spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Masakan Ibu, Rindu yang Menemukan Jalan Pulang

Part 2 : Masakan Ibu, Rindu yang Menemukan Jalan Pulang

Barangkali, kita tidak pernah tahu bagian mana dari diri kita yang akan dikenang oleh anak-anak. Bisa jadi bukan nasihat panjang. Bukan pula sesuatu yang sengaja kita ajarkan dengan kata-kata.

Oleh: Mad Mac

Rindu yang Tidak Selalu Meminta Kepulangan

LESINDO.COM – Ada masa ketika anak-anak menganggap masakan orang tua sebagai bagian biasa dari kehidupan. Makanan tersedia di meja, nasi tersaji, lauk berganti, dan ibu atau ayah mungkin akan kembali bertanya apakah sudah makan.

Pada usia tertentu, semua itu terasa lumrah. Bahkan, bisa jadi tidak selalu mendapat perhatian yang cukup.

Namun, ketika seseorang mulai tinggal jauh dari rumah, hal-hal yang dahulu dianggap biasa perlahan berubah makna.

Masakan ibu tidak lagi sekadar makanan. Ia bisa menjadi pengingat tentang ruang makan, suara peralatan dapur, percakapan keluarga, dan suasana rumah yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Demikian pula sambal buatan ayah.

Anak saya sudah terbiasa memasak, baik ketika masih di rumah maupun saat berada di Surabaya. Ia mampu menyiapkan makanan sendiri. Ia tidak harus menunggu orang tua untuk memenuhi setiap kebutuhannya.

Karena itu, permintaan atau keinginannya terhadap sambal teri buatan ayah mungkin bukan lahir dari ketidakmampuan memasak.

Ia bisa saja membuat sambal sendiri. Bahkan, barangkali masakannya lebih sesuai dengan selera sendiri.

Tetapi manusia tidak selalu mencari makanan hanya karena lapar. Ada kalanya kita mencari rasa tertentu karena rasa itu membawa ingatan kepada seseorang.

Di titik tersebut, makanan menjelma bahasa rindu.

Rasa sambal mungkin tidak pernah benar-benar sama ketika dinikmati di rumah dan ketika dikirim ke kota lain. Ada perbedaan suasana, waktu, dan tangan yang menyajikan. Namun, yang dibawa oleh makanan itu bukan hanya bahan-bahannya.

Ada bayangan tentang ayah yang berada di dapur. Ada kebiasaan kecil yang pernah dilihat. Ada ingatan tentang rumah yang kini berjarak. Ada perasaan bahwa seseorang masih memikirkan dirinya, meskipun tidak sedang berada di tempat yang sama.

Barangkali, itulah sebabnya makanan sederhana dapat terasa begitu berarti.

Kasih Sayang yang Berpindah Tangan

Saya kemudian berpikir tentang ibu.

Dahulu, ketika saya pulang dari perantauan, ibu menyiapkan makanan kesukaan saya. Ia melakukannya tanpa harus menunggu permintaan. Mungkin karena ia telah mengenali kebiasaan anaknya sejak kecil. Mungkin juga karena bagi seorang ibu, memikirkan makanan anak adalah bagian dari cara merawat yang berlangsung hampir tanpa disadari.

Kini, ketika anak saya berada jauh dari rumah, saya menemukan sesuatu yang menyerupai pengalaman itu, meskipun dalam bentuk yang berbeda.

Saya tidak selalu menyiapkan makanan khusus untuknya. Saya memasak karena kebutuhan dan kebiasaan. Tetapi apa yang saya lakukan di dapur ternyata bisa meninggalkan kesan bagi anak yang melihatnya.

Ada sesuatu yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bukan hanya resep, bukan semata-mata selera, melainkan cara memahami kasih sayang melalui tindakan sederhana.

Ibu dahulu memasak untuk anak-anaknya.

Saya, sebagai ayah, belajar memasak untuk diri sendiri dan keluarga, sebisa mungkin.

Kemudian, anak yang telah dewasa itu membawa ingatan tentang masakan rumah ke kehidupannya sendiri.

Di sana, kasih sayang tidak lagi berjalan satu arah. Ia bisa berbalik, tumbuh, dan menemukan bentuk baru. Anak yang dahulu menerima makanan dari orang tua, pada suatu ketika mulai memikirkan makanan yang mungkin membuat orang tuanya bahagia.

Ada keharuan dalam perubahan itu.

Bukan karena seorang anak harus membalas semua pemberian orang tua—sebab kasih sayang tidak selayaknya dihitung seperti utang piutang—melainkan karena kita menyaksikan kebiasaan baik yang pernah ditanamkan tumbuh dalam diri orang lain.

Apa yang dulu kita lakukan tanpa banyak berpikir, ternyata bisa menjadi kenangan yang menetap di hati anak-anak.

Dapur dan Ingatan yang Tidak Selesai

Dalam kehidupan keluarga, ada banyak hal yang tidak tercatat. Tidak masuk dalam album foto, tidak tersimpan dalam dokumen, dan tidak selalu hadir dalam cerita-cerita besar.

Salah satunya adalah makanan.

Kita mungkin mengingat rumah melalui alamat, bentuk bangunan, atau halaman tempat bermain. Namun, rumah juga bisa dikenali melalui aroma. Melalui masakan yang sedang dimasak. Melalui rasa yang pernah akrab di lidah.

Seseorang yang telah bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman mungkin masih bisa mengingat masakan ibunya dengan sangat jelas. Bukan karena ia selalu menyantapnya, melainkan karena rasa itu telah bertaut dengan masa lalu.

Begitu pula seorang anak yang hidup di kota lain. Ia mungkin sibuk dengan kuliah, tugas, pergaulan, dan cita-cita. Ia belajar mengatur waktu, menghemat uang, serta bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Tetapi di tengah kesibukan itu, ada ruang kecil dalam dirinya yang tetap menyimpan rumah.

Kadang-kadang, ruang tersebut terbuka melalui pesan singkat.

“Abah, aku buatkan sambal teri buatan Abah.”

Kalimat yang sederhana. Tidak panjang. Tidak membutuhkan penjelasan.

Namun, bagi seorang ayah, ia bisa menjadi jeda yang membuat pekerjaan sejenak berhenti dalam pikiran. Ada rasa haru ketika menyadari bahwa kebiasaan memasak yang dilakukan untuk kenyamanan diri sendiri ternyata dipahami anak sebagai sesuatu yang memiliki nilai emosional.

Barangkali, kita tidak pernah tahu bagian mana dari diri kita yang akan dikenang oleh anak-anak.

Bisa jadi bukan nasihat panjang. Bukan pula sesuatu yang sengaja kita ajarkan dengan kata-kata.

Mungkin justru kebiasaan kecil: menyiapkan bekal, memasak lauk sederhana, menghemat pengeluaran, atau duduk bersama di meja makan.

Hal-hal yang tampak remeh ketika dijalani, tetapi dapat tumbuh menjadi ingatan yang panjang.

Ketika Rasa Menjadi Jalan Pulang

Saya semakin memahami bahwa kerinduan kepada makanan ibu bukan semata-mata kerinduan kepada sebuah menu. Ia adalah kerinduan kepada suasana yang menyertai makanan itu.

Kepada seseorang yang dahulu menunggu kita pulang.

Kepada tangan yang menyiapkan hidangan tanpa banyak bertanya.

Kepada rumah yang menjadi tempat kita bertumbuh sebelum akhirnya pergi mencari jalan sendiri.

Dan ketika anak-anak kita telah dewasa, kerinduan itu dapat menemukan jalannya sendiri. Tidak selalu melalui kepulangan secara fisik. Tidak selalu melalui percakapan panjang.

Terkadang, ia datang dalam bentuk permintaan sederhana: sambal teri, masakan kesukaan, atau lauk yang mengingatkan pada dapur rumah.

Dari sana, kita belajar bahwa kasih sayang tidak selalu membutuhkan kemewahan. Ia bisa hidup dalam panci yang mengepul, cobek yang digunakan berulang kali, dan bekal yang disiapkan sebelum berangkat kerja.

Ibu mungkin tidak pernah mengajarkan bahwa makanan adalah bahasa cinta. Ia hanya menjalankan apa yang diyakininya sebagai kewajiban dan kasih sayang kepada anak-anak.

Saya pun tidak pernah membayangkan bahwa memasak untuk kenyamanan diri sendiri akan menjadi sesuatu yang dikenang oleh putri saya.

Namun, begitulah ingatan bekerja. Ia tidak selalu memilih peristiwa besar. Ia justru kerap bersembunyi di antara hal-hal yang kita anggap biasa.

Pada akhirnya, mungkin bukan rasa masakan yang paling lama tinggal dalam ingatan seorang anak. Bukan pula seberapa mahal bahan makanan yang digunakan atau seberapa rumit cara memasaknya.

Melainkan perasaan bahwa di suatu tempat, ada seseorang yang memikirkan dirinya.

Seorang ibu yang menyiapkan masakan ketika anak pulang.

Seorang ayah yang memasak sambal teri untuk bekal dan kenyamanan.

Seorang anak yang telah dewasa, tinggal jauh dari rumah, tetapi masih ingin membawa sedikit rasa rumah ke dalam kehidupannya.

Sebab, sejauh apa pun kaki melangkah, ada kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Dan kadang-kadang, kenangan itu pulang melalui rasa.

Bukan sekadar makanan, melainkan kasih sayang yang menemukan jalan pulang.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments