spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Gerobak Kecil di Bawah Matahari

Part 2 : Gerobak Kecil di Bawah Matahari

Di situlah keteguhan sering hadir—tidak dalam kalimat-kalimat besar, tetapi dalam kemampuan seseorang menjalani hari yang berat tanpa kehilangan arah.

Oleh : Goes Mic

LESINDO.COM – Saya ingin mengangkat topi kepada lelaki itu. Bukan karena pekerjaan yang dilakukannya terlihat hebat. Justru karena pekerjaan itu nyaris tidak pernah mendapatkan penghargaan.

Tidak ada piagam untuk orang yang setiap hari mendorong gerobak.

Tidak ada seremoni untuk orang yang memungut barang bekas.

Tidak ada tepuk tangan ketika ia berhasil membawa pulang hasil kerjanya.

Tetapi mungkin memang begitulah sebagian besar kerja manusia.

Yang paling penting justru sering berlangsung tanpa penonton.

Seorang ibu memasak untuk keluarganya.

Seorang buruh mengangkat beban.

Petani mencangkul tanah.

Pedagang membuka lapak sebelum matahari terlalu tinggi.

Dan lelaki itu mendorong gerobaknya.

Mereka tidak sedang mencari tepuk tangan.

Mereka sedang mencari rezeki.

Yang membuat sosok lelaki itu terasa penting bukan sekadar pekerjaannya.

Ada sesuatu yang lebih dalam: ia memilih untuk tetap mencari rezeki tanpa mengambil hak orang lain.

Ini bukan perkara kecil.

Terutama ketika hidup sedang tidak ramah.

Ketika kebutuhan datang bersamaan.

Ketika harga-harga terus bergerak.

Ketika pekerjaan tidak selalu mudah ditemukan.

Pada saat seperti itu, seseorang bisa saja mencari jalan pintas.

Tetapi lelaki itu memilih jalan yang berbeda.

Ia mengumpulkan.

Memilah.

Mengangkut.

Menjual.

Lalu mendapatkan hasil dari sesuatu yang telah ia kerjakan sendiri.

Tidak banyak.

Tetapi halal.

Dan barangkali, bagi orang yang sedang berjuang, rezeki tidak perlu selalu besar untuk disebut nikmat.

Cukup ada sesuatu yang bisa dibawa pulang.

Cukup ada makanan di atas meja.

Cukup ada perasaan bahwa apa yang dimakan keluarga berasal dari keringat sendiri.

Ironisnya, pada saat yang sama, kita hidup di tengah dunia yang sering mengagungkan kursi.

Kursi kepala.

Kursi pimpinan.

Kursi jabatan.

Kursi kekuasaan.

Semakin empuk kursinya, terkadang semakin jauh seseorang dari suara orang yang berdiri di luar ruangan.

Ada orang yang duduk di kursi nyaman dan berbicara panjang tentang rakyat.

Ada yang membuat kebijakan atas nama kepentingan masyarakat.

Ada yang mengucapkan kata kesejahteraan berulang kali.

Tetapi belum tentu pernah merasakan bagaimana rasanya menghitung uang sebelum membeli kebutuhan.

Belum tentu tahu bagaimana rasanya bekerja dari pagi sampai sore hanya untuk membawa pulang uang yang mungkin habis sebelum malam.

Belum tentu mengerti bahwa bagi sebagian keluarga, kehilangan penghasilan satu hari saja sudah berarti mengurangi lauk makan.

Di sinilah ukuran moral manusia menjadi penting.

Bukan seberapa tinggi kursinya.

Bukan seberapa besar ruang kerjanya.

Bukan seberapa banyak orang yang menghormatinya.

Tetapi seberapa jauh ia masih mampu merasakan kehidupan orang yang berada di bawah kebijakannya.

Sebab kekuasaan yang kehilangan empati pada akhirnya hanya menyisakan kekuasaan.

Dan jabatan tanpa rasa tanggung jawab hanyalah kursi yang kebetulan diduduki manusia.

Lelaki itu mungkin tidak pernah memikirkan semua itu.

Ia barangkali tidak punya waktu untuk memikirkan teori tentang negara, kekuasaan, atau keadilan.

Ia hanya tahu bahwa hari harus dijalani.

Gerobak harus didorong.

Barang harus dikumpulkan.

Dan rezeki harus dicari.

Justru karena kesederhanaan itulah sosoknya terasa kuat.

Ia tidak banyak menuntut kehidupan.

Ia hanya meminta kesempatan untuk bekerja.

Dan mungkin itulah yang sebenarnya diinginkan banyak orang: bukan belas kasihan, melainkan kesempatan untuk mencari nafkah dengan tenaganya sendiri.

Ada satu hal lagi yang terasa menyentuh.

Ia tidak mengeluh.

Bukan berarti hidupnya ringan.

Mungkin justru karena ia tahu, mengeluh tidak akan membuat gerobaknya lebih ringan.

Matahari tidak akan menjadi teduh hanya karena ia mengeluh.

Jalan tidak akan menjadi pendek hanya karena ia mengeluh.

Beban tidak akan hilang hanya karena ia mengeluh.

Maka ia memilih terus bergerak.

Di situlah keteguhan sering hadir—tidak dalam kalimat-kalimat besar, tetapi dalam kemampuan seseorang menjalani hari yang berat tanpa kehilangan arah.

Ia mungkin tidak punya banyak pilihan.

Tetapi ia masih memiliki satu pilihan penting:

bagaimana menjalani keadaan yang tidak ia pilih.

Dan ia memilih bekerja.

 

 

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments