Menghujat Jangan

Part 1 : Menjadi Pribadi Merdeka: Kalah Menang Boleh, Menghujat Jangan

Di ruang digital, ada fenomena menarik tentang orang-orang yang aktif menyuarakan kepentingan tertentu.

LESINDO.COM – Kemerdekaan seseorang tidak hanya diukur dari keberaniannya menyampaikan pendapat, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan emosi, menahan diri dari kebencian, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Ada orang yang pagi harinya masih biasa saja, tetapi berubah menjadi begitu bersemangat ketika kelompok yang didukungnya kalah dalam sebuah pertandingan. Jemarinya bergerak cepat di atas layar telepon genggam. Satu demi satu komentar ditulis. Kata-kata kasar dilontarkan, tuduhan disebarkan, bahkan orang-orang yang tidak dikenalnya ikut menjadi sasaran hujatan.

Ia merasa sedang membela sesuatu. Merasa sedang memperjuangkan kebenaran. Padahal, belum tentu ia mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.

Informasi yang diterimanya hanya potongan cerita dari beranda media sosial, percakapan orang lain, atau produk jurnalistik yang belum tentu memenuhi prinsip keberimbangan. Ia tidak mengenal langsung orang yang dihujatnya. Tidak mengetahui fakta secara utuh. Namun, keyakinannya sudah telanjur bulat, seolah-olah seluruh kebenaran berada di tangannya.

Di situlah persoalannya bermula: ketika seseorang kehilangan kemerdekaan berpikir karena terlalu dikuasai suasana.

Terperangkap dalam Fanatisme

Menjadi pribadi merdeka bukan berarti tidak boleh memiliki pilihan, keberpihakan, atau kelompok yang didukung. Setiap orang mempunyai hak untuk menentukan sikap. Dalam pertandingan, kompetisi, maupun kontestasi apa pun, mendukung salah satu pihak adalah sesuatu yang lumrah.

Namun, dukungan yang sehat seharusnya tidak menghilangkan akal sehat.

Kemenangan dan kekalahan merupakan dua kemungkinan yang selalu hadir dalam sebuah pertandingan. Tidak ada pihak yang selamanya berada di atas. Hari ini menang, besok bisa kalah. Hari ini dielu-elukan, esok mungkin harus menerima kritik.

Sayangnya, tidak semua orang mampu menerima kenyataan tersebut.

Ketika kelompoknya menang, ia merasa paling benar. Ketika kelompoknya kalah, ia sibuk mencari kesalahan pihak lain. Tuduhan kecurangan menjadi jalan pintas untuk menjelaskan kekalahan, bahkan sebelum bukti dan data diperiksa.

Padahal, kekalahan semestinya menjadi ruang evaluasi. Apa yang kurang? Strategi mana yang tidak berjalan? Di bagian mana kelemahan terjadi?

Menyalahkan keadaan memang lebih mudah daripada mengakui kekurangan diri sendiri.

Dalam kompetisi, dugaan kecurangan tentu tidak boleh diabaikan. Tetapi tuduhan harus dibangun di atas bukti, bukan sekadar kekecewaan. Tanpa data, tuduhan hanya menjadi perpanjangan emosi. Bahkan, ketika fakta sudah tersedia, masih diperlukan keberanian untuk mengujinya secara jernih.

Tidak setiap kekalahan merupakan akibat kecurangan. Tidak setiap kemenangan otomatis membuktikan bahwa pihak yang menang sepenuhnya benar.

Menjadi Buzzer atau Menjadi Budak Emosi?

Di ruang digital, ada fenomena menarik tentang orang-orang yang aktif menyuarakan kepentingan tertentu. Sebagian bekerja dengan tujuan yang jelas, termasuk kepentingan materi. Mereka memproduksi narasi, membangun opini, dan mengarahkan percakapan sesuai kepentingan yang dibawanya.

Jika seseorang memang menjadikan aktivitas tersebut sebagai pekerjaan, setidaknya ia mengetahui tujuan dan konsekuensi pilihannya. Ada kepentingan yang sedang diperjuangkan, ada imbalan yang mungkin diterima, dan ada tanggung jawab yang harus ditanggung.

Namun, persoalan menjadi lebih rumit ketika seseorang ikut menjadi penyebar kebencian tanpa memperoleh apa pun.

Tidak mendapatkan materi, tidak mengenal secara pribadi orang yang diserang, bahkan belum tentu memahami persoalan yang sedang dibicarakan. Ia hanya larut dalam arus kebencian kelompoknya.

Lebih jauh, ia rela menghabiskan waktu untuk mencaci, menghina, menghakimi, dan menyebarkan tuduhan. Seolah-olah harga dirinya bergantung pada kemampuan menjatuhkan pihak yang tidak disukainya.

Pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya diperoleh dari semua itu?

Apakah kehidupannya menjadi lebih baik? Apakah pengetahuannya bertambah? Apakah martabatnya meningkat?

Atau justru sebaliknya, ia semakin jauh dari kematangan berpikir karena membiarkan dirinya dikendalikan oleh emosi kolektif?

Menjadi pribadi merdeka berarti tidak mudah diperalat oleh suasana. Tidak setiap isu harus ditanggapi. Tidak setiap provokasi harus dibalas. Tidak setiap perbedaan harus dijadikan pertarungan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments