spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Ketika Pendidikan dan Dunia Kerja Berjalan di Jalan Berbeda

Part 1 : Ketika Pendidikan dan Dunia Kerja Berjalan di Jalan Berbeda

Di negeri ini, ijazah masih menjadi salah satu standar penting untuk memasuki dunia kerja. Sebuah lembar kertas yang menunjukkan seseorang pernah menempuh pendidikan tertentu sering kali menjadi tiket pertama untuk melewati proses seleksi.

Oleh : Abah Muhamad

LESINDO.COM – Ada masa ketika sekolah bukan sesuatu yang mudah dijangkau semua orang. Bagi generasi yang lahir sekitar tahun 1940-an, duduk di bangku sekolah saja sudah merupakan sebuah keberuntungan. Sebagian orang tua kita hanya sempat mengenyam pendidikan dasar atau Sekolah Rakyat. Itu pun tidak selalu sampai selesai. Bukan karena mereka tidak ingin belajar, melainkan karena keadaan sering kali memaksa mereka memilih: sekolah atau membantu orang tua mencari penghidupan.

Buku dan seragam mungkin terlihat sederhana bagi kita hari ini. Namun pada masa itu, keduanya bisa menjadi barang yang tidak mudah dibeli.

Memasuki dekade 1960-1970, akses pendidikan perlahan terbuka. Semakin banyak anak dapat melanjutkan sekolah. Tetapi perguruan tinggi masih menjadi sesuatu yang istimewa. Tidak banyak keluarga yang mampu mengantarkan anaknya sampai jenjang sarjana.

Menjadi mahasiswa, apalagi kemudian menggenggam ijazah S1, merupakan pencapaian yang luar biasa.

Perguruan tinggi ketika itu seperti sebuah pintu yang hanya dapat diketuk oleh sebagian orang.

Hari ini pintu itu jauh lebih terbuka. Perguruan tinggi tumbuh di banyak tempat. Pilihan jurusan semakin beragam. Pendidikan tinggi tidak lagi sepenuhnya menjadi barang mewah.

Namun persoalan baru muncul.

Ketika semakin banyak orang berpendidikan, apakah dunia kerja juga menyediakan cukup banyak ruang untuk mereka?

Pertanyaan itu tidak sederhana.

Sebab pendidikan dan pekerjaan ternyata tidak selalu berjalan beriringan.

Ijazah dan Pintu Dunia Kerja

Di negeri ini, ijazah masih menjadi salah satu standar penting untuk memasuki dunia kerja. Sebuah lembar kertas yang menunjukkan seseorang pernah menempuh pendidikan tertentu sering kali menjadi tiket pertama untuk melewati proses seleksi.

Tetapi ijazah hanyalah tiket.

Ia belum tentu menjadi jaminan seseorang akan bekerja sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya.

Di sinilah ironi pendidikan kita sering terlihat.

Ada lulusan teknik yang akhirnya bekerja di bidang pemasaran. Ada sarjana ekonomi yang justru menjadi pengajar. Ada lulusan pertanian yang bekerja di perbankan. Ada pula sarjana komunikasi yang kehidupannya justru bergantung pada perdagangan.

Pernah saya bertemu dengan seorang lulusan fisioterapi dari salah satu perguruan tinggi negeri. Alih-alih bekerja di klinik atau fasilitas kesehatan, ia justru bekerja di sebuah konter komputer.

Sekilas, dua dunia itu seperti berada di dua ujung jalan yang berbeda.

Fisioterapi berbicara tentang tubuh manusia, gerak, pemulihan dan kesehatan. Sementara konter komputer berhadapan dengan perangkat keras, perangkat lunak, pelanggan dan teknologi.

Tetapi hidup tidak selalu memberi seseorang pekerjaan berdasarkan garis lurus yang dibuat ketika memilih jurusan kuliah.

Bisa jadi pekerjaan di konter itu hanya persinggahan. Menjadi cara untuk tetap bekerja sembari menunggu kesempatan yang sesuai dengan profesinya datang.

Atau mungkin justru di tempat itulah ia sedang mendapatkan pelajaran lain yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.

Ia belajar menghadapi pelanggan.

Belajar berkomunikasi.

Belajar memahami teknologi.

Belajar menjual.

Belajar menyelesaikan persoalan orang lain.

Dan, yang tidak kalah penting, belajar bahwa kehidupan setelah wisuda tidak selalu sebagaimana yang dibayangkan ketika mengenakan toga.

Pendidikan Tidak Pernah Benar-Benar Sia-sia

Lalu, apakah kuliah bertahun-tahun menjadi sia-sia ketika pekerjaan yang diperoleh ternyata tidak sesuai jurusan?

Saya kira tidak.

Pendidikan terlalu besar untuk diukur hanya dari jabatan atau jenis pekerjaan yang diperoleh setelah seseorang lulus.

Yang dibawa seseorang dari bangku sekolah bukan hanya ijazah.

Ada cara berpikir.

Ada kemampuan membaca persoalan.

Ada keberanian bertanya.

Ada kebiasaan mencari jawaban.

Ada kemampuan menyusun argumen.

Ada pengalaman berinteraksi dengan orang lain.

Dan ada proses panjang belajar menyelesaikan sesuatu.

Mungkin pengetahuan tentang anatomi dan fisioterapi tidak seluruhnya digunakan ketika seseorang bekerja di konter komputer. Tetapi cara berpikir yang terbentuk selama bertahun-tahun belajar tetap dapat ikut bekerja di sana.

Karena pendidikan sesungguhnya bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala.

Pendidikan adalah proses membentuk manusia agar mampu menghadapi kehidupan.

Di sinilah kita sering keliru memahami sekolah.

Kita terlalu cepat menanyakan, “Setelah lulus bekerja sebagai apa?”

Padahal ada pertanyaan yang lebih mendasar:

“Setelah bersekolah, menjadi manusia seperti apa?”

Sebab pekerjaan dapat berubah.

Profesi dapat berganti.

Bahkan dunia kerja bisa berubah lebih cepat daripada kurikulum sekolah.

Tetapi kemampuan belajar seharusnya tetap hidup.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments