spot_img
BerandaLensa IndonesiaManusia yang Sibuk Menghakimi, Lupa Memperbaiki Diri

Manusia yang Sibuk Menghakimi, Lupa Memperbaiki Diri

Ketika Ibadah Kehilangan Ruh dan Hati Mengeras Menilai sesama tanpa mengoreksi diri sendiri berisiko menjadikan kesalehan sekadar penampilan. Ibadah semestinya membentuk kerendahan hati, kepedulian, dan kesediaan

LESINDO.COM  — Kesalehan seseorang tidak semestinya diukur hanya dari rutinitas ibadah dan penampilan lahiriah. Sikap terhadap sesama, kemampuan mengendalikan ego, serta kesediaan melakukan introspeksi menjadi bagian penting dalam memaknai kehidupan beragama.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang dijumpai sikap seseorang yang lebih sibuk menilai kesalahan orang lain daripada mengoreksi kekurangan dirinya sendiri. Kebiasaan tersebut berpotensi menumbuhkan kesombongan moral, terutama ketika seseorang merasa amal ibadahnya telah menjamin penerimaan di hadapan Tuhan.

Ibadah yang dijalankan sebatas menggugurkan kewajiban juga perlu menjadi bahan perenungan. Ritual keagamaan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan gerakan dan bacaan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai ibadah tercermin dalam perilaku, kejujuran, kepedulian, dan hubungan sosial.

Dalam perspektif refleksi keagamaan, muhasabah atau evaluasi diri merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki kualitas kehidupan spiritual. Seseorang diajak untuk tidak berhenti pada penilaian terhadap orang lain, melainkan berani melihat kelemahan, mengakui kesalahan, dan membuka ruang bagi pertobatan.

Sikap tawaduk atau rendah hati menjadi salah satu nilai yang perlu dijaga. Kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dapat mendorong seseorang untuk tidak mudah menghakimi sesama. Sebaliknya, perasaan paling benar dan paling suci dapat menjauhkan seseorang dari empati serta kasih sayang.

Kehidupan yang hanya berputar pada rutinitas bangun pagi, bekerja, dan pulang ke rumah juga membutuhkan perenungan tentang makna. Kesibukan sehari-hari semestinya tidak menghilangkan kesadaran bahwa setiap aktivitas dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kebaikan, tanggung jawab, dan kebermanfaatan bagi orang lain.

Karena itu, kesalehan tidak cukup berhenti pada simbol dan rutinitas. Ia perlu hadir dalam sikap yang lebih lembut, kejujuran dalam tindakan, serta kemampuan menahan diri dari prasangka dan penghakiman.

Pada akhirnya, muhasabah mengajak setiap orang untuk mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri: Sudahkah ibadah yang dijalankan membentuk pribadi yang lebih rendah hati, atau justru memperkuat ego dan perasaan paling benar?

Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa memperbaiki diri merupakan proses yang terus berlangsung. Sebelum sibuk mengukur kekurangan orang lain, manusia perlu berani menengok ke dalam dirinya sendiri. (Gus)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments