Oleh : Raihan H
Ibu Kota Mataram Yang Terlupakan
Menelusuri Jejak Kartasura 346 Tahun: Dari Pusat Kekuasaan, Benteng yang Jebol, hingga Kota Perlintasan yang Tak Pernah Tidur
LESINDO.COM – Ada kota yang dibangun untuk menjadi pusat kekuasaan. Ada pula kota yang kemudian tumbuh karena menjadi jalan yang dilalui banyak orang.
Kartasura pernah menjadi yang pertama.
Kini, ia lebih sering dikenal sebagai yang kedua.
Pada 11 September 2026, Kartasura memperingati usia 346 tahun. Angka itu jauh lebih tua dibandingkan usia Kabupaten Sukoharjo yang baru memasuki sekitar delapan dekade. Namun usia panjang tidak selalu berbanding lurus dengan posisi dalam ingatan publik.
Kartasura pernah menjadi ibu kota Mataram Islam. Di tanah inilah kekuasaan dibangun, istana didirikan, politik kerajaan dipertarungkan, dan pemberontakan akhirnya menorehkan luka pada tembok keraton.
Hari ini, orang mengenalnya sebagai simpul jalan.
Semarang ke Solo.
Yogyakarta ke Solo.
Solo ke berbagai kota.
Kendaraan melintas, manusia berganti, warung buka hingga malam, pusat kuliner terus bergerak. Kota ini hidup. Tetapi pertanyaan sejarahnya justru semakin sunyi:
Ke mana perginya ingatan tentang Kartasura sebagai bekas ibu kota kerajaan?
Kota yang Pernah Menjadi Pusat Dunia Politik Jawa
Kartasura bukan sekadar nama sebuah kecamatan di Sukoharjo.
Pada masanya, Kartasura adalah pusat pemerintahan Mataram Islam.
Perpindahan pusat kerajaan dari Plered ke Kartasura pada akhir abad ke-17 bukan sekadar perpindahan alamat pemerintahan. Di belakangnya terdapat pergolakan politik, keamanan, perebutan pengaruh dan kebutuhan mempertahankan kekuasaan.
Pada 1680, Kartasura mulai memainkan peran baru sebagai pusat kerajaan.
Sejak itu, sejarah Jawa bergerak melalui kota ini.
Raja memerintah dari keraton. Para bangsawan membangun pengaruh. Utusan datang dan pergi. Kepentingan politik bertemu di dalam dan di luar tembok istana.
Keraton menjadi pusat kekuasaan.
Tetapi sejarah menunjukkan sebuah paradoks: semakin besar kekuasaan dikumpulkan dalam satu tempat, semakin besar pula kepentingan yang ingin menguasainya.
Kartasura akhirnya menjadi saksi dari paradoks tersebut.
Benteng yang Tidak Mampu Menahan Politik
Jejak paling keras dari masa itu bukan hanya cerita tentang raja dan bangsawan.
Ia tersisa dalam bentuk tembok.

Benteng Keraton Kartasura masih dapat ditemukan. Sebagian bangunan telah dimakan usia. Tetapi beberapa bagian struktur masih memperlihatkan bahwa di tempat itu pernah berdiri pusat kekuasaan yang dikelilingi pertahanan.
Tembok itu seolah menjadi arsip yang tidak bisa dibantah.
Ia pernah dibangun untuk menjaga keraton.
Namun sejarah kemudian memperlihatkan bahwa benteng tidak selalu kalah oleh senjata.
Kadang ia kalah oleh politik.
Pemberontakan yang mengguncang Kartasura meninggalkan salah satu episode paling traumatis dalam sejarah keraton. Benteng keraton berhasil ditembus. Pusat kekuasaan yang secara fisik dilindungi tembok ternyata tidak kebal terhadap konflik politik yang berlangsung di dalam masyarakat dan lingkungan kekuasaan.
Keraton akhirnya tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk mempertahankan pusat pemerintahan.
Kekuasaan pun berpindah.
Kartasura ditinggalkan sebagai ibu kota.
Pusat kerajaan kemudian bergeser ke Surakarta.
Tetapi kepindahan itu tidak menghapus Kartasura dari sejarah.
Justru sebaliknya.
Bekas ibu kota itu menjadi semacam catatan kaki yang menyimpan cerita tentang bagaimana sebuah kekuasaan bisa runtuh dari dalam.
Sejarah Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Ada ironi dalam sejarah keraton Jawa.
Keraton berpindah, tetapi persoalan mengenai kekuasaan tidak ikut berpindah.
Di Kartasura terdapat sejarah perebutan pengaruh, konflik elite, hubungan antarketurunan, dan kepentingan politik yang mengitari takhta.
Setelah pusat kerajaan berpindah ke Surakarta, dinamika semacam itu tidak otomatis berakhir.
Sejarah kerajaan-kerajaan Jawa memperlihatkan bahwa persoalan suksesi selalu menjadi perkara sensitif. Takhta bukan hanya soal siapa yang memiliki garis keturunan, melainkan juga siapa yang mendapatkan legitimasi, dukungan dan pengakuan.
Karena itu, kisah Kartasura tidak berhenti ketika keraton meninggalkan kota ini.
Ia seperti bayangan panjang yang mengikuti perjalanan sejarah Mataram dan keturunannya.
Dalam konteks itulah konflik dan dualisme di lingkungan keraton pada masa-masa berikutnya menarik dibaca bukan semata sebagai persoalan keluarga kerajaan.
Ia adalah pengingat bahwa kekuasaan hampir selalu mempunyai lebih dari satu tafsir tentang siapa yang paling berhak memilikinya.
Dari Ibu Kota Menjadi Kota Perlintasan
Ada perubahan besar yang terjadi pada Kartasura.
Dulu manusia datang karena keraton.
Kini manusia datang karena jalan.
Geografi mengubah nasib kota.
Kartasura berada di persimpangan jalur penting yang menghubungkan Solo dengan Yogyakarta dan Semarang. Arus kendaraan menjadikannya kawasan transit yang sibuk.
Kota ini tidak lagi menunggu titah raja.
Ia menunggu kendaraan.
Truk, bus, mobil pribadi, sepeda motor dan manusia yang sedang menuju kota lain melewati kawasan ini setiap hari.
Kartasura menjadi kota perlintasan.
Namun menjadi kota perlintasan bukan berarti menjadi kota mati.
Justru sebaliknya.
Ketika malam turun dan sebagian kota mulai mematikan lampu, Kartasura masih memiliki denyut kehidupan.
Warung makan, pedagang kaki lima, pusat kuliner dan aktivitas ekonomi terus berlangsung.
Nasi liwet menjadi salah satu bagian dari wajah malamnya.
Di antara lampu jalan dan suara kendaraan, Kartasura menemukan bentuk kekuasaannya yang baru.
Bukan kekuasaan politik.
Melainkan kekuatan ekonomi dari sebuah lokasi yang tidak pernah benar-benar berhenti dilewati manusia.

