spot_img
BerandaJelajahjelajahYang Kita Cintai, Juga Menguji Kita

Yang Kita Cintai, Juga Menguji Kita

Dan jika kita memilih kehidupan, belajarlah menerima bahwa bahagia dan luka akan selalu berjalan berdampingan.

LESINDO.COM – Ada alasan mengapa orang bersedia berjalan jauh hanya untuk melihat matahari terbit dari puncak gunung.

Barangkali bukan semata karena pemandangan yang menunggu di atas sana. Bukan pula sekadar untuk mendapatkan sebuah foto dengan latar langit yang perlahan berubah warna. Ada sesuatu yang lebih dalam: keinginan untuk merasakan bahwa setelah melewati perjalanan panjang, sesak napas, kaki yang pegal, dingin yang menggigit, dan berkali-kali keinginan untuk berhenti, akhirnya ada sebuah tempat yang membuat semua lelah terasa memiliki arti.

Begitulah alam mengajarkan sesuatu yang sederhana kepada manusia.

Tidak ada keindahan yang datang sendirian.

Gunung menawarkan puncak, tetapi menyimpan tanjakan. Laut menawarkan cakrawala, tetapi juga memiliki gelombang. Senja menjanjikan warna yang indah, tetapi hanya datang setelah matahari menempuh perjalanan panjang menuju ufuk.

Mungkin hidup pun demikian.

Kita sering tertarik pada sesuatu karena keindahannya. Kita memilih pekerjaan karena membayangkan keberhasilannya. Menikah karena berharap menemukan kebahagiaan. Mengejar sebuah cita-cita karena membayangkan hari ketika impian itu menjadi kenyataan.

Namun, tidak banyak yang sejak awal bersedia menerima bagian yang tidak indah dari pilihan itu.

Kita ingin puncaknya, tetapi sering lupa bahwa puncak mempunyai jalan.

Kita ingin keberhasilan, tetapi kadang tidak siap menghadapi kegagalan yang mungkin datang berkali-kali. Kita ingin dicintai, tetapi belum tentu siap menerima perbedaan. Kita ingin kehidupan yang tenang, tetapi sering lupa bahwa ketenangan bukan berarti tidak ada badai.

Seorang pendaki barangkali memahami hal itu lebih baik.

Ia tahu bahwa foto di puncak hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi untuk sampai ke sana, ia harus berjalan berjam-jam. Kadang melewati jalan licin, bebatuan, kabut, atau udara dingin yang membuat jari-jari terasa kaku.

Ia tidak sedang marah kepada gunung karena jalan yang terjal.

Sebab sejak awal ia tahu: puncak memang datang bersama perjalanan.

Demikian pula seseorang yang memilih hidupnya sendiri.

Ketika kita memutuskan mencintai sebuah jalan, sebenarnya kita sedang menerima seluruh paket perjalanan itu. Ada bahagia, tetapi ada pula kecewa. Ada pertemuan, tetapi ada perpisahan. Ada keberhasilan, tetapi juga kegagalan. Ada hari ketika langkah terasa ringan, dan ada hari ketika sekadar bertahan sudah merupakan sebuah pencapaian.

Sayangnya, manusia sering ingin mengambil hanya bagian yang menyenangkan.

Ketika laut tenang, kita menyebutnya indah. Ketika ombak meninggi, kita menyebutnya masalah.

Ketika hidup memberikan rezeki, kita menyebutnya berkah. Ketika keadaan berbalik dan memaksa kita bersabar, kita bertanya mengapa harus mengalami semua itu.

Padahal, boleh jadi keduanya sedang mengajarkan hal yang sama: bahwa kehidupan tidak pernah menjanjikan satu warna.

Seperti laut yang tidak hanya berisi permukaan biru dan matahari yang memantul di atasnya, hidup juga memiliki kedalaman yang tidak selalu bisa dilihat dari kejauhan.

Ada badai yang baru diketahui setelah kita berada di tengah perjalanan.

Ada kehilangan yang tidak pernah masuk dalam rencana.

Ada kegagalan yang semula terasa seperti akhir, tetapi bertahun-tahun kemudian justru dikenang sebagai titik ketika seseorang belajar menjadi lebih kuat.

Karena itu, barangkali kedewasaan bukan tentang bagaimana menghindari seluruh kesulitan.

Kedewasaan adalah kemampuan untuk tetap berjalan ketika kesulitan datang.

Bukan berarti seseorang tidak boleh lelah. Pendaki pun sesekali duduk, mengatur napas, minum, kemudian melanjutkan perjalanan. Berhenti sebentar bukan berarti menyerah.

Begitu pula dalam hidup.

Ada saat ketika kita perlu beristirahat dari sesuatu yang terlalu berat. Ada waktu untuk mengakui bahwa kita kecewa. Ada kesempatan untuk menangis tanpa harus merasa kalah.

Tetapi setelah itu, hidup meminta kita memilih: tetap tinggal dalam luka atau perlahan kembali melangkah.

Mungkin itulah sebabnya sebuah puncak tidak pernah benar-benar hanya berbicara tentang ketinggian.

Ia berbicara tentang perjalanan.

Tentang kaki yang tetap melangkah meski tubuh meminta berhenti. Tentang hati yang belajar menerima bahwa jalan menuju sesuatu yang dicintai tidak selalu mudah.

Dan ketika akhirnya sampai di atas, seseorang mungkin baru menyadari bahwa pemandangan indah itu hanyalah sebagian kecil dari hadiah.

Hadiah yang lebih besar justru adalah dirinya yang telah berubah sepanjang perjalanan.

Ia menjadi lebih sabar. Lebih mengenal batas dirinya. Lebih menghargai teman seperjalanan. Lebih memahami bahwa tidak semua tujuan harus dicapai dengan tergesa-gesa.

Begitu pula hidup.

Jangan hanya mencintai pekerjaan ketika mendapat penghargaan. Jangan hanya mencintai keluarga ketika semuanya berjalan sesuai keinginan. Jangan hanya mencintai sebuah impian ketika jalan menuju ke sana dipenuhi kemudahan.

Cintailah perjalanan itu secara utuh.

Sebab setiap pilihan membawa konsekuensi.

Jika kita memilih laut, bersiaplah bertemu ombak.

Jika kita memilih gunung, terimalah tanjakan.

Jika kita memilih sebuah impian, bersiaplah bertemu kegagalan.

Dan jika kita memilih kehidupan, belajarlah menerima bahwa bahagia dan luka akan selalu berjalan berdampingan.

Barangkali di situlah keindahan hidup yang sebenarnya.

Bukan karena perjalanan selalu mudah, melainkan karena di antara jalan yang terjal, manusia menemukan dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah perjalanan berharga bukan hanya tentang seberapa indah tempat yang kita tuju, tetapi tentang siapa diri kita setelah berhasil melewati jalan menuju ke sana.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments