spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Jangan Biarkan Orang yang Buruk Mengajari Kita Menjadi...

Part 1 : Jangan Biarkan Orang yang Buruk Mengajari Kita Menjadi Buruk

Kita tidak bisa memilih bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana kita meresponsnya.

Oleh : R. Adilla

LESINDO.COM – Ada orang yang datang dalam hidup kita bukan untuk menetap, melainkan untuk menguji seberapa kuat kita menjaga diri.

Mereka mengajarkan kita tentang pengkhianatan, tanpa pernah bermaksud mengajarkannya. Mereka memperlihatkan bagaimana kepercayaan bisa disalahgunakan, kebaikan bisa dimanfaatkan, dan ketulusan bisa dianggap sebagai kelemahan.

Ada pula orang yang membalas kejujuran dengan kebohongan, perhatian dengan pengabaian, dan kebaikan dengan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita sangka.

Pada awalnya kita mungkin hanya terluka.

Lalu kecewa.

Kemudian marah.

Dan tanpa disadari, muncul keinginan yang paling berbahaya: menjadi seperti mereka agar tidak lagi menjadi korban.

Di situlah perang yang sesungguhnya dimulai.

Bukan perang dengan orang lain, melainkan perang di dalam diri sendiri.

Kita mulai berpikir, kalau mereka bisa berbuat buruk kepada kita, mengapa kita harus tetap baik kepada mereka? Kalau mereka tidak punya hati, mengapa kita harus terus menggunakan hati?

Pertanyaan itu terdengar masuk akal ketika hati sedang terluka.

Namun ada satu hal yang sering kita lupa: keburukan orang lain tidak boleh menjadi guru bagi moralitas kita.

Jangan biarkan orang yang berbohong mengajari kita untuk berbohong.

Jangan biarkan orang yang mengkhianati mengajari kita untuk mengkhianati.

Jangan biarkan orang yang tidak tahu berterima kasih membuat kita kehilangan kemampuan untuk bersyukur.

Dan jangan biarkan seseorang yang pernah menyakiti kita menentukan siapa diri kita setelahnya.

Sebab jika itu terjadi, orang tersebut bukan hanya berhasil melukai kita.

Ia berhasil mengubah kita.

Barangkali inilah bentuk kekalahan yang paling sunyi. Seseorang menyakiti kita sekali, tetapi kemudian kita membawa luka itu bertahun-tahun dan membiarkannya membentuk cara kita memperlakukan orang lain.

Orang yang menyakiti kita mungkin sudah pergi.

Tetapi keburukannya tinggal di dalam diri kita.

Ia hidup dalam kecurigaan kita kepada orang baru. Dalam kerasnya ucapan kita. Dalam ketidakmampuan kita mempercayai siapa pun. Dalam kebiasaan membalas sebelum disakiti. Bahkan dalam keyakinan bahwa semua manusia pada akhirnya akan mengecewakan.

Tanpa sadar, kita sedang meneruskan luka.

Seseorang pernah berlaku buruk kepada kita, lalu kita membiarkan keburukan itu menemukan korban baru melalui diri kita.

Bukankah itu yang harus dihentikan?

Kita tidak bisa memilih bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana kita meresponsnya.

Kita boleh marah, tetapi tidak harus menjadi pemarah.

Kita boleh kecewa, tetapi tidak harus menjadi manusia yang gemar mengecewakan.

Kita boleh menjauh, tetapi tidak perlu membenci.

Kita boleh berhenti percaya kepada seseorang, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk percaya kepada semua orang.

Dan kita boleh belajar menjadi lebih hati-hati tanpa harus menjadi lebih kejam.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments