spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 2 : Jangan Biarkan Dunia Mengatur Isi Kepalamu

Part 2 : Jangan Biarkan Dunia Mengatur Isi Kepalamu

DJITU pada akhirnya bukan sekadar lima karakter. Ia adalah latihan untuk menjaga manusia tetap waras ketika dunia semakin bising.

Oleh : Adreena M

Tanggung Jawab Dimulai dari Diri Sendiri

LESINDO.COM – Kita sering menuntut orang lain bertanggung jawab, tetapi lupa bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita bertanggung jawab terhadap pilihan kita?

Sudahkah kita bertanggung jawab terhadap keluarga?

Terhadap pekerjaan?

Terhadap ucapan?

Terhadap waktu?

Terhadap amanah yang dipercayakan kepada kita?

Tanggung jawab adalah tanda bahwa seseorang sudah berhenti menjadikan keadaan sebagai kambing hitam.

Ketika gagal, ia tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Ia bertanya:

Apa yang bisa saya perbaiki?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengubah posisi mental seseorang.

Dari korban menjadi pembelajar.

Dari pengeluh menjadi pelaku.

Dari orang yang menunggu keadaan berubah menjadi orang yang mulai mengubah apa yang memang masih bisa diubah.

Ulet Bukan Berarti Tidak Pernah Lelah

Ada salah pengertian tentang ketangguhan.

Seolah-olah orang kuat adalah mereka yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis, dan selalu mampu berdiri tegak.

Padahal manusia tetap manusia.

Ada hari ketika kita lelah.

Ada hari ketika semangat hilang.

Ada hari ketika doa terasa begitu panjang sementara jawaban belum datang.

Ulet bukan berarti tidak pernah jatuh.

Ulet adalah kemampuan untuk tidak menjadikan jatuh sebagai alasan untuk berhenti selamanya.

Beristirahatlah jika perlu.

Menangislah jika memang harus.

Diamlah ketika kepala terlalu penuh.

Tetapi setelah itu, bangun kembali.

Tidak harus berlari.

Berjalan pun cukup.

Sebab dalam perjalanan panjang, yang penting bukan selalu seberapa cepat kita bergerak, tetapi apakah kita masih memiliki kemauan untuk melangkah.

Belajar Memilah Mana yang Bisa Dikendalikan

Barangkali salah satu sumber kegelisahan terbesar manusia adalah keinginan mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kendalinya.

Kita tidak bisa mengendalikan pendapat orang.

Tidak bisa memaksa semua orang menyukai kita.

Tidak bisa menentukan bagaimana orang memperlakukan kita.

Tidak bisa memutar kembali waktu.

Tidak bisa memastikan semua rencana berjalan sesuai keinginan.

Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana meresponsnya.

Di situlah kemerdekaan mental berada.

Kita tidak selalu mampu mengubah keadaan, tetapi kita bisa mengubah cara berdiri di hadapannya.

Kita tidak mampu mengendalikan ombak, tetapi masih bisa belajar mengendalikan perahu.

Dan dalam banyak hal, hidup memang seperti itu.

Bukan tentang membuat laut selalu tenang, melainkan tentang membangun diri agar tidak mudah karam ketika gelombang datang.

Pada Akhirnya, Kita Hanya Perlu Pulang kepada Diri Sendiri

Mungkin semakin bertambah usia, kita semakin memahami bahwa hidup bukan tentang memenangkan semua hal.

Ada yang cukup dikejar.

Ada yang cukup diperjuangkan.

Ada yang cukup diterima.

Ada pula yang harus direlakan.

Tidak semua kehilangan adalah hukuman. Tidak semua kegagalan adalah akhir. Tidak semua keterlambatan berarti kita tertinggal.

Kadang Tuhan sedang mengajarkan bahwa jalan hidup seseorang memang tidak harus sama dengan jalan hidup orang lain.

Karena itu, jangan biarkan dunia terlalu jauh mengatur isi kepala.

Jangan biarkan angka menentukan harga diri.

Jangan biarkan komentar orang menentukan ketenangan.

Jangan biarkan keberhasilan orang lain membuat kita membenci kehidupan sendiri.

Dan jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa bahwa hidup juga membutuhkan jeda.

DJITU pada akhirnya bukan sekadar lima karakter. Ia adalah latihan untuk menjaga manusia tetap waras ketika dunia semakin bising.

Disiplin agar tidak dikuasai keinginan.

Jujur agar tidak kehilangan diri.

Inovatif agar tidak membeku dalam kebiasaan.

Bertanggung jawab agar tidak terus menyalahkan keadaan.

Ulet agar tetap mampu bangkit ketika kehidupan menjatuhkan.

Sebab barangkali ukuran keberhasilan yang paling jujur bukanlah seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa tenang kita ketika berdiri di tempat kita berada.

Dan ketika suatu hari dunia berhenti memperhatikan, semoga kita tetap mampu menjalani hidup dengan baik.

Bukan karena ingin dilihat.

Bukan karena ingin dipuji.

Tetapi karena kita tahu kepada siapa kehidupan ini pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments