spot_img
BerandaJelajahLelaki dari Hadramaut yang Tak Pernah Menginjak Solo

Lelaki dari Hadramaut yang Tak Pernah Menginjak Solo

Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, ketika orang-orang membaca doa dan maulid di Masjid Riyadh, yang sebenarnya sedang berlangsung bukan hanya sebuah acara tahunan.

Haul ke-115 Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi kembali membuat Solo sesak. Puluhan hingga seratusan ribu orang datang ke Pasar Kliwon. Tetapi ada satu ironi sejarah: tokoh yang mereka kenang itu tak pernah tinggal di kota ini. Jejaknya sampai ke Solo melalui kitab, keturunan, dan tradisi yang diwariskan.

LESINDO.COM — Sejak beberapa hari menjelang Sabtu, 3 Oktober 2026, Solo berubah. Bus-bus dari luar kota memasuki jalan-jalan utama. Kendaraan pribadi bergerak lebih lambat. Di Pasar Kliwon, terutama di sekitar Masjid Riyadh, arus manusia seperti tak mengenal putus. Jemaah datang berkelompok: sebagian membawa bekal, sebagian membawa tikar, sebagian lain hanya membawa pakaian seperlunya.

Mereka datang dari Pasuruan, Pekalongan, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, dan berbagai kota lain. Pemerintah Kabupaten Pasuruan bahkan memperkirakan sekitar 10 ribu warganya berangkat ke Solo untuk mengikuti haul. Pemerintah setempat sampai membuka delapan posko pelayanan dan menyiagakan ambulans bagi jemaah.

Pada puncaknya, Sabtu pagi, Masjid Riyadh dan kawasan sekitarnya menjadi lautan manusia.

Panitia menyebut jumlah jemaah mencapai seratusan ribu orang.

Polresta Surakarta mengerahkan 488 personel gabungan untuk mengantisipasi keamanan, kepadatan lalu lintas dan kebutuhan pelayanan jemaah.

Solo sedang menjadi kota ziarah.

Tetapi pertanyaan yang lebih menarik justru bukan berapa banyak orang yang datang.

Siapa sebenarnya lelaki yang membuat manusia dari berbagai penjuru Nusantara rela menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk menyebut namanya?

Namanya Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi.

Ia lahir di Qasam, Hadramaut, Yaman, pada Jumat, 24 Syawal 1259 Hijriah atau sekitar 1839 Masehi. Ia wafat di Seiwun, Hadramaut, pada 20 Rabiul Akhir 1333 Hijriah atau 1913 Masehi.

Artinya, lelaki yang setiap tahun membuat Pasar Kliwon penuh sesak itu bukan orang Solo.

Ia bahkan tidak pernah hidup di Indonesia.

Di situlah sejarah menjadi menarik.

Dari Qasam ke Pasar Kliwon

Habib Ali tumbuh di lingkungan keluarga ulama. Ayahnya, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, merupakan salah seorang gurunya sejak kecil. Ia belajar Al-Qur’an dan berbagai disiplin keislaman hingga kemudian dikenal sebagai ulama dan pendakwah di Hadramaut.

Namanya kemudian tidak hanya dikenal melalui pengajian.

Ia meninggalkan sebuah karya yang kelak menjadi salah satu jembatan paling kuat antara dirinya dengan masyarakat Muslim di Nusantara: Simthudduror.

Kitab maulid itu berisi kisah, pujian dan penggambaran tentang Nabi Muhammad SAW. Di banyak tempat di Indonesia, Simthudduror kemudian dibaca dalam majelis-majelis maulid.

Di Jawa, masyarakat sering menyebutnya sederhana: Maulid Habsyi.

Nama pengarangnya berubah menjadi nama sebuah tradisi.

Dan tradisi itu menempuh perjalanan jauh.

Bukan melalui pesawat.

Bukan melalui media sosial.

Melainkan melalui manusia.

Anak yang Membawa Warisan

Setelah Habib Ali wafat pada 1913, warisan keilmuannya tidak berhenti di Seiwun.

Salah seorang putranya, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, kemudian hijrah ke Nusantara. Ia sempat berada di Jakarta dan Semarang sebelum akhirnya menetap di Solo.

Di sinilah hubungan Habib Ali dengan Solo mulai menemukan bentuknya.

Habib Alwi memperoleh tanah wakaf di Kampung Gurawan, Pasar Kliwon. Di atas tanah itu kemudian dibangun masjid, rumah dan ruang zawiyah. Sumber akademik mencatat pembangunan Masjid Riyadh selesai pada 1354 Hijriah atau 1934 Masehi.

Namanya tidak dibuat sembarangan.

Riyadh.

Nama yang mengingatkan pada Masjid Riyadh yang dibangun Habib Ali di Seiwun, Hadramaut.

Dengan begitu, Masjid Riyadh Solo bukan sekadar bangunan ibadah.

Ia seperti simpul sejarah.

Di satu ujung ada Hadramaut.

Di ujung lain ada Pasar Kliwon.

Di antara keduanya ada sebuah keluarga, sebuah kitab, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di kompleks Masjid Riyadh Solo kemudian dimakamkan Habib Alwi, Habib Ahmad dan Habib Anis—tiga nama yang memiliki hubungan langsung dengan garis keluarga Habib Ali.

Haul yang Tak Berawal dari Kerumunan

Ada kecenderungan melihat Haul Solo hanya dari jumlah manusia.

Ratusan bus.

Jalan macet.

Pedagang yang kebanjiran pembeli.

Jemaah yang mencari tempat menginap.

Sebagian bahkan memilih beristirahat di pinggir jalan ketika tempat penginapan tak lagi memadai.

Saat acara selesai, persoalan lain muncul: arus kepulangan.

Kendaraan bergerak bersamaan menuju berbagai kota. Jalan-jalan Solo menanggung beban yang berbeda dari hari biasa.

Tetapi di balik semua itu terdapat sebuah tradisi yang usianya jauh lebih panjang daripada hiruk-pikuk hari ini.

Penelitian mengenai tradisi ziarah dan haul di Pasar Kliwon menunjukkan bahwa tradisi tersebut tumbuh melalui keluarga dan komunitas, kemudian berkembang menjadi kegiatan yang menarik jemaah dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri.

Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi—putra Habib Alwi—kemudian memainkan peran penting dalam meneruskan tradisi pembacaan Simthudduror di Solo. Di tangannya, pembacaan maulid berkembang dengan sentuhan rebana dan corak yang membuatnya semakin diterima masyarakat.

Jadi, apa yang tampak sebagai kerumunan besar pada 3 Oktober 2026 sesungguhnya bukan peristiwa yang muncul tiba-tiba.

Ia merupakan hasil dari pewarisan panjang.

Dari ayah kepada anak.

Dari guru kepada murid.

Dari satu majelis kepada majelis lain.

Dari Hadramaut menuju Jawa.

Mengapa Harus Solo?

Pertanyaan ini mungkin lebih penting daripada pertanyaan tentang siapa Habib Ali.

Jika makam Habib Ali berada di Seiwun, mengapa haulnya justru menjadi peristiwa raksasa di Solo?

Jawabannya bukan karena Habib Ali pernah tinggal di kota ini.

Bukan pula karena makamnya berada di Pasar Kliwon.

Yang berada di Solo adalah warisannya.

Ada keturunannya.

Ada Masjid Riyadh.

Ada makam keluarganya.

Ada kitab Simthudduror yang terus dibaca.

Dan ada komunitas yang selama puluhan tahun menjaga tradisi tersebut.

Habib Alwi menjadi mata rantai paling penting dalam proses itu. Setelah menetap di Solo, ia tidak hanya membangun masjid, tetapi juga meneruskan tradisi keilmuan dan maulid yang dibawa dari Hadramaut.

Dari situlah sebuah kota memperoleh identitas religi yang baru.

Pasar Kliwon bukan lagi hanya kawasan perdagangan.

Pada waktu tertentu setiap tahun, ia berubah menjadi ruang perjumpaan umat.

Pedagang bertemu jemaah.

Warga lokal bertemu pendatang.

Orang yang datang untuk pertama kali bertemu orang yang telah puluhan kali menghadiri haul.

Dan Solo, tanpa perlu mengiklankan dirinya sebagai destinasi wisata, mendapatkan arus wisata religi yang datang dengan sendirinya.

Ketika Agama Bertemu Kota

Haul juga memperlihatkan wajah lain sebuah kota.

Agama tidak hidup di ruang yang steril.

Ketika seratusan ribu manusia berkumpul, kebutuhan mereka ikut bergerak.

Mereka membutuhkan makanan.

Air minum.

Transportasi.

Tempat beristirahat.

Toilet.

Parkir.

Keamanan.

Pelayanan kesehatan.

Informasi.

Itulah sebabnya Haul Solo tidak hanya menjadi urusan panitia dan jemaah. Pemerintah kota, aparat keamanan, relawan, pedagang, pengelola transportasi dan masyarakat sekitar ikut masuk ke dalam ekosistem besar tersebut.

Ratusan personel keamanan disiapkan. Posko pelayanan didirikan. Bahkan daerah asal jemaah seperti Pasuruan menyiapkan layanan khusus untuk warganya.

Ada ekonomi yang bergerak.

Ada jalan yang tersendat.

Ada warung yang ramai.

Ada rumah yang disulap menjadi tempat singgah.

Ada pedagang yang memperoleh rezeki tahunan.

Tetapi ada pula warga yang harus berhadapan dengan kemacetan, sampah, kepadatan dan perubahan ritme kehidupan sehari-hari.

Di sinilah sebuah tradisi besar perlu dibaca secara utuh.

Bukan hanya dari sisi kesalehan.

Melainkan juga dari dampaknya terhadap kota.

Dari Seorang Ulama Menjadi Sebuah Ingatan Kolektif

Habib Ali meninggal lebih dari satu abad lalu.

Tetapi namanya tidak ikut dikubur.

Ia hidup dalam lembaran Simthudduror.

Hidup dalam lantunan maulid.

Hidup dalam nama Masjid Riyadh.

Hidup dalam keturunannya.

Dan hidup dalam ingatan ribuan, bahkan ratusan ribu orang yang setiap tahun datang ke Solo.

Inilah barangkali kekuatan terbesar sebuah warisan keagamaan.

Seseorang tidak harus hadir secara fisik untuk tetap memengaruhi manusia.

Habib Ali tidak pernah menginjak Pasar Kliwon.

Tetapi namanya membuat Pasar Kliwon setiap tahun menjadi tempat berkumpulnya manusia.

Ia wafat di Seiwun.

Namun lebih dari seratus tahun kemudian, jejaknya masih terdengar di Solo.

Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, ketika orang-orang membaca doa dan maulid di Masjid Riyadh, yang sebenarnya sedang berlangsung bukan hanya sebuah acara tahunan.

Ada sejarah yang sedang dipanggil kembali.

Sejarah tentang seorang ulama Hadramaut.

Tentang seorang anak yang menyeberangi laut menuju Jawa.

Tentang sebuah masjid yang mengambil nama dari tanah leluhur.

Tentang kitab yang berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan tentang sebuah kota yang setiap tahun harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah menjadi salah satu simpul terbesar tradisi religi Nusantara.

Mungkin itulah jawaban paling sederhana atas pertanyaan siapa Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.

Ia bukan orang Solo.

Tetapi warisannya telah menjadi bagian dari Solo.

Dan setiap awal Rabiul Akhir, ketika manusia kembali memenuhi Pasar Kliwon, sejarah itu seperti memperoleh tubuh baru.

Tubuhnya adalah lautan manusia.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments