Oleh : Faicha M
LESINDO.COM – Tidak semua perjalanan baru dimulai dengan kepastian. Kadang ia justru lahir dari keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang sudah terlalu lama dikenal, lalu memasuki laut yang belum diketahui kedalamannya.
Di sana, peta lama mungkin tidak lagi banyak berguna.
Navigasi harus diperbarui. Cara membaca arah harus disesuaikan. Dan yang paling sulit, dua kepala harus belajar duduk di satu ruang kemudi.
Dua pemikiran tidak selalu sama.
Satu mungkin terbiasa melihat badai sebagai ancaman, sementara yang lain melihatnya sebagai bagian dari perjalanan. Satu ingin bergerak cepat, yang lain memilih berhitung lebih dahulu. Perbedaan seperti itu tidak selalu berarti pertentangan.
Sebab kehidupan tidak membutuhkan dua manusia yang identik.
Yang dibutuhkan adalah dua manusia yang tahu ke mana kapal harus diarahkan.
Tujuannya sama.
Samudra kehidupan terlalu luas untuk menjanjikan laut yang selalu tenang. Akan ada gelombang yang tiba-tiba meninggi. Akan ada angin yang berubah arah. Akan ada malam ketika cakrawala kehilangan cahaya dan kompas menjadi satu-satunya pegangan.
Pada saat itulah karakter berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Kemauan diuji ketika tenaga mulai berkurang.
Kesetiaan diuji ketika perjalanan tidak lagi menyenangkan.
Integritas diuji ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Sebab mempertahankan perjalanan ketika semuanya mudah bukanlah sesuatu yang istimewa. Yang sulit adalah tetap memegang kemudi ketika keadaan memberi alasan untuk melepaskannya.
Kehidupan baru tidak membutuhkan janji bahwa badai tidak akan datang.
Ia membutuhkan keberanian untuk berkata:
“Jika badai datang, kita hadapi.”
Bukan karena kita yakin kapal ini tidak akan pernah rusak, tetapi karena kita tahu setiap perjalanan memang memiliki risikonya sendiri.
Ada kemungkinan tersesat.
Ada kemungkinan salah membaca arah.
Ada kemungkinan keputusan hari ini baru terasa keliru beberapa mil kemudian.
Tetapi manusia tidak pernah benar-benar belajar dari laut yang tenang. Ia belajar ketika harus memperbaiki layar yang robek, mengikat kembali tali yang terlepas, dan menemukan arah setelah kompas sempat kehilangan jarumnya.
Mungkin kehidupan baru memang seperti itu.
Ia tidak datang untuk membuat kita nyaman.
Ia datang untuk membuat kita lebih dewasa.
Dan pada akhirnya, dua manusia yang berjalan bersama tidak perlu memenangkan perdebatan setiap hari. Mereka hanya perlu menjaga agar perbedaan tidak menghilangkan tujuan.
Karena kapal bisa memiliki dua cara membaca peta, tetapi tidak mungkin memiliki dua arah tujuan.
Jika pelabuhannya sama, perbedaan cara berpikir masih bisa menjadi kekuatan.
Yang berbahaya bukan berbeda pikiran.
Yang berbahaya adalah ketika masing-masing merasa hanya dirinya yang paling tahu arah.
Maka perjalanan ini biarlah menjadi perjalanan yang sederhana.
Tidak perlu terlalu banyak suara.
Tidak perlu membuktikan kepada dunia bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Cukup bekerja, menjaga integritas, saling mengingatkan ketika salah arah, dan tetap memegang kemudi ketika laut mulai berubah.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling hebat mengendalikan kapal.
Hidup adalah tentang siapa yang tetap bertahan ketika perjalanan ternyata jauh lebih panjang daripada yang pernah dibayangkan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kapal itu akhirnya mendekati daratan, kita akan menoleh ke belakang dan menyadari:
yang membuat kita sampai bukan karena laut selalu bersahabat, melainkan karena kita tidak membiarkan badai menentukan ke mana kita harus pergi.

