Oleh : Goes Mic
LESINDO.COM – Barangkali kita perlu belajar melihat manusia sedikit lebih lama. Jangan buru-buru menyimpulkan kehidupan seseorang dari pakaian, pekerjaan, kendaraan, atau kondisi ekonominya.
Sebab orang yang kita lihat sedang mendorong gerobak itu mungkin memiliki masa lalu yang panjang.
Pernah memiliki sesuatu.
Pernah bermimpi.
Pernah bekerja di tempat lain.
Pernah jatuh.
Pernah kehilangan.
Atau mungkin memang sejak awal hidupnya sederhana.
Kita tidak tahu.
Dan memang tidak semua masa lalu seseorang harus kita ketahui untuk menghormatinya.
Yang kita tahu adalah apa yang sedang ia lakukan hari ini.
Ia bekerja.
Ia tidak mengambil milik orang lain.
Ia mencari rezeki.
Ia menggunakan tenaga yang masih diberikan Tuhan.
Dan ia berjalan pulang dengan hasil yang mungkin tidak besar, tetapi diperoleh dengan cara yang tidak membuat orang lain kehilangan.
Bukankah itu sudah cukup untuk membuat kita menghargainya?
Suatu ketika, mungkin gerobak itu akan berhenti.
Roda akan aus.
Tenaga akan berkurang.
Tubuh tidak lagi sekuat hari ini.
Tetapi selama masih mampu mendorongnya, ia akan terus berjalan.
Karena hidup memang sering kali tidak memberi manusia pilihan yang ideal.
Yang diberikan hanya sebuah jalan.
Lalu manusia menentukan bagaimana ia melewatinya.
Ada yang melewati jalan dengan mengambil apa yang bukan haknya.
Ada yang melewatinya dengan menginjak orang lain agar bisa naik lebih tinggi.
Ada pula yang berjalan perlahan, berkeringat, menahan lelah, tetapi tetap menjaga tangannya agar tidak merampas milik siapa pun.
Lelaki dengan gerobak itu memilih yang terakhir.
Ia mungkin miskin secara materi.
Tetapi kemiskinan tidak otomatis berarti kehilangan martabat.
Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak hal dan tetap miskin dalam kejujuran.
Maka jangan terlalu cepat mengukur manusia dari apa yang dibawanya.
Lihatlah dari apa yang tidak diambilnya.
Gerobak itu membawa barang-barang bekas.
Tetapi lelaki itu tidak membawa hak orang lain.
Dan mungkin, di situlah letak kekayaan yang sebenarnya.
Di sebuah kota yang bergerak cepat, di antara suara kendaraan dan panas aspal, seorang lelaki terus mendorong gerobaknya.
Pelan.
Sendiri.
Tanpa tepuk tangan.
Namun langkah itu seperti sedang mengatakan sesuatu kepada kita:
“Aku mungkin tidak memiliki banyak. Tetapi apa yang kumiliki tidak berasal dari mengambil milikmu.”
Lalu kita pun pantas bertanya kepada diri sendiri:
Ketika suatu hari kursi kita tidak lagi empuk, jabatan tidak lagi ada, dan semua yang kita banggakan ditinggalkan, apakah masih ada sesuatu yang tersisa dari diri kita selain nama?
Mungkin jawabannya sederhana.
Bukan jabatan.
Bukan harta.
Bukan kekuasaan.
Melainkan cara kita memperlakukan manusia lain ketika kita diberi kesempatan untuk memilih.
Lelaki itu telah memilih jalannya.
Gerobaknya kecil.
Jalannya panjang.
Panasnya nyata.
Hasilnya mungkin sederhana.
Tetapi ia terus berjalan.
Dan kadang-kadang, orang yang paling layak kita hormati bukanlah mereka yang duduk paling tinggi, melainkan mereka yang tetap berdiri tegak meski kehidupan berkali-kali memaksanya membungkuk.

