LESINDO.COM — Ada pantai yang datang dengan suara ombak. Ada pula pantai yang datang membawa cerita. Di pesisir selatan Kabupaten Jember, Jawa Timur, keduanya bertemu di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Pantai Papuma.
Nama Papuma bukan sekadar nama yang diberikan untuk menandai sebuah kawasan di tepi laut. Ia lahir dari identitas alam yang menjadi wajah utama pantai ini: Pasir Putih Malikan, yang kemudian disingkat menjadi Papuma.
Di sanalah pasir putih terbentang, berhadapan dengan laut selatan yang luas. Ombak datang silih berganti, memecah karang, lalu kembali ke laut seolah tak pernah selesai menuliskan cerita.
Namun Papuma bukan hanya perkara pasir putih.
Di sekitar pantai berdiri gugusan batu karang yang menjadi ciri khas kawasan tersebut. Dari kejauhan, karang-karang itu tampak seperti pulau kecil yang sengaja diletakkan di tengah laut. Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, bayangan karang memanjang di atas permukaan air. Laut pun berubah menjadi kanvas besar yang terus berganti warna.
Dari Malikan Menjadi Papuma
Asal-usul nama Papuma berkaitan erat dengan kawasan Pasir Putih Malikan. Kata Papuma merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan.
Nama itu kemudian melekat kuat di tengah masyarakat dan wisatawan. Seiring waktu, Papuma menjadi lebih populer daripada nama panjangnya. Sebuah nama pendek yang akhirnya justru menjadi identitas kawasan pesisir selatan Jember.
Tetapi di balik nama yang sederhana itu, ada bentang alam yang tidak sederhana.
Papuma berada di kawasan pesisir yang mempertemukan pasir, laut, tebing, karang dan hutan. Perpaduan tersebut membuat karakter pantai ini berbeda dari banyak pantai lain di pesisir selatan Jawa.
Bila pantai pada umumnya hanya menawarkan garis pasir dan laut, Papuma menghadirkan lebih banyak lapisan. Ada bukit, ada hutan, ada batu karang dan ada laut yang tidak pernah benar-benar diam.
Karang yang Menjadi Penanda
Salah satu daya tarik Papuma adalah gugusan karang yang berdiri di laut. Karang-karang tersebut bukan sekadar penghias pemandangan, tetapi menjadi penanda visual yang membuat Papuma mudah dikenali.
Dari kawasan bukit, laut tampak terbentang luas. Gugusan karang terlihat seperti perahu-perahu besar yang sedang berhenti di tengah samudra.
Masyarakat kemudian memberi nama pada beberapa bagian karang tersebut. Nama-nama itu tumbuh dari cara manusia membaca alam—dari bentuk, cerita, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sinilah alam dan kebudayaan bertemu.
Sebuah batu karang bagi ahli geologi mungkin hanyalah bentukan alam. Namun bagi masyarakat sekitar, ia bisa menjadi bagian dari cerita yang memiliki makna lebih dalam.
Antara Alam dan Legenda
Papuma juga tidak bisa dilepaskan dari cerita rakyat yang berkembang di kawasan tersebut.
Salah satu kisah yang dikenal masyarakat berkaitan dengan Kyai dan Nyi Mursodo. Cerita turun-temurun itu menghubungkan kawasan karang dan gua di sekitar Papuma dengan perjalanan serta pertapaan tokoh tersebut.
Ada pula kisah mengenai Gua Lawa yang menjadi bagian dari cerita masyarakat setempat.
Benar atau tidaknya cerita tersebut dalam ukuran sejarah tentu membutuhkan pembuktian tersendiri. Namun legenda memiliki cara sendiri untuk bertahan. Ia tidak selalu membutuhkan dokumen atau prasasti. Kadang ia hidup melalui tutur orang tua kepada anak-anaknya, dari percakapan warga, atau dari cerita seorang pemandu kepada wisatawan.
Karena itu, legenda Papuma sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita mistis. Ia merupakan bagian dari kekayaan budaya tutur masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Sebab sebuah tempat tidak hanya dibentuk oleh batu, pasir dan air. Ia juga dibentuk oleh ingatan manusia.
Papuma dan Wajah Selatan Jawa
Pesisir selatan Jawa sejak dahulu memiliki karakter alam yang kuat. Ombaknya besar, garis pantainya panjang, dan lautnya menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Papuma tumbuh dalam lanskap semacam itu.
Di satu sisi ada laut dengan ombak yang terus bergerak. Di sisi lain terdapat perbukitan dan kawasan hutan. Di antara keduanya manusia datang, duduk di atas pasir, memandang laut, mengambil gambar, atau sekadar diam menikmati angin.
Mungkin di situlah daya tarik Papuma yang sebenarnya.
Ia tidak memaksa siapa pun untuk melakukan sesuatu.
Laut hanya mengajarkan bahwa waktu terus bergerak. Ombak datang dan pergi. Matahari muncul kemudian tenggelam. Jejak kaki manusia di pasir pun akhirnya hilang tersapu air.
Ketika Pantai Menjadi Ruang untuk Pulang
Ada orang datang ke Papuma untuk berwisata. Ada yang mencari foto. Ada yang mengejar matahari terbit atau menunggu senja.
Namun bagi sebagian orang, perjalanan ke pantai mungkin memiliki makna yang lebih personal.
Setelah melewati jalan yang berkelok, meninggalkan keramaian kota, lalu berhadapan dengan laut yang luas, manusia seperti diingatkan kembali bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari semesta.
Di hadapan laut, persoalan yang sehari-hari terasa besar kadang mendadak terlihat kecil.
Papuma akhirnya bukan hanya tentang Pasir Putih Malikan. Ia adalah pertemuan antara alam, manusia, cerita dan waktu.
Pasir putihnya mungkin menjadi alasan orang datang.
Karang-karangnya membuat orang ingin mengabadikan pemandangan.
Legenda membuat orang ingin bertanya.
Tetapi lautlah yang membuat sebagian orang ingin kembali.
Sebab setiap kali ombak datang dan pecah di bibir pantai, Papuma seperti sedang mengatakan sesuatu yang sederhana:
bahwa alam tidak pernah tergesa-gesa, tetapi selalu sampai pada waktunya. (Cha)

