spot_img
BerandaJelajahjelajahUIN Surakarta Bawa Eco-Synergy ke Nominasi QS ImpACT Awards 2026

UIN Surakarta Bawa Eco-Synergy ke Nominasi QS ImpACT Awards 2026

Mengintegrasikan nilai Islam, pendidikan keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat dalam merespons tantangan perubahan iklim.

Dari Nilai Keislaman ke Aksi Ekologis

LESINDO.COM — Gagasan tentang keberlanjutan tidak selalu bermula dari laboratorium, teknologi mutakhir, atau kebijakan pemerintah. Di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, gagasan itu dikembangkan melalui pertautan nilai-nilai Islam, pendidikan, inovasi, dan kehidupan masyarakat.

Inisiatif tersebut terangkum dalam Eco-Synergy for Sustainable Communities: Integrating Islamic Values, Innovation and Community, yang masuk nominasi Climate Education For Change Award (Organisation) dalam ajang 2026 QS ImpACT Awards.

Nominasi ini diberikan setelah Impact Report inisiatif tersebut disetujui oleh QS ImpACT. Pengakuan itu membuka kesempatan bagi UIN Raden Mas Said Surakarta untuk memperkenalkan pendekatan keberlanjutan berbasis nilai dan pemberdayaan masyarakat dalam forum internasional yang berkaitan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Bagi Muhammad Nanang Qosim, penggagas Eco-Synergy, keberlanjutan tidak semestinya berhenti sebagai wacana lingkungan. Ia perlu dihidupkan melalui pendidikan, nilai, inovasi, dan praktik keseharian masyarakat.

“Keberlanjutan tidak cukup hanya dibicarakan sebagai isu lingkungan. Ia harus menjadi bagian dari pendidikan, nilai, inovasi, dan praktik kehidupan masyarakat. Dalam konteks UIN, nilai-nilai Islam dapat menjadi fondasi penting untuk membangun kesadaran ekologis sekaligus mendorong aksi nyata menuju masyarakat yang berkelanjutan,” ujar Muhammad Nanang Qosim di Surakarta, Kamis (24/9/2026).

Merajut Agama, Pengetahuan, dan Lingkungan

Eco-Synergy dikembangkan dari gagasan bahwa agenda keberlanjutan di perguruan tinggi membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Teknologi dan kebijakan tetap diperlukan, tetapi keduanya perlu berjalan bersama nilai, budaya, serta keterlibatan masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, nilai-nilai Islam menjadi salah satu landasan konseptual untuk menumbuhkan kesadaran tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Pengetahuan akademik dan inovasi kemudian dipertautkan dengan partisipasi masyarakat agar keberlanjutan tidak hanya menjadi materi pembelajaran, melainkan juga diarahkan pada praktik yang memiliki dampak sosial dan ekologis.

Pendekatan itu menempatkan perguruan tinggi bukan semata-mata sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang menghadapi persoalan lingkungan secara langsung.

“Perguruan tinggi Islam memiliki modal nilai yang kuat untuk ikut menjawab persoalan keberlanjutan. Tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi inovasi, pendidikan, dan aksi yang dapat diukur dampaknya,” kata Nanang.

Di titik itulah Eco-Synergy berusaha mempertemukan nilai keagamaan dan agenda pembangunan berkelanjutan. Nilai tidak hanya menjadi gagasan normatif, sedangkan inovasi tidak berdiri sendiri sebagai pencapaian teknis. Keduanya diharapkan dapat saling menguatkan melalui pendidikan dan keterlibatan masyarakat.

Ketika Gagasan Lokal Menemui Forum Global

Masuknya Eco-Synergy dalam nominasi Climate Education For Change Award (Organisation) menjadi bagian dari perjalanan gagasan tersebut menuju ruang pengakuan internasional.

Melalui Impact Report QS ImpACT, inisiatif itu dikembangkan dalam kerangka yang menghubungkan pendidikan, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengajuan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan pendekatan UIN Surakarta dalam merespons persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

Bagi perguruan tinggi Islam, pendekatan berbasis nilai menawarkan ruang untuk mengembangkan perspektif yang berangkat dari tradisi intelektual dan kehidupan keagamaan, sekaligus berdialog dengan tuntutan pembangunan berkelanjutan global.

Namun, tantangan keberlanjutan tidak selesai hanya dengan merumuskan gagasan. Nilai-nilai yang diusung perlu diterjemahkan ke dalam program, praktik, dan ukuran dampak yang dapat ditelusuri. Di sinilah pendidikan dan inovasi memperoleh peran penting sebagai jembatan antara pemikiran dan tindakan.

Eco-Synergy menempatkan hubungan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat berkelanjutan. Gagasan yang berangkat dari konteks lokal itu kemudian dikomunikasikan melalui mekanisme penghargaan internasional.

Menanti Pengumuman di London

QS ImpACT menjadwalkan pengumuman dan perayaan pemenang 2026 QS ImpACT Awards dalam rangkaian QS ImpACT Youth Summit di London, 5–6 Desember 2026.

Nominasi ini menjadi kesempatan bagi UIN Raden Mas Said Surakarta untuk membawa gagasan tentang keberlanjutan berbasis nilai Islam, inovasi, dan partisipasi masyarakat ke dalam percakapan global mengenai pendidikan dan perubahan iklim.

Bagi Nanang, perjalanan Eco-Synergy memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan dapat tumbuh dari konteks lokal, dikembangkan melalui lingkungan akademik, dan dikomunikasikan dalam forum internasional.

Keberlanjutan, dalam kerangka itu, bukan sekadar persoalan menjaga lingkungan. Ia juga menyangkut cara manusia membangun hubungan dengan pengetahuan, nilai, dan sesamanya. Dari ruang perguruan tinggi, gagasan tersebut diharapkan menemukan bentuk yang lebih nyata dalam kehidupan masyarakat. (Nang)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments