spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Tetap Merunduk, Sebab Kita Sedang Menuju Pulang

Part 2 : Tetap Merunduk, Sebab Kita Sedang Menuju Pulang

Pada akhirnya kita sadar bahwa yang paling penting adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan perjalanan kepada Yang Memiliki hidup.

Oleh : Hibban M

LESINDO.COM – Dalam perjalanan yang lain, saya juga belajar bahwa tidak semua jalan harus ditempuh bersama. Ada perjalanan yang menyenangkan karena ada teman berbicara. Ada pula perjalanan yang justru terasa lebih dalam ketika ditempuh sendirian.

Ketika berjalan sendiri, tidak ada yang bisa dijadikan tempat untuk menyalahkan.

Tidak ada yang bisa diminta menentukan arah.

Kita harus bertanggung jawab atas langkah sendiri.

Di situlah saya sering menemukan percakapan yang paling jujur: percakapan antara diri sendiri dengan hati.

Tentang apa yang sudah dilakukan.

Tentang keputusan-keputusan yang pernah salah.

Tentang orang-orang yang pernah datang lalu pergi.

Tentang rezeki yang kadang cukup, kadang terasa kurang.

Tentang usia yang ternyata bergerak jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Dan tentang satu kenyataan sederhana:

Kita semua sedang berjalan menuju pulang.

Ada saat ketika perjalanan sudah mencapai separuh jalan, tetapi kita tidak yakin apakah harus terus maju.

Saya kira hampir semua manusia pernah berada di titik itu.

Bukan hanya dalam perjalanan fisik, tetapi juga dalam pekerjaan, keluarga, cita-cita, bahkan dalam hubungan dengan diri sendiri.

Kita berhenti.

Menghela napas.

Melihat ke belakang.

Kemudian bertanya:

Apakah jalan ini masih harus saya teruskan?

Kadang jawabannya iya.

Kadang kita memang harus mengambil jalan lain.

Sebab hidup adalah pilihan.

Berhenti bukan selalu menyerah. Berbelok bukan selalu gagal.

Bahkan pulang melalui jalan yang berbeda pun bukan sebuah kekalahan.

Yang penting adalah kita tidak kehilangan arah menuju kebaikan.

Saya semakin percaya bahwa suka dan duka adalah romantika perjalanan.

Tidak mungkin seseorang mengenal rasa syukur jika sepanjang hidupnya tidak pernah kehilangan.

Tidak mungkin seseorang memahami kebahagiaan jika tidak pernah merasakan kesedihan.

Bukankah hujan membuat kita menghargai matahari?

Bukankah lelah membuat kita menikmati istirahat?

Bukankah kehilangan membuat kita lebih menghargai seseorang ketika masih berada di dekat kita?

Karena itu saya tidak lagi terlalu ingin memilih hanya perjalanan yang menyenangkan.

Jika duka datang, biarlah ia menjadi guru.

Jika bahagia datang, biarlah ia menjadi alasan untuk bersyukur.

Jika gagal, belajar.

Jika berhasil, jangan lupa merunduk.

Sebab semua itu hanya bagian dari perjalanan.

Dulu saya mengejar berita.

Sekarang saya lebih sering mengejar makna.

Dulu saya sibuk mencatat apa yang terjadi di luar diri.

Sekarang saya justru lebih sering membaca apa yang terjadi di dalam hati.

Mungkin itulah perubahan paling sederhana dari perjalanan panjang manusia.

Pada awalnya kita ingin dikenal.

Pada akhirnya kita hanya ingin dikenang karena pernah berbuat baik.

Pada awalnya kita ingin sampai paling depan.

Pada akhirnya kita berharap tidak meninggalkan terlalu banyak orang di belakang.

Pada awalnya kita sibuk mencari dunia.

Pada akhirnya kita sadar bahwa yang paling penting adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan perjalanan kepada Yang Memiliki hidup.

Karena itu, jika hari ini masih diberi kesempatan berjalan, berjalanlah.

Jika hanya mampu merangkak, merangkaklah.

Jika masih memiliki tenaga untuk berjalan, berjalanlah.

Jika Tuhan memberi kekuatan untuk berlari, berlarilah.

Tetapi jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena langkah kita lebih cepat.

Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya lebih dekat kepada tujuan.

Ada orang yang berjalan perlahan tetapi hatinya sudah sampai.

Ada orang yang berlari begitu jauh tetapi tidak pernah menemukan arah.

Dan ada orang yang sepanjang hidupnya tampak sederhana, tetapi diam-diam meninggalkan jejak kebaikan yang jauh lebih panjang daripada perjalanan fisiknya.

Saya hanya ingin menikmati sisa perjalanan ini dengan cara yang lebih sederhana.

Tidak terlalu banyak mendongak.

Tidak terlalu sibuk menghitung langkah orang lain.

Tidak terlalu gelisah memikirkan apa yang belum menjadi milik.

Saya ingin tetap merunduk.

Melihat jalan di depan.

Menikmati apa yang Tuhan berikan hari ini.

Mensyukuri siapa saja yang masih berjalan bersama.

Dan ketika harus berjalan sendirian, semoga tetap yakin bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Sebab ada Dia yang sejak awal mengatur arah perjalanan.

Kita mungkin tidak selalu memahami rencana-Nya.

Kadang jalan dibuat berliku.

Kadang dipertemukan dengan orang yang tidak kita duga.

Kadang diberi kehilangan.

Kadang diberi kebahagiaan.

Namun barangkali semuanya memang sedang mengantar kita kepada satu pemahaman: bahwa hidup bukan tentang memiliki seluruh jawaban.

Hidup adalah kesediaan untuk terus berjalan sambil percaya.

Sebab pada akhirnya, kita semua akan sampai pada satu titik yang sama.

Saat datang, akan tiba waktunya untuk pulang.

Dan ketika waktu itu tiba, saya tidak ingin membawa terlalu banyak cerita tentang seberapa tinggi saya pernah berdiri.

Saya hanya ingin membawa sedikit cerita tentang berapa banyak kebaikan yang pernah saya lakukan sepanjang perjalanan.

Sebab merangkak, berjalan, ataupun berlari, sesungguhnya kita sedang menuju tujuan yang sama:

bertemu dengan-Mu.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments