spot_img
BerandaJelajahRezeki yang Belum Habis

Rezeki yang Belum Habis

Dan jika hati masih diberi rasa bersalah atas dosa-dosa masa lalu, jangan buru-buru menganggapnya sebagai beban. Bisa jadi, rasa sesal itu justru tanda bahwa pintu pulang belum ditutup.

Oleh : Adin AR

LESINDO.COM – Tak seorang pun benar-benar tahu kapan jatah umurnya berakhir. Bahkan seorang dokter yang berpengalaman sekalipun hanya dapat membaca tanda-tanda yang tampak secara medis. Ketika tubuh seseorang berada dalam kondisi kritis, berbagai alat terpasang, sementara keluarga mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, pada akhirnya ada satu hal yang tidak bisa dihitung dengan pasti: berapa lama lagi napas itu akan bertahan.

Ada yang diperkirakan hanya memiliki waktu beberapa jam, tetapi ternyata masih bertahan berhari-hari. Ada yang diperkirakan tinggal beberapa hari, tetapi justru mampu melewati masa kritis. Ada pula yang tampak sehat dan baik-baik saja, tetapi tiba-tiba dipanggil pulang.

Di situlah manusia akhirnya sadar, umur bukan sepenuhnya wilayah perhitungan manusia.

Kita hanya bisa berikhtiar. Selebihnya, ada kehendak Allah yang bekerja dalam ruang yang tidak mampu dijangkau oleh akal.

Barangkali karena itu, setiap tarikan napas sesungguhnya adalah rezeki.

Bukan hanya uang, rumah, kendaraan, jabatan atau makanan yang terhidang di meja. Napas pun rezeki. Kemampuan membuka mata pada pagi hari adalah rezeki. Masih bisa mendengar suara orang-orang di sekitar kita adalah rezeki. Masih bisa menggerakkan tangan untuk berdoa, masih mampu mengucapkan istighfar, bahkan masih diberi kesempatan untuk menyesali kesalahan masa lalu—semuanya adalah rezeki.

Kadang manusia baru menyadarinya ketika tubuh sudah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Di luar sana, kehidupan berjalan seperti biasa. Orang-orang berangkat bekerja, anak-anak pergi sekolah, kendaraan memenuhi jalan, sementara di sebuah kamar rumah sakit seseorang sedang berjuang mempertahankan satu hal yang selama sehat sering dianggap biasa: bernapas.

Pada saat seperti itu, ukuran rezeki menjadi berubah.

Bukan lagi tentang berapa banyak yang dimiliki, melainkan berapa lama Allah masih memberi kesempatan untuk menjalani kehidupan.

Ada seseorang yang perlahan menyadari bahwa banyak teman sebayanya telah lebih dahulu pergi. Bahkan mereka yang usianya jauh lebih muda pun sebagian telah mendahului menghadap Sang Pencipta.

Ketika semakin sedikit orang dari generasinya yang tersisa, muncul sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban panjang:

Mengapa saya masih diberi waktu?

Pertanyaan itu barangkali lebih tepat dijawab dengan perenungan daripada dengan kata-kata.

Mungkin rezekinya memang belum habis.

Bukan semata-mata rezeki dalam bentuk materi, tetapi rezeki berupa waktu. Allah masih meminjamkan pagi dan sore. Masih memberikan kesempatan melihat wajah keluarga. Masih memberi ruang untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai. Masih membuka pintu untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti.

Dan mungkin yang paling penting, masih memberikan kesempatan untuk bertobat.

Sebab manusia sering kali baru memahami arti kesempatan setelah berada di ambang kehilangan.

Ketika sehat, kita merasa masih memiliki banyak waktu. Salat yang tertunda seolah dapat diganti nanti. Permintaan maaf dapat disampaikan lain hari. Kebaikan bisa dilakukan besok. Membaca Al-Quran bisa menunggu ketika pekerjaan selesai. Sedekah bisa dilakukan ketika rezeki sudah lebih lapang.

Padahal, kita tidak pernah benar-benar memiliki kepastian tentang kata nanti.

Boleh jadi waktu yang kita sebut nanti ternyata tidak pernah datang.

Karena itu, ketika seseorang masih diberi umur setelah melewati masa kritis, barangkali jangan buru-buru melihatnya sebagai sekadar keberuntungan medis. Bisa jadi itu adalah sebuah kesempatan yang sangat mahal.

Kesempatan untuk pulang.

Pulang kepada Allah sebelum benar-benar dipanggil pulang.

Dalam kehidupan, manusia sering mengejar banyak hal hingga lupa bahwa pada akhirnya semua yang dikejar akan ditinggalkan. Harta, jabatan, popularitas, bahkan tubuh yang selama ini dirawat dengan baik pun suatu saat akan kembali menjadi bagian dari tanah.

Yang tersisa bukan panjang pendeknya usia, melainkan apa yang dikerjakan selama usia itu masih diberikan.

Maka ketika hari ini masih bisa membuka mata, mungkin ada pesan yang sederhana tetapi dalam: urusan kita dengan dunia belum selesai, begitu pula urusan kita dengan Allah.

Barangkali masih ada dosa yang harus disesali.

Masih ada kesalahan yang harus diperbaiki.

Masih ada orang yang harus dimintai maaf.

Masih ada kebaikan yang belum sempat dilakukan.

Dan masih ada sujud yang mungkin selama ini terlalu sering ditunda.

Sebab boleh jadi, bertambahnya umur bukan semata-mata bertambahnya angka, melainkan bertambahnya kesempatan.

Kesempatan untuk menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada kemarin.

Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama.

Kesempatan untuk mengurangi kesombongan dan memperbanyak kerendahan hati.

Kesempatan untuk memahami bahwa hidup bukan hanya soal mendapatkan, tetapi juga belajar melepaskan.

Pada akhirnya, tidak ada manusia yang tahu kapan batas waktunya tiba.

Yang dapat dilakukan hanyalah menjaga amanah waktu yang masih diberikan.

Jika hari ini napas masih berembus, barangkali rezeki kita memang belum habis.

Jika hari ini masih diberi kesempatan bangun, mungkin Allah masih membuka pintu untuk memperbaiki diri.

Dan jika hati masih diberi rasa bersalah atas dosa-dosa masa lalu, jangan buru-buru menganggapnya sebagai beban. Bisa jadi, rasa sesal itu justru tanda bahwa pintu pulang belum ditutup.

Sebab kesempatan terbesar dalam hidup mungkin bukan ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Melainkan ketika Allah masih memberi kita waktu untuk bertobat sebelum waktu itu benar-benar habis.

Maka selama napas masih ada, jangan merasa hidup hanya sedang menunggu kematian.

Bisa jadi, kita sedang diberi kesempatan terakhir untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik sebelum benar-benar kembali kepada-Nya.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments