spot_img
BerandaJelajahDelapan Hari yang Tak Pernah Saya Ketahui Ceritanya

Delapan Hari yang Tak Pernah Saya Ketahui Ceritanya

Ia tampak gelisah sesekali tersenyum dan tertawa sendiri terasa ada yang aneh dan ganjil. Tidak seperti jamaah lain yang duduk menunggu panggilan penerbangan. Beberapa orang berusaha mendampinginya agar tetap berada dalam pengawasan rombongan.

Oleh: Hibban M

LESINDO.COM – Ada pelajaran yang tidak selalu ditemukan dari buku, ceramah, atau nasihat seorang ustaz. Kadang ia datang diam-diam dari perjalanan. Dari orang yang bahkan tidak kita kenal. Dari sebuah peristiwa kecil yang pada awalnya tidak berarti apa-apa, tetapi kemudian tinggal lama di dalam pikiran.

Perjalanan umrah kali ini saya niatkan sederhana: beribadah.

Tidak ingin membawa terlalu banyak pikiran tentang dunia. Tidak ingin sibuk dengan urusan yang tidak perlu. Hanya mencoba menata hati agar lebih berhati-hati dalam bersikap, berbicara, dan melihat keadaan orang lain.

Pelajaran itu bermula di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Saat menunggu proses keberangkatan dan pemeriksaan imigrasi, saya duduk di ruang tunggu sambil mengisi daya baterai telepon yang hampir habis.

Tidak jauh dari tempat saya duduk, seorang perempuan kira-kira berusia 48 tahun tampak mencari tempat duduk sekaligus mencari colokan untuk mengisi daya teleponnya.

Ia celingak-celinguk.

Saya kemudian mempersilakannya duduk di tempat kosong di sebelah saya.

“Di sini masih ada tempat untuk ngecas.”

Ia pun duduk.

Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada perkenalan khusus. Kami hanya berbicara seperlunya, kemudian kembali sibuk dengan telepon masing-masing.

Sesederhana itu.

Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan singkat di bandara itu kelak akan kembali hadir dalam ingatan saya.

Delapan hari kemudian.

Madinah dan Makkah menjadi ruang yang berbeda. Hari-hari dipenuhi ibadah, doa, perjalanan, dan aktivitas rombongan.

Dalam satu rombongan besar yang jumlahnya sekitar 150 orang, tidak semuanya saling mengenal. Kami hanya berjumpa pada saat-saat tertentu. Selebihnya menjalani aktivitas masing-masing.

Ada yang kemudian menjadi akrab karena satu kamar. Ada yang sekadar saling menyapa ketika berpapasan.

Selebihnya, kami adalah orang-orang yang dipertemukan dalam perjalanan yang sama.

Barangkali memang begitu kehidupan.

Kita sering berjalan bersama dengan banyak manusia, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang sedang mereka bawa di dalam hati.

Saat perjalanan pulang tiba, Bandara Internasional King Abdul Aziz kembali menjadi tempat berkumpul.

Di tengah kesibukan jamaah, ada pemandangan yang membuat saya terdiam.

Seorang perempuan berlari ke sana kemari di ruang tunggu.

Ia tampak gelisah sesekali tersenyum dan tertawa sendiri terasa ada yang aneh dan ganjil. Tidak seperti jamaah lain yang duduk menunggu panggilan penerbangan. Beberapa orang berusaha mendampinginya agar tetap berada dalam pengawasan rombongan.

Belakangan saya mendengar cerita dari beberapa orang bahwa perempuan itu sedang mengalami gangguan pada kondisi mentalnya.

Saya memperhatikannya dari kejauhan.

Lalu saya seperti mengenali wajah itu.

Perempuan yang beberapa hari sebelumnya duduk di sebelah saya di Soekarno-Hatta.

Perempuan yang ketika itu tampak biasa saja.

Bisa berbicara. Bisa mencari tempat duduk. Bisa berkomunikasi dan berinteraksi sebagaimana orang lain.

Kini, di bandara yang jauh dari tanah air, keadaannya berbeda.

Saya terdiam.

Astaghfirullah.

Bukan karena ingin menghakimi.

Justru karena semakin sadar bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang dialami manusia lainnya.

Ada cerita yang kita dengar tentang kehilangan dompet. Ada yang mengatakan kehilangan uang. Ada pula cerita lain yang beredar dari satu orang ke orang lainnya.

Tetapi saya memilih berhenti di sana.

Sebab saya tidak berada di dalam kehidupannya.

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi selama delapan hari di Madinah dan Makkah.

Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan.

Saya tidak tahu apa yang ia rasakan.

Saya juga tidak tahu apakah kehilangan sesuatu menjadi penyebab, pemicu, atau bahkan tidak berkaitan sama sekali dengan keadaan yang dialaminya.

Maka saya tidak ingin menambah cerita yang tidak saya ketahui kebenarannya.

Bukankah salah satu pelajaran dalam perjalanan ibadah justru belajar menahan diri untuk tidak mudah menyimpulkan kehidupan orang lain?

Peristiwa itu kemudian membawa saya pada satu perenungan.

Kita sering mengira perjalanan ibadah hanya tentang bagaimana mendekat kepada Tuhan.

Padahal mungkin perjalanan itu juga sedang mengajari kita mengenali diri sendiri.

Tentang kesabaran.

Tentang kehilangan.

Tentang keikhlasan.

Tentang bagaimana menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.

Dan terutama tentang berserah.

Kita bisa membawa uang, dokumen, telepon, koper, obat-obatan, dan berbagai persiapan perjalanan.

Tetapi kita tidak pernah bisa membawa kepastian tentang apa yang akan terjadi selama perjalanan.

Sebab manusia hanya bisa merencanakan.

Selebihnya adalah wilayah Tuhan.

Karena itu, saya belajar satu hal dari perempuan yang pernah duduk di sebelah saya di bandara.

Jangan terlalu cepat menilai perjalanan orang lain hanya dari apa yang terlihat.

Seseorang yang hari ini tampak baik-baik saja mungkin sedang menyimpan pergulatan yang tidak kita ketahui.

Seseorang yang kehilangan sesuatu belum tentu sedang mendapat hukuman.

Seseorang yang mengalami cobaan belum tentu karena ibadahnya kurang baik.

Dan seseorang yang terlihat berbeda dari biasanya mungkin sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih berat daripada yang mampu kita bayangkan.

Kita tidak tahu.

Maka, barangkali yang paling baik adalah mendoakan.

Semoga ia mendapatkan pertolongan, ketenangan, dan kembali dalam keadaan baik bersama keluarganya.

Perjalanan umrah akhirnya bukan hanya meninggalkan kenangan tentang Ka’bah, Masjid Nabawi, atau perjalanan antara Makkah dan Madinah.

Ada pelajaran lain yang justru saya bawa pulang.

Bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual.

Ia juga seharusnya mengubah cara kita melihat manusia.

Lebih sedikit berprasangka.

Lebih banyak berdoa.

Lebih berhati-hati ketika berbicara tentang kehidupan orang lain.

Sebab setiap orang membawa cerita yang tidak selalu terlihat.

Dan mungkin, salah satu bentuk keikhlasan yang paling sederhana adalah menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban dari kita.

Ada hal-hal yang cukup kita serahkan kepada Allah.

Kita berusaha.

Kita berdoa.

Kita beristighfar.

Kemudian belajar menerima apa pun yang terjadi dengan hati yang lebih lapang.

Sebab pada akhirnya, perjalanan spiritual bukan hanya tentang seberapa jauh kaki melangkah menuju Baitullah.

Tetapi juga tentang seberapa jauh hati belajar kembali kepada-Nya.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments