Oleh: Hibban M
LESINDO.COM – Masjid Nabawi selalu memiliki cara sendiri untuk membuat orang enggan beranjak. Setiap hari saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalamnya. Masjid yang begitu luas itu seolah tidak pernah kehabisan penghuni. Ada yang membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, menunggu waktu salat, atau sekadar duduk diam menikmati suasana.
Luasnya seperti berkali-kali lapangan sepak bola. Namun yang membuat orang betah bukan semata-mata kemegahan bangunan, payung-payung raksasa, pendingin udara, karpet yang terbentang luas, atau fasilitas yang serba tertata.
Ada rasa teduh yang sulit dijelaskan.
Rasanya ingin tetap tinggal.
Kalaupun keluar, sering kali hanya berpindah suasana: dari masjid ke hotel, makan sebentar, kemudian kembali lagi ke masjid.
Menjelang salat wajib, ruang yang begitu luas itu perlahan penuh. Saf-saf memanjang. Pelataran pun mulai dipenuhi jamaah.
Hari Jumat bahkan berbeda lagi.
Pukul 10.00 pagi, tempat di dalam masjid sudah sulit ditemukan. Sebagian jamaah terpaksa duduk di sela-sela akses pejalan kaki. Mereka berhimpitan. Yang datang belakangan harus mencari celah, bergeser, menempel dengan jamaah lain.
Di tengah jutaan langkah manusia itu, ternyata ada persoalan sederhana yang kerap terjadi.
Orang tersesat.
Bukan tersesat di jalan gurun. Bukan pula tersesat di kota asing.
Tetapi tersesat di dalam masjid.
Saya pun pernah mengalaminya.
Suatu ketika saya salah mengambil pintu keluar. Saya hendak kembali ke hotel, tetapi setelah keluar suasananya terasa asing. Saya mencari-cari tanda yang saya kenal. Beberapa saat kemudian barulah menemukan arah yang benar.
Saya membayangkan bagaimana jika yang mengalami hal seperti itu adalah orang tua.
Usia sudah lanjut. Penglihatan tidak lagi setajam dulu. Daya ingat pun mungkin tidak sekuat ketika muda. Sementara pintu masjid sangat banyak, arus manusia terus bergerak, dan bangunan di sekitar Masjid Nabawi tampak hampir serupa.
Bagi jamaah yang baru pertama kali datang, semuanya bisa terlihat seperti satu tempat yang sama.
Suatu hari, ketika saya berada di dalam masjid, seseorang tiba-tiba menepuk pundak saya dari belakang.
Saya menoleh.
Seorang lelaki sekitar 65 tahun berdiri di belakang saya. Dari wajah dan caranya memandang, tampak jelas ia sedang kebingungan.
“Mas dari mana?” tanyanya.
“Dari Solo, Pak.”
Ia seperti menemukan orang yang bisa dijadikan tempat berharap.
“Mas, tolong antarkan saya. Saya tertinggal dari rombongan.”
Tangannya kemudian saya pegang.
Kami berjalan perlahan menuju keluar masjid.
“Saya dari Metro, Lampung,” katanya pelan.
Di tempat sebesar Masjid Nabawi, bagaimana mungkin saya bisa menemukan rombongannya?
Saya pun bertanya apakah ia membawa tanda pengenal.
Syukurlah, masih ada kalung identitas yang tergantung di lehernya. Di sana tercantum nama operator umrah beserta nomor telepon.
Saya mencoba menghubungi nomor tersebut.
Tidak tersambung.
Saya coba lagi.
Tidak ada jawaban.
Sekali lagi.
Masih belum ada.
Wajah lelaki itu tampak semakin cemas.
Mungkin dalam pikirannya, ia sedang berada di tengah lautan manusia yang tidak dikenalnya. Ia tahu dirinya berada di Masjid Nabawi, tetapi tidak tahu harus menuju ke mana.
Di situlah saya merasa, tersesat bukan selalu soal kehilangan arah. Kadang seseorang hanya kehilangan orang yang menjadi tempat ia merasa aman.
Beberapa kali saya menelepon.
Akhirnya, panggilan tersambung.
Suara di seberang terdengar putus-putus. Operator memberikan petunjuk menuju sebuah pintu dengan nomor tertentu.
Kami mengikuti arah tersebut.
Beberapa menit kemudian, dari kejauhan terlihat beberapa orang seperti sedang mencari seseorang.
Rombongannya.
Wajah lelaki itu berubah.
Ada kelegaan yang sulit disembunyikan.
Ia bertemu kembali dengan orang-orang yang sejak tadi dicarinya.
Tangannya masih berada di tangan saya ketika ia mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang sempat panik di tengah ribuan bahkan jutaan manusia, menemukan kembali rombongan mungkin terasa seperti menemukan jalan pulang.
Operator umrah itu kemudian menawarkan kepada saya untuk ikut bersama rombongan menuju Raudhah.
Saya menolaknya dengan halus.
Saya percaya setiap jamaah memiliki waktunya masing-masing.
Toh, saya juga akan mendapatkan kesempatan untuk masuk Raudhah.
Dan ternyata, saya tidak salah menunggu.
Ketika tiba giliran saya, seorang teman berdoa agar kami mendapatkan waktu kunjungan yang bertepatan dengan salat Asar.
“Semoga nanti masuknya pas waktu Asar, supaya bisa lebih lama,” doanya.
Entah kebetulan atau doa yang menemukan jalannya sendiri, harapan itu terkabul.
Kami dapat melaksanakan salat Asar di dalam Raudhah dan memiliki waktu untuk berdoa sedikit lebih lama dibandingkan kunjungan yang biasanya berlangsung cepat karena harus bergantian dengan jamaah lain.
Saya kemudian teringat lelaki dari Metro tadi.
Mungkin memang ada sesuatu yang tidak perlu dipaksakan manusia.
Hari itu saya menolong seseorang menemukan rombongannya.
Dan beberapa waktu kemudian, saya sendiri menemukan kesempatan yang mungkin justru lebih baik dengan menunggu giliran.
Di Masjid Nabawi, saya kemudian semakin memahami bahwa manusia bisa tersesat dalam banyak cara.
Ada yang tersesat karena tidak mengenali pintu.
Ada yang tersesat karena kehilangan rombongan.
Ada yang tersesat karena terlalu banyak manusia di sekelilingnya.
Tetapi ada pula orang yang secara fisik tahu ke mana harus berjalan, sementara batinnya tidak tahu hendak menuju ke mana.
Masjid Nabawi mengajarkan sesuatu yang sederhana.
Di tempat yang begitu luas, manusia ternyata tetap membutuhkan manusia lain.
Seorang lelaki berusia 65 tahun hanya membutuhkan satu orang untuk memegang tangannya.
Bukan karena ia tidak mampu berjalan.
Tetapi karena ketika seseorang sedang panik, tangan orang lain bisa menjadi penunjuk arah.
Saya juga kemudian menyadari, mungkin itulah salah satu wajah ibadah yang sering luput kita lihat.
Ibadah bukan hanya tentang berapa banyak rakaat yang kita dirikan, berapa lama kita berdoa, atau berapa kali kita mengucapkan zikir.
Kadang ibadah hadir dalam bentuk yang sangat sederhana:
menolong seseorang menemukan jalan pulang.
Masjid Nabawi memang luas.
Tetapi manusia yang berada di dalamnya tidak selalu memiliki ketenangan yang sama luasnya.
Ada yang datang dengan hati lapang.
Ada yang datang membawa kerinduan.
Ada yang sibuk mencari pintu.
Ada yang mencari rombongan.
Ada pula yang diam-diam mencari dirinya sendiri.
Karena itu, ketika melihat seseorang berjalan kebingungan, jangan buru-buru menganggapnya ceroboh.
Bisa jadi ia sedang panik.
Bisa jadi ia sudah lanjut usia.
Bisa jadi ia baru pertama kali berada di tempat sebesar itu.
Atau mungkin, ia hanya sedang membutuhkan seseorang untuk berkata:
“Mari, saya antar.”
Sebab dalam perjalanan menuju Tuhan, manusia pun sesekali kehilangan arah.
Dan barangkali, pertolongan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk mukjizat besar.
Kadang ia hadir melalui telapak tangan seorang asing yang dengan sederhana berkata,
“Bapak, mari saya bantu mencari jalan.”

