Oleh : R. Adilla
Kebaikan tidak berarti membiarkan diri terus disakiti.
LESINDO.COM – Ada anggapan bahwa orang baik harus selalu memaafkan, selalu memberi kesempatan, selalu membuka pintu, bahkan ketika berkali-kali dirinya diperlakukan buruk.
Tidak.
Menjaga hati bukan berarti membiarkan orang lain menginjaknya.
Ada saat ketika kebaikan justru berbentuk ketegasan.
Mengatakan tidak.
Menarik diri.
Membuat batas.
Berhenti menjelaskan diri kepada orang yang memang tidak ingin memahami.
Tidak lagi membalas pesan.
Tidak lagi ikut dalam permainan yang sama.
Pergi tanpa membawa dendam.
Itu bukan kebencian.
Itu adalah cara seseorang menjaga agar dirinya tidak ikut menjadi buruk.
Sebab menjadi baik tidak sama dengan menjadi lemah.
Orang yang baik juga boleh memiliki batas.
Orang yang pemaaf juga boleh belajar.
Orang yang tulus juga boleh berhenti memberi kepada tangan yang terus-menerus menggunakan ketulusan sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan.
Yang harus dijaga bukan hubungan dengan semua orang.
Yang harus dijaga adalah hubungan kita dengan diri sendiri dan dengan Tuhan.
Sebab pada akhirnya manusia akan pergi silih berganti. Ada yang datang membawa kebahagiaan. Ada yang meninggalkan luka. Ada yang menjadi sahabat. Ada yang justru menjadi pelajaran.
Tidak semuanya harus kita bawa sampai ke masa depan.
Ada orang yang cukup kita kenang sebagai pengalaman.
Ada pula yang cukup kita doakan dari kejauhan.
Bukan karena kita tidak mampu membalas.
Tetapi karena kita sadar, membalas keburukan dengan keburukan hanya akan membuat kita masuk ke dalam lingkaran yang sama.
Kita mungkin merasa menang ketika berhasil menyakiti orang yang pernah menyakiti kita.
Tetapi kemenangan semacam itu sering meninggalkan sesuatu yang lebih mahal: ketenangan hati.
Karena setelah semuanya selesai, kita harus hidup dengan diri kita sendiri.
Dan hati memiliki ingatan yang panjang.
Ia mungkin mampu menyembunyikan sebuah perbuatan dari manusia, tetapi sulit menyembunyikannya dari dirinya sendiri.
Barangkali karena itu, memilih tetap baik bukan berarti kita tidak mengerti bagaimana dunia bekerja.
Kita tahu manusia bisa licik.
Kita tahu ketulusan bisa dimanfaatkan.
Kita tahu tidak semua senyum berarti persahabatan.
Kita tahu tidak semua orang yang datang membawa niat baik.
Tetapi mengetahui keburukan dunia tidak mengharuskan kita menjadi bagian dari keburukan itu.
Justru kedewasaan mungkin terletak pada kemampuan untuk melihat keburukan tanpa menirunya.
Seperti seseorang yang berjalan melewati lumpur tanpa merasa harus menjadi lumpur.
Kita tidak harus membalas semua hal.
Tidak semua tuduhan harus dijawab.
Tidak semua fitnah harus diluruskan.
Tidak semua orang harus diyakinkan bahwa kita baik.
Ada saat ketika diam lebih bermartabat daripada penjelasan panjang.
Ada saat ketika pergi lebih sehat daripada terus berdebat.
Dan ada saat ketika menyerahkan semuanya kepada Tuhan jauh lebih menenangkan daripada menghabiskan hidup untuk menghitung siapa yang salah dan siapa yang benar.
Sebab Tuhan mengetahui sesuatu yang tidak diketahui manusia: isi hati.
Kita mungkin dinilai buruk oleh seseorang yang hanya melihat satu potongan kecil dari perjalanan kita. Kita mungkin dianggap tidak peduli hanya karena tidak lagi membantu. Kita mungkin disebut berubah hanya karena mulai memiliki batas.
Biarlah.
Tidak semua penilaian manusia harus kita luruskan.
Ada kebaikan yang cukup diketahui Tuhan.
Ada air mata yang tidak perlu disaksikan siapa-siapa.
Ada perjuangan yang tidak perlu diberi nama.
Dan ada ketulusan yang justru menjadi lebih bernilai ketika tidak pernah mendapatkan penghargaan.
Mungkin inilah bentuk keteguhan yang paling sulit: tetap menjadi diri sendiri setelah orang lain memberi kita cukup banyak alasan untuk berubah menjadi buruk.
Tetap jujur setelah pernah dibohongi.
Tetap lembut setelah pernah dikasari.
Tetap peduli setelah pernah diabaikan.
Tetap menolong, meski kita belajar lebih selektif kepada siapa tangan itu diulurkan.
Bukan karena orang lain pantas mendapatkan semua kebaikan kita.
Tetapi karena kita tidak ingin kehilangan diri kita sendiri.
Sebab ada hal yang tidak boleh diberikan kepada siapa pun: hak untuk menentukan kualitas hati kita.
Orang lain boleh menyakiti.
Mereka boleh mengecewakan.
Mereka boleh pergi.
Tetapi mereka tidak boleh mendapatkan kekuasaan untuk mengubah kita menjadi seseorang yang tidak kita kenal.
Jika hari ini ada seseorang yang membuat kita kecewa, mungkin tidak perlu bertanya, “Mengapa dia sejahat itu?”
Tanyakan sesuatu yang lebih penting:
“Setelah semua ini terjadi, saya ingin menjadi manusia seperti apa?”
Jika jawabannya masih sama seperti sebelum luka itu datang—tetap ingin menjadi manusia yang jujur, baik, rendah hati, dan tidak menyakiti orang lain—maka barangkali kita telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah pertengkaran.
Kita telah menyelamatkan hati sendiri.
Dan mungkin itulah bentuk kemenangan yang sesungguhnya:
bukan berhasil membalas keburukan, melainkan berhasil melewatinya tanpa berubah menjadi buruk.
Sebab dunia sudah cukup ramai oleh orang yang saling melukai.
Jangan tambahkan satu lagi.
Dan jika kebaikan kita suatu hari dianggap salah tempat, tidak dihargai, bahkan disalahpahami, biarlah Tuhan yang menjadi tempat kita mengembalikan semuanya.
Kita hanya perlu terus berjalan.
Dengan hati yang lebih bijaksana.
Dengan batas yang lebih sehat.
Dengan luka yang perlahan sembuh.
Dan dengan satu keyakinan sederhana:
orang lain boleh mengajarkan kita tentang buruknya dunia, tetapi jangan pernah beri mereka hak untuk mengajarkan kita menjadi buruk.

