spot_img
BerandaJelajahKetika Suara Katak Kalah oleh Deru Kendaraan

Ketika Suara Katak Kalah oleh Deru Kendaraan

Ketika sawah berubah menjadi bangunan, jalan, atau kawasan aktivitas manusia, yang berubah bukan hanya warna tanah. Rantai kehidupan di dalamnya ikut mengalami perubahan.

Oleh : Machrus Muhamad 

LESINDO.COM – Di pinggiran Kuwiran, Banyudono, Boyolali, dulu malam memiliki suara sendiri. Dari hamparan sawah yang membentang di antara perkampungan, suara katak bersahut-sahutan. Jangkrik menjadi musik latar yang datang dari pematang. Ketika malam semakin larut, langit yang gelap justru terasa terang oleh kerlip bintang.

Tak banyak suara selain alam.

Sawah-sawah di kawasan itu dikenal subur. Air dari Umbul Pengging mengalir ke persawahan, membuat petani tidak sepenuhnya bergantung pada datangnya musim hujan. Dalam setahun, lahan pertanian bahkan dapat menghasilkan padi hingga tiga kali panen.

Bagi petani, sawah bukan sekadar hamparan tanah.

Ia adalah tempat mencari penghidupan, ruang bagi anak-anak bermain, sekaligus bagian dari kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tetapi waktu tidak pernah benar-benar berhenti.

Kini, wajah kawasan itu perlahan berubah.

Hamparan hijau yang dahulu menjadi pemandangan sehari-hari mulai berbagi ruang dengan bangunan-bangunan beton. Cahaya lampu menerangi tempat yang dahulu gelap. Jalan yang dulu lengang kini dilalui kendaraan sepanjang waktu.

Jalan tol datang membawa wajah baru.

Dari kejauhan, deru kendaraan terdengar seperti suara yang tak pernah benar-benar tidur. Siang dan malam sama-sama memiliki denyut. Jika dahulu malam di pinggiran Kuwiran diisi suara katak dan jangkrik, kini suara mesin kendaraan ikut menjadi bagian dari lanskap baru.

Sawah pun perlahan kehilangan sebagian ruangnya.

Bagi sebagian warga, perubahan itu berarti kesempatan. Tanah yang selama ini menjadi lahan pertanian dapat berganti fungsi. Ada yang menjual tanah, ada yang menerima ganti untung, ada pula yang kemudian berganti profesi karena lahan pertanian yang selama ini digarap sudah tidak lagi tersedia.

Pembagian hak waris juga membuat tanah semakin terpecah.

Sebidang sawah yang dahulu cukup luas untuk menopang kehidupan keluarga, setelah berpindah tangan atau terbagi kepada beberapa ahli waris, tidak selalu lagi memiliki fungsi yang sama.

Di sisi lain, perubahan ekonomi membawa perubahan pada bentuk kehidupan.

Rumah-rumah lama mulai berganti. Bangunan baru berdiri lebih besar dan lebih modern. Kendaraan bertambah. Pola konsumsi berubah. Pekerjaan warga pun tidak lagi seluruhnya berkaitan dengan sawah.

Inilah wajah lain dari pembangunan.

Jalan tol bukan hanya sebuah jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Ia juga menjadi garis yang mengubah lanskap di sekitarnya.

Ia memotong sawah, membelah ruang hidup, mengubah arah pergerakan manusia, sekaligus mempercepat perubahan sosial.

Ada sesuatu yang hilang, tetapi ada pula sesuatu yang tumbuh.

Persoalannya bukan semata-mata apakah perubahan itu baik atau buruk. Sebab bagi masyarakat yang hidup di dalamnya, perubahan hampir selalu memiliki dua wajah.

Di satu sisi, ada kemudahan mobilitas, peluang ekonomi, akses yang semakin terbuka, dan nilai tanah yang berubah. Namun di sisi lain, ada ekosistem yang perlahan bergeser, lahan pertanian yang menyusut, serta kebiasaan hidup yang tidak lagi sama.

Dulu, seorang petani mungkin cukup melihat warna langit untuk membaca cuaca.

Kini, sebagian orang mungkin lebih sering melihat arus kendaraan di jalan tol.

Dulu, batas antara malam dan pagi terasa jelas. Ketika sawah menghitam dan suara katak mulai mendominasi, kehidupan seolah ikut beristirahat.

Sekarang, malam tidak lagi sepenuhnya malam.

Lampu tetap menyala. Kendaraan tetap bergerak. Aktivitas ekonomi berjalan tanpa mengenal batas waktu.

Habitat sawah pun ikut berubah.

Sawah bukan hanya tempat tumbuhnya padi. Di sana terdapat kehidupan lain yang sering luput dari perhatian manusia: katak, jangkrik, burung, serangga, cacing, hingga berbagai tumbuhan kecil yang tumbuh di pematang.

Ketika sawah berubah menjadi bangunan, jalan, atau kawasan aktivitas manusia, yang berubah bukan hanya warna tanah. Rantai kehidupan di dalamnya ikut mengalami perubahan.

Katak kehilangan tempat bermain dan mencari makan.

Burung kehilangan sebagian ruang mencari pakan.

Air yang dahulu mengalir melalui parit dan pematang harus menyesuaikan diri dengan konstruksi baru.

Dan petani kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada sebidang tanah: sebuah cara hidup.

Namun begitulah zaman.

Generasi yang lahir hari ini mungkin tidak akan mengenal malam seperti yang pernah dikenal orang tuanya. Mereka mungkin tidak pernah merasakan duduk di pematang sambil mendengar katak bersahutan. Mereka mungkin justru menganggap deru kendaraan di jalan tol sebagai suara biasa sebelum tidur.

Setiap generasi memiliki lanskapnya sendiri.

Yang dahulu dianggap biasa, suatu hari bisa menjadi kenangan.

Barangkali beberapa tahun lagi, orang-orang tua di Kuwiran akan bercerita kepada anak cucunya bahwa dahulu tempat yang kini dipenuhi bangunan dan jalan itu adalah sawah.

“Di sini dulu sawah,” kata mereka.

“Kalau malam banyak katak.”

Anak-anak mungkin hanya akan mendengarkan sambil melihat kendaraan melintas cepat di kejauhan.

Mereka mungkin sulit membayangkan bagaimana gelapnya malam dahulu, ketika lampu belum sebanyak sekarang dan suara mesin belum mendominasi ruang.

Tetapi begitulah sejarah sebuah tempat.

Ia tidak selalu tersimpan dalam buku. Kadang ia hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan di pematang, menanam padi, memandikan kerbau, atau sekadar duduk menikmati senja di tepi sawah.

Kuwiran hari ini adalah wajah dari sebuah perubahan.

Sawah dan jalan tol kini hidup berdampingan. Di satu sisi, ada arus kendaraan yang bergerak cepat menuju masa depan. Di sisi lain, masih tersisa tanah yang mengingat masa lalu.

Di antara keduanya, masyarakat sedang beradaptasi.

Sebab pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang beton, aspal, jembatan, dan kendaraan.

Pembangunan juga tentang manusia yang harus menata ulang kehidupannya setelah ruang tempat mereka hidup berubah.

Dan mungkin, suatu malam nanti, ketika seseorang berhenti sejenak di pinggir jalan tol dan mendengarkan suara yang datang dari kejauhan, ia akan menyadari bahwa ada satu suara yang semakin sulit ditemukan.

Suara katak dari sawah.

Suara kecil yang dahulu memenuhi malam, tetapi perlahan kalah oleh deru zaman.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments