Oleh : Goes Mic
Ketika Kawan Seperguruan Berubah Menjadi Musuh Negara
LESINDO.COM – Sejarah Milik Siapa? Ketika Kawan Seperguruan Berubah Menjadi Musuh Negara. Sejarah hampir selalu datang terlambat kepada orang yang kalah. Ia tidak hadir ketika pedang dihunus, ketika meriam ditembakkan, ketika sebuah istana direbut, atau ketika seorang tokoh digiring menuju tempat eksekusi. Sejarah baru datang kemudian—membawa pena, arsip, kesaksian, dan tafsir.
Karena itu, sejarah tidak sekadar mencatat siapa yang mati dan siapa yang menang. Ia juga mencatat siapa yang memperoleh hak untuk memberi nama kepada lawannya.
Pemberontak.
Pengkhianat.
Penjahat.
Pahlawan.
Atau negarawan.
Di situlah persoalan sejarah menjadi rumit. Sebab pemenang bukan hanya memenangkan pertempuran. Ia sering kali juga memenangkan tafsir.
Jejak itu panjang dalam sejarah Nusantara.
Perebutan kekuasaan di Singhasari melahirkan rangkaian pergantian penguasa yang berdarah. Dari konflik kekuasaan itu lahir Majapahit. Berabad-abad kemudian, Demak berganti Pajang, Pajang bergeser ke Mataram Islam. Mataram kemudian terbelah melalui berbagai konflik dan perjanjian politik hingga lahir Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Perpecahan belum berhenti.
Surakarta kembali terbelah dengan lahirnya Mangkunegaran. Yogyakarta kemudian melahirkan Pakualaman.
Nama boleh berbeda. Istana boleh berganti. Lambang kekuasaan boleh berubah.
Tetapi satu hal tetap sama: kekuasaan selalu mempunyai sejarah tentang dirinya sendiri.
Dan sejarah tentang kekuasaan hampir tidak pernah netral.
Dari Rumah Peneleh
Pada awal abad ke-20, di sebuah rumah di Peneleh, Surabaya, sejarah Indonesia seperti sedang menyiapkan sebuah eksperimen politik.
Rumah H.O.S. Tjokroaminoto bukan sekadar tempat tinggal. Lantai atas rumah itu pernah menjadi ruang kos bagi anak-anak muda yang kelak menempuh jalan politik berbeda. Di antara mereka terdapat Soekarno, Semaoen, Musso, Alimin, dan Kartosoewirjo.
Mereka masih muda.
Mereka berdiskusi.
Mereka belajar berpidato.
Mereka berdebat.
Mereka membaca.
Mereka mungkin belum membayangkan bahwa gagasan yang mereka pertukarkan di bawah satu atap kelak akan membawa mereka ke arah yang saling berlawanan.
Peneleh menjadi semacam laboratorium pemikiran.
Dari ruang yang sama lahir gagasan yang kelak mengambil bentuk berbeda: nasionalisme, sosialisme-komunisme, dan Islam politik.
Ironinya justru berada di sana.
Satu rumah melahirkan beberapa jalan sejarah.
Dan sejarah kemudian mempertemukan jalan-jalan itu bukan di meja diskusi, melainkan di medan konflik.
Tiga Jalan dari Satu Rumah
Soekarno memilih nasionalisme.
Ia membangun gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.
Musso mengambil jalan komunisme. Pada 1948 ia tampil sebagai salah satu tokoh utama dalam gerakan PKI yang berujung pada Peristiwa Madiun. Gagasan “Jalan Baru” yang dibawanya bahkan mengarah pada cita-cita pembentukan republik Soviet di Indonesia.
Kartosoewirjo memilih jalan berbeda lagi.
Ia kemudian memimpin Darul Islam dan memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Ketegangan dengan Republik berkembang menjadi konflik bersenjata yang berlangsung bertahun-tahun. Pada 1962, setelah ditangkap dan menjalani persidangan, ia dieksekusi di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.
Di titik itu, sejarah menjadi getir.
Soekarno dan Kartosoewirjo pernah berada dalam lingkaran yang sama.
Mereka pernah mengenal satu sama lain ketika masih muda.
Namun ketika negara telah berdiri, persahabatan masa lalu tidak lagi cukup untuk menghapus pertentangan politik.
Negara mempunyai kepentingannya sendiri.
Dan negara, ketika merasa terancam, akan mempertahankan dirinya.
Ketika Sahabat Menjadi Musuh Negara
Inilah bagian sejarah yang sering terasa paling pahit.
Seseorang dapat menjadi kawan ketika cita-cita masih berada dalam bentuk gagasan.
Tetapi ketika gagasan berubah menjadi perebutan kekuasaan, kawan dapat berubah menjadi ancaman.
Musso pernah bertemu kembali dengan Soekarno pada Agustus 1948. Pertemuan itu mempertemukan dua orang yang pernah berada dalam lingkungan pergerakan yang sama. Namun hanya beberapa pekan kemudian, hubungan politik keduanya berada di sisi yang berseberangan.
Di Madiun, konflik politik berubah menjadi kekerasan.
Di Jawa Barat, konflik antara Republik dan gerakan DI/TII juga berubah menjadi perang panjang.
Yang semula berupa perbedaan gagasan akhirnya diterjemahkan menjadi persoalan hidup dan mati.
Ketika negara sudah berdiri, perbedaan tentang bentuk negara bukan lagi sekadar perdebatan intelektual. Ia dapat menjadi perkara keamanan.
Dan pada titik tertentu, negara akan menggunakan kekuatan untuk mempertahankan definisinya tentang Indonesia.
Siapa yang Menulis Kata “Pemberontak”?
Di sinilah pertanyaan yang lebih mengganggu perlu diajukan.
Apakah seseorang menjadi pemberontak karena ia memang pemberontak?
Ataukah ia menjadi pemberontak karena negara yang menang berhasil menetapkan istilah itu?
Pertanyaan tersebut bukan berarti membenarkan kekerasan atau menghapus kesalahan sejarah.
Bukan pula berarti bahwa setiap pihak yang kalah otomatis benar.
Tidak.
Tetapi sejarah membutuhkan satu hal yang sering hilang dalam pertarungan politik:
kemampuan untuk melihat dari lebih dari satu jendela.
Negara mempunyai arsipnya.
Militer mempunyai laporan operasinya.
Penguasa mempunyai pidatonya.
Pemenang mempunyai buku sejarahnya.
Tetapi pihak yang kalah juga mempunyai ingatan.
Ia mempunyai keluarga.
Ia mempunyai surat.
Ia mempunyai saksi.
Ia mempunyai alasan yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam buku pelajaran.
Karena itu, membaca sejarah hanya dari suara pemenang berisiko menjadikan sejarah sebagai pengadilan yang putusannya sudah ditentukan sebelum persidangan dimulai.

