spot_img
BerandaJelajahBom Waktu yang Disimpan di Dalam Diri

Bom Waktu yang Disimpan di Dalam Diri

Manusia mungkin tidak dapat memilih keluarga tempat ia dilahirkan. Tidak dapat mengulang masa kecil. Tidak dapat menghapus semua peristiwa yang pernah terjadi.

Oleh : Lembah Manah

LESINDO.COM – Ada kemarahan yang meledak di luar diri. Ada pula kemarahan yang justru memilih diam, masuk semakin jauh ke dalam diri, lalu disimpan seperti sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Begitu pula dengan iri dan dendam.

Pada mulanya mungkin hanya sebuah perasaan kecil. Kecewa karena diperlakukan tidak adil. Sakit hati karena perkataan seseorang. Merasa kalah dibandingkan orang lain. Atau luka masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Waktu kemudian berjalan.

Orang itu tersenyum, bekerja, bercanda, menjalani kehidupan seperti biasa. Dari luar tidak ada yang tampak berbeda. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus disimpan.

Barangkali bukan bom yang benar-benar memiliki suara detak.

Tetapi ia menyerupai bom waktu: semakin lama dipendam tanpa disadari dan tanpa ruang untuk mengolahnya, semakin besar kemungkinan suatu saat meledak dalam bentuk yang tidak pernah direncanakan.

Ada orang yang ketika marah langsung meluapkannya. Suaranya meninggi, kata-katanya tajam, bahkan tindakannya bisa menjadi impulsif. Pada titik tertentu, pertimbangan tentang baik dan buruk dapat tersisih oleh dorongan untuk melampiaskan kemarahan.

“Yang penting keluar.”

Begitulah kira-kira cara kerja emosi yang sudah berada di ujung kendali.

Tetapi ada pula manusia dengan cara yang berbeda.

Ia diam.

Memilih mengalah.

Tidak ingin merepotkan orang lain.

Tidak ingin bercerita.

Tidak ingin dianggap lemah.

Setiap persoalan disimpan sendiri. Luka ditutup rapat. Kekecewaan ditelan. Kemarahan dipendam. Sampai akhirnya orang-orang di sekitarnya mengira ia baik-baik saja.

Padahal belum tentu.

Manusia mempunyai kemampuan untuk mengingat pengalaman emosional. Pengalaman masa lalu, terutama yang berulang dan berlangsung dalam lingkungan yang dekat, dapat membentuk cara seseorang memahami dirinya sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya.

Karena itu, masa kecil bukan sekadar halaman lama yang selesai dibaca.

Ia bisa menjadi bagian dari cara seseorang menjalani kehidupan ketika dewasa.

Anak yang tumbuh dalam keluarga penuh bentakan mungkin belajar bahwa kemarahan adalah cara menyelesaikan persoalan.

Anak yang terbiasa melihat konflik tanpa komunikasi mungkin tumbuh menjadi orang yang memilih diam ketika menghadapi masalah.

Sebaliknya, anak yang dibiasakan berbicara, didengarkan, dan diberi ruang untuk mengenali emosinya memiliki kesempatan belajar bahwa perasaan tidak harus selalu dilawan atau dilampiaskan.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.

Kita sering menilai seseorang hanya dari perilakunya ketika dewasa. Jarang bertanya, perjalanan seperti apa yang membentuknya?

Mengapa seseorang mudah tersinggung?

Mengapa seseorang sulit mempercayai orang lain?

Mengapa seseorang sangat sensitif terhadap penolakan?

Mengapa seseorang begitu mudah meledak?

Atau mengapa seseorang justru terlalu pandai menyembunyikan kesedihannya?

Setiap manusia membawa cerita masing-masing.

Ada masa kecil yang hangat. Ada pula masa kecil yang penuh ketegangan. Ada yang dibesarkan dengan pelukan dan percakapan. Ada yang lebih banyak mengenal bentakan daripada penjelasan.

Namun masa lalu tidak selalu harus menjadi vonis.

Kesadaran menjadi titik penting.

Manusia mungkin tidak dapat memilih keluarga tempat ia dilahirkan. Tidak dapat mengulang masa kecil. Tidak dapat menghapus semua peristiwa yang pernah terjadi.

Tetapi ketika dewasa, ia memiliki kesempatan untuk belajar mengenali dirinya sendiri.

Menyadari mengapa ia mudah marah.

Menyadari mengapa ia menyimpan dendam.

Menyadari mengapa keberhasilan orang lain terkadang membuat dirinya merasa kecil.

Menyadari mengapa sebuah perkataan sederhana dari orang lain bisa membuka kembali luka lama.

Kesadaran semacam itu bukan kelemahan.

Justru di situlah kedewasaan mulai tumbuh.

Sebab menyembuhkan diri bukan berarti membenarkan semua perilaku masa lalu. Bukan pula berarti menyalahkan orang tua, lingkungan, atau keadaan.

Menyembuhkan diri berarti berani mengatakan kepada diri sendiri: ada sesuatu dalam diriku yang perlu diselesaikan.

Kemarahan perlu dikenali.

Kekecewaan perlu dibicarakan.

Dendam perlu dilepaskan.

Dan ketika beban terasa terlalu berat, mencari orang yang dipercaya atau bantuan profesional bukan tanda bahwa seseorang gagal menjalani kehidupan.

Justru sebaliknya.

Ia sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri sebelum sesuatu yang lebih besar terjadi.

Sebab emosi yang tidak dikelola tidak selalu berhenti sebagai persoalan batin. Stres dan tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat memengaruhi tidur, konsentrasi, perilaku, hubungan sosial, dan berbagai aspek kesehatan. Karena itu, tubuh dan pikiran tidak seharusnya dipandang sebagai dua dunia yang sepenuhnya terpisah.

Ada kalanya tubuh seperti mengingat sesuatu yang berusaha dilupakan pikiran.

Tetapi kita juga perlu berhati-hati: tidak setiap penyakit tubuh berasal dari emosi, dan tidak setiap orang yang mengalami kemarahan atau kesedihan akan jatuh sakit. Tubuh manusia jauh lebih kompleks daripada itu.

Yang jelas, manusia membutuhkan ruang untuk mengolah apa yang dirasakannya.

Bukan membuang semua emosi secara sembarangan.

Melainkan belajar memilih mana yang perlu diselesaikan, mana yang perlu dibicarakan, mana yang perlu dimaafkan, dan mana yang memang harus dilepaskan.

Sebab melampiaskan kemarahan bukan selalu berarti menyembuhkan kemarahan.

Kadang seseorang hanya memindahkan luka dari dalam dirinya kepada orang lain.

Dan luka itu kemudian berjalan dari satu manusia ke manusia berikutnya.

Barangkali inilah salah satu pekerjaan terbesar manusia ketika semakin dewasa: menghentikan warisan luka.

Apa yang dahulu diterima dari lingkungan tidak harus selalu diteruskan kepada anak-anak.

Bentakan tidak harus dibalas dengan bentakan.

Dendam tidak harus diwariskan.

Kekecewaan tidak harus menjadi alasan untuk menyakiti orang lain.

Setiap orang memiliki masa lalu, tetapi masa lalu tidak harus menjadi pengemudi seluruh perjalanan hidup.

Pada akhirnya, manusia bukan hanya perlu belajar bagaimana mencari kebahagiaan.

Ia juga perlu belajar bagaimana berdamai dengan bagian dirinya yang pernah terluka.

Sebab ada perasaan yang jika terus disimpan akan menjadi beban.

Ada kemarahan yang jika terus dipelihara akan menggerogoti hubungan.

Dan ada dendam yang mungkin terasa seperti senjata untuk melawan orang lain, tetapi diam-diam justru mengikat pemiliknya sendiri.

Maka sebelum bom waktu itu menemukan pemicunya, barangkali ada baiknya kita belajar berhenti sejenak.

Menarik napas.

Mengenali apa yang sedang terjadi di dalam diri.

Kemudian bertanya dengan jujur:

Apa sebenarnya yang sedang saya simpan?

Bisa jadi jawabannya bukan tentang orang lain.

Bisa jadi, selama ini, yang paling membutuhkan pertolongan adalah diri sendiri.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments