Oleh : R. Riana
LESINDO.COM – Hidup rupanya tidak pernah benar-benar menetap. Ada yang datang, kemudian pergi. Ada yang sempat dimiliki, lalu harus direlakan. Ada hari ketika hati dipenuhi kegembiraan, tetapi ada pula waktu ketika kesedihan datang tanpa mengetuk pintu.
Barangkali memang demikian siklus kehidupan. Awal dan akhir hanyalah bagian dari sebuah perjalanan. Memiliki dan kehilangan adalah dua sisi yang tak mungkin dipisahkan. Begitu pula datang dan pergi, yang sejak awal telah menjadi fitrah manusia.
Tidak ada kesedihan yang benar-benar abadi. Begitu pula kegembiraan. Keduanya datang silih berganti, seperti pagi yang perlahan digantikan senja. Manusia hanya menjalani bagian yang sedang dipercayakan kepadanya.
Pada titik tertentu, seseorang akan belajar bahwa tidak semua hal harus dipertahankan. Ada yang memang harus dilepaskan, bukan karena tidak berharga, melainkan karena waktunya telah selesai.
Di situlah keikhlasan menemukan maknanya.
Menerima bukan berarti menyerah. Sabar juga bukan berarti berhenti berusaha. Keduanya adalah cara manusia berdamai dengan sesuatu yang berada di luar kuasanya, setelah seluruh ikhtiar dilakukan.
Mungkin kita sering keliru membaca kasih sayang Tuhan. Kita mengira cinta-Nya selalu hadir dalam bentuk kelimpahan: rumah yang besar, harta yang cukup, pekerjaan yang mapan, atau kehidupan tanpa kekurangan.
Padahal, bisa jadi kasih sayang itu justru hadir dalam bentuk yang sederhana.
Hidup yang tidak berlebihan membuat seseorang lebih mudah mengenali mana kebutuhan dan mana keinginan. Kesederhanaan kadang membuat langkah lebih ringan, hati lebih lapang, dan tidur lebih nyenyak. Tidak banyak yang harus dikejar, tidak banyak pula yang harus ditakutkan kehilangan.
Begitu pula dengan sakit.
Tidak semua orang diberi tubuh yang selalu sehat. Ada masa ketika tubuh melemah, langkah tidak lagi seleluasa dulu, dan rasa sakit datang membawa manusia pada ruang yang sunyi. Di sana, seseorang dipaksa berhenti sejenak dari kesibukan dunia.
Barangkali sakit bukan hanya tentang tubuh yang sedang tidak baik-baik saja. Ia bisa menjadi ruang untuk belajar menerima keterbatasan. Menjadi pengingat bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas dirinya sendiri.
Dalam kesunyian itu, kesabaran menemukan bentuknya yang paling nyata.
Seseorang mungkin baru memahami arti sehat setelah beberapa hari terbaring. Baru menyadari nikmat berjalan setelah langkah terasa berat. Baru merasakan betapa berharganya waktu bersama keluarga ketika tubuh tidak lagi mampu melakukan banyak hal seperti sebelumnya.
Karena itu, hidup barangkali bukan tentang bagaimana mendapatkan semua yang kita inginkan. Lebih dari itu, hidup adalah tentang bagaimana menerima apa yang telah ditetapkan, sembari tetap berusaha menjadi manusia yang lebih baik.
Ada rezeki yang datang dalam bentuk uang. Ada pula yang menjelma kesehatan, keluarga, teman yang tulus, waktu luang, kesempatan untuk berbuat baik, bahkan ketenangan hati.
Tidak semuanya terlihat, tetapi bukan berarti tidak berharga.
Pada akhirnya, manusia hanya sedang menjalani perjalanan pulang. Apa pun yang hari ini kita miliki, suatu ketika akan kembali kepada pemilik-Nya. Kita pun demikian.
Maka barangkali tugas kita tidak serumit yang sering dibayangkan: menjalani hari dengan sebaik-baiknya, menghadapi apa yang datang dengan kesabaran, dan melepaskan apa yang memang harus pergi dengan keikhlasan.
Sebab hidup bukan tentang memiliki segalanya.
Hidup adalah proses belajar yang tidak pernah selesai—belajar memahami makna kehidupan, mensyukuri yang masih tinggal, menerima apa yang ada, dan percaya bahwa di balik setiap kehilangan, kesederhanaan, bahkan rasa sakit, selalu ada pelajaran yang sedang dititipkan Tuhan kepada manusia.

