Oleh : Icha Adilla
Bagaimana Kita Ingin Diingat?
LESINDO.COM – Ada pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa: Jika suatu hari kita tidak lagi berada di sini, seperti apa kita ingin dikenang? Bukan tentang seberapa besar nama kita. Bukan tentang seberapa banyak orang mengenal kita.
Tetapi tentang bagaimana perasaan seseorang ketika mengingat pernah berjalan bersama kita.
Apakah ia tersenyum?
Apakah ia merasa pernah dikuatkan?
Apakah ia mengingat bahwa pada suatu masa, ketika hidup terasa berat, kita pernah hadir dan mendengarkannya?
Atau sebaliknya, ia masih membawa luka dari kata-kata yang pernah kita ucapkan?
Pertanyaan semacam ini bukan untuk membuat kita merasa bersalah.
Barangkali hanya untuk mengingatkan bahwa kehadiran kita selalu meninggalkan sesuatu.
Entah berupa keteduhan atau luka.
Entah berupa kenangan yang ingin dirawat atau sesuatu yang ingin segera dilupakan.
Dan sering kali, kita tidak pernah tahu sebesar apa pengaruh sebuah sikap kecil terhadap kehidupan orang lain.
Jejak yang Sederhana
Kita tidak harus menjadi orang besar untuk meninggalkan jejak.
Seorang ibu yang setiap pagi menyiapkan makanan untuk keluarganya mungkin merasa tidak sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Seorang ayah yang diam-diam bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah mungkin tidak pernah menganggap dirinya pahlawan.
Seorang guru mungkin hanya merasa sedang menjalankan tugas ketika memberikan nasihat kepada muridnya.
Seorang teman mungkin mengira pertolongan kecil yang diberikannya tidak akan diingat.
Tetapi kehidupan sering menyimpan hal-hal seperti itu lebih lama daripada yang kita kira.
Ada anak yang bertahun-tahun kemudian masih mengingat tangan ibunya.
Ada murid yang puluhan tahun kemudian masih mengingat kalimat gurunya.
Ada seseorang yang sampai usia tua masih mengenang seorang sahabat yang pernah datang ketika semua orang lain pergi.
Mungkin begitulah jejak bekerja.
Ia tidak selalu besar.
Ia hanya perlu tulus.
Sebelum Menjadi Kenangan
Pada akhirnya, kita semua akan menjadi kenangan bagi seseorang.
Suara kita akan berhenti terdengar. Langkah kita tidak lagi melewati pintu yang sama. Kursi yang biasa kita duduki akan ditempati orang lain.
Namun, mungkin masih ada seseorang yang menyimpan cerita tentang kita.
Tentang tawa kita.
Tentang cara kita memanggil namanya.
Tentang secangkir kopi yang pernah diminum bersama.
Tentang percakapan panjang pada suatu malam.
Atau tentang pertolongan kecil yang bahkan sudah kita lupakan.
Dan mungkin, suatu hari, ketika nama kita disebut dalam sebuah percakapan, seseorang akan tersenyum lalu berkata dalam hati:
“Ia pernah menjadi bagian baik dalam hidupku.”
Bukankah itu sudah cukup?
Sebab hidup tidak selalu meminta kita meninggalkan sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, hidup hanya meminta kita hadir dengan baik.
Tidak menyakiti jika bisa menghindari.
Menolong jika mampu.
Memaafkan jika hati telah lapang.
Mengucapkan terima kasih ketika menerima kebaikan.
Dan menyayangi orang-orang yang masih diberi kesempatan untuk berjalan bersama kita.
Waktu akan terus berjalan.
Kita tidak bisa menahannya.
Hari-hari yang telah lewat tidak akan kembali. Orang-orang yang telah pergi tidak selalu dapat kita temui lagi. Dan suatu saat nanti, kita pun akan menjadi bagian dari masa lalu seseorang.
Maka selagi pagi masih datang, selagi mata masih dapat melihat cahaya, selagi tangan masih bisa menggenggam tangan orang yang kita sayangi, barangkali belum terlambat untuk menjadi sedikit lebih baik.
Tidak perlu menunggu menjadi sempurna.
Cukup menjadi manusia yang kehadirannya tidak membuat dunia orang lain semakin berat.
Sebab pada akhirnya, usia bukan hanya tentang berapa lama kita hidup.
Ia juga tentang berapa banyak hati yang pernah kita sentuh dengan kebaikan.
Dan ketika kelak langkah kita berhenti, mungkin bukan harta yang paling lama tinggal.
Bukan pula nama.
Melainkan kenangan tentang bagaimana rasanya pernah berada di dekat kita.
Semoga ketika itu tiba, masih ada seseorang yang mengingat kita dengan senyum kecil, lalu menyelipkan nama kita di antara doa-doanya.
Sebab manusia mungkin pergi, tetapi kebaikan yang pernah ditanamnya dapat menemukan jalan untuk tetap hidup.

