Oleh : Raihan HM
LESINDO.COM – Di kampung itu, mungkin Mbah Wiro adalah salah satu perempuan paling tua yang masih tersisa.Tak seorang pun tahu persis berapa usianya. Ada yang memperkirakan 90 tahun, ada pula yang mengatakan mungkin sudah mendekati 100. Angka itu pun akhirnya hanya menjadi perkiraan, sebab di kampung, usia seseorang kadang lebih mudah dihitung dari perubahan zaman yang pernah dilewatinya.
Nama lengkapnya juga tak banyak yang tahu. Orang kampung lebih akrab memanggilnya Mbah Wiro. Begitu saja. Tidak ada kepanjangan.
Kini tubuhnya sudah renta. Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan rebahan dan tiduran. Tenaga yang dahulu membawanya berjalan setiap pagi kini perlahan telah meninggalkannya.
Padahal, bertahun-tahun lalu, hampir setiap pagi ia masih berjalan melewati depan rumah.
Ia selalu menyapa lebih dahulu.
Kadang berhenti sebentar, lalu mengajak ngobrol. Obrolannya sederhana. Tentang kegiatan pagi itu, tentang orang-orang kampung, atau cerita masa lalu yang entah sudah berapa kali diceritakannya.
Tak ada yang istimewa dari percakapan itu.
Namun justru dari hal-hal sederhana itulah kehadirannya terasa.
Ketika menerima sedikit uang, misalnya, ia selalu berkata sambil tersenyum,
“Matur nuwun, nggo jajan Mbah Wiro yo, Mas.”
Senyumnya lebar dan polos.
Giginya sudah tak lagi tersisa, tetapi senyumnya seperti tidak pernah kehilangan apa pun.
Saya mengenal Mbah Wiro ketika usia saya sekitar 25 tahun. Saat itu saya masih menjadi warga pendatang di kampung tersebut.
Mbah Wiro sudah ada di sana.
Ia hidup bersama suaminya dengan menempati sebidang tanah milik orang lain. Orang kampung menyebutnya magersari. Tanah itu dipinjam untuk tempat tinggal. Bukan milik sendiri.
Sampai kemudian suaminya meninggal, tanah tersebut dikembalikan kepada pemiliknya.
Dari perkawinan itu mereka memiliki anak. Anak-anak kemudian tumbuh, berkeluarga, memiliki anak. Mbah Wiro menjadi seorang nenek.
Namun hingga usia senjanya, ia tidak pernah memiliki rumah yang benar-benar menjadi miliknya.
Setelah suaminya meninggal, ia ikut anaknya. Itu pun tinggal di rumah kontrakan.
Bagi sebagian orang, perjalanan hidup seperti itu mungkin terasa berat.
Tetapi Mbah Wiro tampaknya tidak pernah menjadikan keadaan sebagai alasan untuk mengeluh.
Ia tidak banyak menuntut kehidupan.
Tidak sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
Tidak pula bertanya mengapa orang lain memiliki rumah, sementara dirinya tidak.
Ia menjalani apa yang ada.
Hari ini ada makanan, ia makan.
Ada rezeki, ia syukuri.
Ada orang datang menyapa, ia balas dengan senyum.
Sesederhana itu.
Mungkin inilah bentuk nrimo ing pandum yang paling nyata: bukan menyerah kepada kehidupan, melainkan menerima apa yang memang tidak bisa dipaksakan.
Mbah Wiro telah melewati usia yang panjang.
Ia melihat orang-orang seusianya pergi satu per satu. Generasi di bawahnya pun perlahan meninggalkan kampung. Rumah-rumah berubah. Jalan berubah. Anak-anak yang dahulu berlarian di halaman kini sudah menjadi orang tua.
Tetapi Mbah Wiro masih ada.
Tubuhnya memang semakin rapuh, tetapi keberadaannya seperti sebuah penanda waktu.
Ia mengingatkan bahwa kampung ini pernah memiliki banyak cerita yang kini mungkin sudah hilang bersama orang-orang yang menjalaninya.
Dahulu ia berjalan melewati rumah-rumah.
Kini rumah-rumah itu yang seolah berjalan meninggalkannya—berganti penghuni, berganti bentuk, berganti zaman.
Yang tersisa hanyalah seorang perempuan tua di penghujung usia.
Ada sesuatu yang sering kita salah pahami tentang umur panjang.
Kita mengira panjang umur berarti memiliki lebih banyak waktu untuk mengejar sesuatu.
Padahal, semakin panjang seseorang hidup, semakin banyak pula yang harus ia relakan pergi.
Teman-teman sebaya.
Saudara.
Pasangan hidup.
Tenaga.
Kekuatan tubuh.
Bahkan rumah dan tempat yang pernah dianggap sebagai bagian dari kehidupan.
Satu demi satu dilepaskan.
Mungkin karena itulah orang-orang tua seperti Mbah Wiro tidak lagi terlalu sibuk mengejar dunia.
Ia sudah cukup lama melihat bagaimana dunia datang dan pergi.
Apa yang dahulu dianggap penting, perlahan menjadi biasa.
Apa yang dahulu dikejar, akhirnya ditinggalkan.
Dan apa yang dahulu ditakuti, ternyata tetap bisa dilewati.
Ketika sekarang melihat Mbah Wiro hanya bisa berbaring, saya sering teringat perempuan tua yang dahulu berjalan setiap pagi di depan rumah.
Langkahnya pelan.
Sapanya sederhana.
Tetapi selalu ada senyum.
Barangkali kita baru menyadari nilai seseorang ketika tubuhnya mulai berhenti bergerak.
Dulu, sapaan Mbah Wiro mungkin hanya terdengar sebagai percakapan kecil di pagi hari.
Kini, sapaan itu terasa seperti bagian dari masa lalu yang perlahan menjauh.
Suatu hari nanti, mungkin tak ada lagi suara yang berkata,
“Matur nuwun, nggo jajan Mbah Wiro yo, Mas.”
Jalan di depan rumah akan tetap ada.
Pagi akan tetap datang.
Orang-orang akan tetap berangkat bekerja.
Anak-anak akan tetap pergi sekolah.
Tetapi satu suara akan hilang.
Dan mungkin saat itulah kita baru memahami bahwa yang sebenarnya berharga dari seseorang bukan rumah yang ia tinggalkan, bukan harta yang ia kumpulkan, bahkan bukan berapa panjang usianya.
Melainkan jejak kecil yang ia tinggalkan dalam ingatan orang lain.
Mbah Wiro tidak meninggalkan rumah.
Tidak pula meninggalkan harta yang besar.
Ia hanya meninggalkan sapaan, senyum, dan cara sederhana menerima kehidupan.
Namun justru itu yang mungkin akan paling lama tinggal.
Sebab pada akhirnya, manusia memang tidak pernah benar-benar membawa apa pun ketika pergi.
Rumah akan ditempati orang lain.
Tanah akan berpindah tangan.
Harta akan diwariskan.
Tubuh akan kembali kepada tanah.
Yang mungkin tersisa hanyalah kenangan tentang bagaimana seseorang pernah memperlakukan sesamanya.
Dan Mbah Wiro, perempuan tua yang sepanjang hidupnya tidak banyak memiliki, barangkali telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada rumah:
sebuah pelajaran bahwa hidup tidak harus selalu dimiliki untuk bisa disyukuri.
Ia menjalani hari demi hari tanpa banyak mengeluh, seolah tahu bahwa rezeki tidak selalu berbentuk uang, rumah, atau harta.
Kadang rezeki hanyalah masih diberi umur.
Masih bisa makan.
Masih ada orang yang datang menyapa.
Dan, pada usia yang begitu panjang, masih bisa memberikan sebuah senyum.
Mungkin itulah cara Tuhan mengajarkan kepada kita melalui Mbah Wiro:
bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi seberapa lapang hati kita menerima apa yang dititipkan.

