spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Tetap Merunduk, Sebab Kita Sedang Menuju Pulang

Part 1 : Tetap Merunduk, Sebab Kita Sedang Menuju Pulang

Seiring sejalan tanpa banyak kata. Duduk berdampingan tanpa harus menjelaskan segala sesuatu. Masing-masing membawa pikirannya sendiri, tetapi sama-sama memahami bahwa perjalanan ini sedang menuju satu arah.

Oleh : Hibban M

LESINDO.COM – Ada masa ketika saya mengira perjalanan hidup harus selalu ditempuh dengan langkah yang cepat. Semakin cepat, semakin baik. Semakin jauh, semakin hebat. Semakin tinggi tempat yang bisa dicapai, semakin layak pula perjalanan itu diceritakan.

Belakangan saya menyadari, mungkin saya keliru.

Hidup ternyata bukan perlombaan menuju tempat tertinggi. Ia lebih menyerupai perjalanan panjang yang mengajarkan kita untuk tahu kapan harus berjalan, kapan harus berlari, dan kapan harus berhenti sejenak untuk menarik napas.

Saya belajar tentang itu bukan dari buku.

Saya menemukannya di jalan.

Jauh sebelum mengenal kamera digital, telepon pintar, atau peta digital yang bisa menunjukkan jalan hanya dengan beberapa sentuhan, saya pernah menjadi anak muda yang bermimpi menjadi kuli tinta.

Ketika mulai menjalani pekerjaan sebagai wartawan, banyak hal belum saya miliki.

Kamera belum ada. Perekam belum ada. Kendaraan pribadi pun bukan sesuatu yang mudah saya gunakan untuk bekerja. Untuk mengejar berita, angkutan kota dan bus menjadi bagian dari perjalanan.

Pernah salah mengambil arah.

Pernah turun di tempat yang ternyata bukan tujuan.

Pernah harus berjalan lebih jauh hanya karena tidak tahu harus bertanya kepada siapa.

Tetapi ada satu kalimat yang waktu itu selalu saya pegang:

selesaikan tugas.

Maka berjalanlah.

Kalau harus naik angkutan, naik angkutan.

Kalau harus berjalan kaki, berjalan kaki.

Kalau harus menunggu, menunggu.

Tidak ada alasan untuk mengatakan keterbatasan sebagai penghalang.

Dari sana saya perlahan memahami bahwa manusia tidak selalu membutuhkan jalan yang mudah untuk sampai pada tujuan. Kadang justru jalan yang serba terbatas itulah yang membentuk daya tahan.

Dari hampir tidak memiliki apa-apa, sedikit demi sedikit belajar memiliki sesuatu.

Dari tidak tahu, menjadi tahu.

Dari tidak mampu, mencoba mampu.

Barangkali pertumbuhan memang sering kali tidak terasa ketika sedang dijalani. Kita baru menyadarinya ketika suatu hari menoleh ke belakang dan berkata dalam hati, ternyata sudah sejauh ini saya berjalan.

Kini, ketika usia sudah memasuki kepala lima, saya kembali menikmati perjalanan dalam bentuk yang berbeda.

Saya pernah mendaki Merbabu.

Bukan karena ingin membuktikan kepada siapa pun bahwa saya masih kuat.

Bukan pula karena ingin mengejar pengakuan bahwa usia tidak menjadi penghalang.

Saya mendaki karena ingin merasakan kembali bagaimana tubuh berbicara kepada pikiran.

Di jalur pendakian, kita tidak bisa berbohong terlalu lama.

Ketika napas mulai berat, kita harus mengakuinya.

Ketika kaki mulai lelah, kita harus berhenti.

Ketika tanjakan terlalu panjang, kita tidak bisa memaksa hanya demi terlihat kuat.

Ada saatnya duduk di pinggir jalur, membuka botol air, menarik napas panjang, lalu melihat orang-orang lain berjalan melewati kita.

Dulu mungkin pemandangan seperti itu membuat saya merasa tertinggal.

Kini tidak lagi.

Saya justru menikmati jeda itu.

Saya belajar bahwa berhenti sebentar tidak selalu berarti kalah.

Kadang kita memang perlu berhenti agar bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih baik.

Mungkin karena itulah saya mulai memahami arti merunduk.

Di perjalanan, terlalu sering melihat ke atas bisa membuat kita lupa melihat apa yang berada di bawah kaki.

Padahal di sanalah jalan sedang kita pijak.

Di sanalah langkah sedang terjadi.

Dan di sanalah kehidupan sebenarnya berlangsung.

Kita sering melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih tinggi.

Kariernya lebih bagus.

Rumahnya lebih besar.

Perjalanannya lebih jauh.

Fotografinya lebih bagus.

Pencapaiannya lebih banyak.

Lalu kita mulai bertanya, mengapa hidup kita tidak seperti mereka?

Padahal boleh jadi, ketika terlalu lama melihat ke atas, kita justru lupa bahwa Tuhan sedang memberikan sesuatu yang sebenarnya sudah cukup untuk hari ini.

Maka nikmatilah apa yang ada.

Tidak perlu terlalu sibuk melihat apa yang berada jauh di atas.

Nanti, jangan-jangan makanan yang ada di tangan sendiri justru tidak sempat dinikmati.

Saya menyebutnya bukan sebagai ajaran untuk berhenti bermimpi.

Bukan.

Tetaplah memiliki cita-cita.

Tetaplah mendaki.

Tetaplah berusaha.

Tetapi jangan sampai ambisi membuat kita kehilangan kemampuan untuk bersyukur.

Merunduk bukan berarti rendah diri. Merunduk adalah cara menjaga hati agar tidak kehilangan rasa cukup.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments