spot_img
BerandaLensa Indonesia“Ada Kemiskinan yang Tumbuh Diam-Diam di Dalam Diri.”

“Ada Kemiskinan yang Tumbuh Diam-Diam di Dalam Diri.”

Itulah yang bisa disebut sebagai mental block—hambatan batin yang membuat seseorang sulit melihat kemungkinan, bahkan ketika kesempatan sebenarnya berada di dekatnya.

Oleh : Adreena AM 

Mungkin Bukan Rezekinya yang Sempit

LESINDO.COM – Pagi belum benar-benar ramai ketika seorang anak muda sudah berada di tempat kerja. Tangannya bergerak. Tubuhnya lelah. Ia menyelesaikan pekerjaan satu demi satu. Tidak banyak bicara, apalagi mengeluh. Kalau ada pekerjaan tambahan, ia kerjakan. Kalau ada kesulitan, ia coba cari jalan keluarnya sendiri.

Ia bukan pemalas.

Ia juga bukan orang yang suka menyerah.

Bertahun-tahun ia merintis dari bawah dengan keyakinan sederhana: bekerja keras suatu saat akan membawa seseorang ke tempat yang lebih baik.

Namun suatu sore, ketika pekerjaan telah selesai dan ia duduk sendirian, pertanyaan itu kembali muncul.

“Mengapa hidup saya begini-begini saja?”

Temannya yang bekerja bersamanya sudah memiliki usaha. Ada yang membeli rumah. Ada yang mulai menikmati hasil kerja kerasnya.

Sementara ia merasa masih berjalan di tempat.

Ia kemudian menyebut satu kata yang paling mudah untuk menjelaskan semuanya:

nasib.

“Mungkin memang belum rezeki.”

Kalimat itu terdengar seperti pasrah.

Tetapi kalau diperhatikan lebih dalam, mungkin ada sesuatu yang lain.

Keberuntungan memang sulit dijelaskan.

Ada orang yang bekerja keras bertahun-tahun, tetapi hasilnya datang perlahan. Ada yang baru memulai, kesempatan seperti datang bertubi-tubi.

Kita sering menyebutnya keberuntungan.

Padahal keberuntungan bukan hanya tentang apa yang datang kepada seseorang. Ada pula tentang bagaimana seseorang menyambut apa yang datang.

Ada orang ketika mendapat sedikit, hatinya lapang.

Ketika mendapat banyak, ia tidak berubah.

Ketika melihat orang lain berhasil, ia ikut senang.

Ketika gagal, ia bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang bisa saya perbaiki?

Orang seperti ini mungkin tidak selalu cepat sampai.

Tetapi langkahnya jarang berhenti.

Sebaliknya, ada orang yang tanpa sadar membangun tembok di dalam dirinya sendiri.

Tembok itu tidak terlihat.

Namanya keluhan.

Sedikit-sedikit mengeluh. Merasa hidup orang lain lebih mudah. Merasa dunia tidak adil. Merasa dirinya paling sering mendapat bagian yang kurang.

Lama-lama keluhan bukan lagi sekadar ucapan.

Ia berubah menjadi cara berpikir.

Dan cara berpikir yang terus diulang bisa menjadi karakter.

Coba perhatikan seseorang yang setiap hari merasa kekurangan.

Ketika orang lain mendapatkan rezeki, ia bertanya, “Mengapa bukan saya?”

Ketika temannya dipuji, ia mencari kekurangannya.

Ketika orang lain berhasil, ia merasa ada sesuatu yang salah.

Ketika mendapat kesempatan, ia curiga.

Ketika gagal, orang lain yang disalahkan.

Tangannya ingin selalu menerima, tetapi berat ketika diminta memberi.

Matanya senang melihat kesalahan orang lain, tetapi enggan bercermin.

Hatinya sulit menikmati kebahagiaan orang lain.

Tanpa sadar, ia sedang membangun sebuah ruang yang semakin sempit di dalam dirinya.

Itulah yang bisa disebut sebagai mental block—hambatan batin yang membuat seseorang sulit melihat kemungkinan, bahkan ketika kesempatan sebenarnya berada di dekatnya.

Bukan berarti orang yang miskin secara ekonomi pasti memiliki mental block.

Sama sekali bukan.

Kemiskinan adalah persoalan yang jauh lebih kompleks. Ada struktur ekonomi, kesempatan, pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan banyak keadaan yang berada di luar kendali seseorang.

Tetapi ada pula kemiskinan yang tumbuh diam-diam dari dalam diri:

kemiskinan rasa syukur,

kemiskinan empati,

kemiskinan keberanian untuk berubah.

Yang menarik, mental block kadang justru muncul setelah seseorang memperoleh keberhasilan.

Saat berada di bawah, ia rendah hati.

Ketika sudah di atas, ia mulai lupa.

Ucapan berubah.

Cara memandang orang berubah.

Ia mulai menikmati keberhasilan dengan cara membuat orang lain merasa lebih rendah.

Mungkin ia sedang berada di atas angin.

Tetapi angin tidak pernah berjanji akan bertiup ke satu arah selamanya.

Jabatan bisa berpindah.

Uang bisa habis.

Panggung bisa berganti.

Orang-orang yang dahulu bertepuk tangan bisa pergi.

Yang tersisa kemudian adalah karakter.

Di situlah keberhasilan diuji.

Bukan ketika seseorang memperoleh sesuatu, melainkan ketika ia tetap mampu menjadi manusia yang baik setelah memperoleh banyak hal.

Sebab orang yang benar-benar kaya tidak selalu yang paling banyak memiliki.

Kadang ia adalah orang yang masih mampu memberi ketika dirinya sendiri tidak berlebihan.

Masih mampu tersenyum ketika melihat orang lain berhasil.

Masih mampu berkata, “Alhamdulillah,” ketika rezeki datang kepada orang lain.

Mungkin keberuntungan memang memiliki lakunya sendiri.

Ia menyukai tangan yang ringan membantu.

Ia menemukan tempat pada hati yang sabar.

Ia lebih mudah tinggal pada jiwa yang tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Kerja keras tetap penting.

Doa tetap penting.

Ikhtiar tetap penting.

Tetapi semuanya membutuhkan batin yang tidak terus-menerus dipenuhi prasangka dan keluhan.

Sebab apa gunanya pintu kesempatan terbuka jika kita terlalu sibuk mengatakan bahwa hidup selalu tidak adil?

Apa gunanya seseorang datang membawa pertolongan jika hati kita hanya mengenal curiga?

Apa gunanya keberhasilan jika setelah mendapatkannya kita kehilangan kerendahan hati?

Anak muda itu akhirnya kembali berdiri.

Besok pagi ia mungkin masih akan bekerja seperti biasa.

Belum tentu hidupnya langsung berubah.

Belum tentu keberuntungan tiba setelah ia selesai membaca tulisan ini.

Tetapi mungkin ada satu hal yang bisa diubah lebih dahulu:

cara memandang hidup.

Ia tidak harus menyangkal kesulitan.

Ia hanya perlu berhenti memelihara keyakinan bahwa dirinya selalu menjadi korban keadaan.

Sebab hidup memang tidak selalu memberi apa yang kita inginkan.

Tetapi hampir selalu memberi ruang untuk belajar.

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk menunggu keberuntungan datang dari luar.

Padahal ada pintu lain yang lebih dekat:

pintu di dalam diri sendiri.

Dan mungkin, sebelum mengetuk pintu rezeki, kita perlu terlebih dahulu membuka pintu hati.

Sebab bisa jadi bukan rezeki kita yang terlalu sempit.

Kitalah yang tanpa sadar telah membuat ruang di dalam diri menjadi terlalu sempit untuk menerima.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments