spot_img
BerandaJelajahJangan Cepat Menghakimi Sujud Orang Lain

Jangan Cepat Menghakimi Sujud Orang Lain

Mengapa saya sibuk menghitung rakaat orang lain, sementara saya sendiri belum tentu tahu apakah satu rakaat shalat saya benar-benar diterima Allah?

Oleh : Farchan Ar 

LESINDO.COM – Ada kalanya rumah sakit mengajarkan manusia tentang banyak hal, bukan hanya tentang sakit dan kesembuhan.

Suatu sore, ketika sedang menengok seseorang yang dirawat di rumah sakit, azan Asar berkumandang. Saya pun bergegas menuju masjid di lingkungan rumah sakit. Seperti lazimnya masjid rumah sakit, jamaahnya beragam: ada keluarga pasien, pengunjung, tenaga kesehatan, dan orang-orang yang mungkin sedang singgah sebentar untuk memenuhi panggilan-Nya.

Saya berdiri di saf ketiga, bersebelahan dengan beberapa bapak yang usianya sudah tidak muda lagi.

Salam mengakhiri shalat.

Belum sempat saya beranjak, salah seorang bapak di samping saya melihat ke arah saf di depannya. Dengan senyum yang terasa agak kecut, ia berkata,

“Sholatnya tidak sah, celananya berlubang-lubang.”

Saya memilih diam.

Bukan karena tidak tahu bahwa dalam fikih ada ketentuan mengenai aurat dan pakaian dalam shalat. Bukan pula karena ingin membenarkan sesuatu yang mungkin memang keliru secara hukum. Saya hanya merasa, ada wilayah yang sebaiknya tidak buru-buru kita masuki: wilayah hati orang lain.

Bagaimana jika lelaki itu memang tidak tahu celananya berlubang?

Bagaimana jika ia belum memahami hukum fikihnya?

Bagaimana jika ia baru belajar shalat?

Atau mungkin, ada cerita panjang dalam hidupnya yang tidak pernah kita ketahui.

Kita hanya melihat lubang pada celananya. Kita tidak melihat perjalanan hidupnya.

Kita melihat pakaian yang dikenakannya. Allah melihat hati yang dibawanya.

Di situlah saya belajar bahwa mengetahui hukum tidak otomatis membuat kita berhak menghakimi manusia.

Fikih adalah ilmu. Ia penting. Ia menjadi panduan agar ibadah dilakukan dengan benar. Tetapi ilmu juga membutuhkan adab. Sebab ilmu tanpa kelembutan kadang berubah menjadi alat untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Beberapa waktu kemudian, pengalaman serupa kembali terjadi.

Saat mengantar anak di Solo Paragon, waktu Asar tiba. Saya sedang duduk mencari inspirasi ketika terdengar panggilan shalat. Saya bergegas menuju musala dan mengikuti shalat berjamaah yang sudah berlangsung.

Di sebelah saya ada seorang anak muda.

Ia datang ketika jamaah sudah berjalan. Ia tertinggal satu rakaat, bahkan masuk ketika imam sudah hampir selesai dengan rakaat yang sedang berlangsung.

Saya tidak terlalu memperhatikannya.

Sampai kemudian imam salam.

Anak muda itu ikut duduk dan mengucapkan salam.

Sementara saya masih berdiri menyelesaikan rakaat yang tertinggal.

Dalam hati sempat muncul pertanyaan kecil:

“Benarkah shalatnya seperti itu?”

Dalam hitungan fikih yang saya pahami, ada persoalan mengenai rakaat yang ia dapatkan. Tetapi setelah pikiran itu muncul, saya justru merasa malu kepada diri sendiri.

Mengapa saya sibuk menghitung rakaat orang lain, sementara saya sendiri belum tentu tahu apakah satu rakaat shalat saya benar-benar diterima Allah?

Saya bisa menghitung gerakan.

Saya bisa menghitung rakaat.

Saya bisa melihat pakaian.

Saya bisa mengetahui aturan.

Tetapi saya tidak pernah bisa melihat apakah shalat saya diterima.

Itu wilayah Allah.

Allah Ar-Rahman, Allah Ar-Rahim.

Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di balik setiap langkah manusia menuju rumah-Nya.

Mungkin anak muda itu memang belum memahami tata cara shalat dengan baik. Tetapi bukankah ada sesuatu yang patut disyukuri?

Ia masih ingat kepada shalat.

Di tengah kesibukannya di pusat perbelanjaan, ia masih menyempatkan diri mencari musala.

Ia masih mengambil wudu.

Ia masih berdiri menghadap kiblat.

Ia masih bersujud.

Bagi saya, itu bukan sesuatu yang kecil.

Sebab ada orang yang memiliki ilmu agama tetapi kehilangan kelembutan.

Ada pula orang yang mungkin belum sempurna memahami tata cara ibadah, tetapi hatinya masih memiliki keinginan untuk datang kepada Allah.

Dan siapa tahu, justru dari sujud yang belum sempurna itu suatu hari Allah membukakan pintu pemahaman yang lebih luas.

Saya kemudian berpikir tentang diri sendiri.

Apakah shalat saya lebih diterima daripada shalat anak muda tadi?

Tidak ada yang bisa menjawab.

Apakah shalat saya lebih baik daripada orang yang celananya berlubang?

Saya pun tidak tahu.

Bahkan mungkin, shalat yang menurut saya sudah benar secara tata cara belum tentu memiliki hati yang benar di hadapan Allah.

Sebab manusia hanya mampu melihat yang lahir.

Allah melihat yang batin.

Manusia menghitung gerakan.

Allah mengetahui ketulusan.

Manusia melihat kekurangan.

Allah mengetahui perjuangan.

Karena itu, mungkin tugas kita bukan menjadi hakim bagi ibadah orang lain.

Tugas kita adalah memperbaiki ibadah sendiri.

Jika melihat seseorang melakukan kekeliruan, tentu bukan berarti kita harus membiarkannya. Nasihat tetap diperlukan. Tetapi nasihat dan penghakiman adalah dua hal yang berbeda.

Nasihat lahir dari kepedulian.

Penghakiman sering kali lahir dari perasaan bahwa diri kita lebih benar.

Cara menyampaikannya pun menentukan.

Ada kalanya satu kalimat yang lembut mampu membuat seseorang mau belajar. Sebaliknya, satu kalimat yang menyakitkan justru membuatnya menjauh dari masjid.

Bayangkan jika seseorang yang baru mulai belajar shalat kemudian mendengar, “Shalatmu tidak sah.”

Barangkali ia bukan hanya malu.

Barangkali ia tidak mau datang lagi.

Padahal mungkin, hari itu adalah salah satu langkah pertamanya kembali kepada Allah.

Bukankah lebih indah jika kita berkata dengan cara yang membuatnya ingin belajar?

“Pak, kalau berkenan, nanti celananya mungkin bisa diperhatikan. Ada bagian yang perlu ditutup ketika shalat.”

Sederhana.

Tidak merendahkan.

Tidak mempermalukan.

Tidak membuat seseorang merasa dirinya lebih buruk daripada orang lain.

Barangkali kita perlu belajar bahwa masjid bukan hanya tempat orang-orang yang sudah sempurna datang beribadah.

Masjid juga tempat orang-orang yang sedang belajar.

Tempat orang yang sedang mencari jalan pulang.

Tempat orang yang baru mulai mengenal Tuhan.

Tempat orang yang mungkin sehari-hari jauh dari agama, tetapi tiba-tiba hatinya tergerak untuk bersujud.

Jangan sampai kita membuat pintu masjid terasa sempit hanya karena standar kesalehan kita terlalu tinggi.

Sebab boleh jadi, orang yang hari ini kita anggap shalatnya tidak sempurna, justru sedang berjalan menuju Allah dengan langkah yang jauh lebih panjang daripada yang kita ketahui.

Dan boleh jadi pula, orang yang merasa shalatnya sudah sempurna justru masih harus belajar satu hal yang paling sulit: rendah hati.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa aturan agama tidak penting.

Justru sebaliknya.

Fikih penting.

Ilmu penting.

Tata cara ibadah penting.

Tetapi ada satu hal yang juga penting: adab kepada sesama manusia.

Kita boleh mengetahui mana yang benar menurut ilmu yang kita pahami. Namun menerima atau tidaknya sebuah amal bukanlah kewenangan kita.

Itu wilayah Allah.

Waallahu a’lam.

Pada akhirnya, saya memilih untuk tidak menjadi hakim bagi sujud orang lain.

Biarlah mereka datang kepada Allah dengan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki hari ini.

Kalau masih keliru, semoga Allah memberi mereka jalan untuk belajar.

Kalau masih kurang, semoga Allah menyempurnakan.

Kalau masih jauh, semoga Allah mendekatkan.

Dan kalau kita merasa sudah lebih tahu, semoga ilmu itu justru membuat kita semakin rendah hati.

Sebab mungkin yang paling penting bukan seberapa sering kita menemukan kesalahan orang lain dalam beribadah, tetapi seberapa sering kita menemukan kekurangan diri sendiri di hadapan Allah.

Sujud orang lain bukan urusan kita.

Yang menjadi urusan kita adalah bagaimana sujud kita sendiri semakin hari semakin membuat hati tunduk.

Sebab pada akhirnya, kita semua akan datang kepada-Nya seorang diri.

Tanpa membawa penilaian kita terhadap orang lain.

Hanya membawa amal, hati, dan rahmat-Nya yang kita harapkan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments