spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 2 : Cermin yang Sering Kita Hindari

Part 2 : Cermin yang Sering Kita Hindari

Pendidikan juga harus memberi keberanian kepada manusia untuk bertanya ketika sistem itu mulai kehilangan kemanusiaannya.

Oleh : Adilla M

Pendidikan yang Kehilangan Jalan Pulang

LESINDO.COM – Mungkin persoalan pendidikan bukan semata tentang kurangnya ilmu. Kita hidup pada zaman ketika pengetahuan tersedia di mana-mana. Kita dapat mengetahui banyak hal hanya dengan menyentuh layar.

Kita dapat berbicara tentang moral, keadilan, demokrasi, kemanusiaan, bahkan masa depan peradaban.

Namun, mengetahui tidak selalu berarti menghayati.

Menghafal tidak selalu berarti memahami.

Dan memahami tidak selalu berarti berani menjalani.

Pendidikan mungkin telah berhasil memenuhi kepala manusia dengan berbagai pengetahuan, tetapi kadang kita lupa bertanya:

Apakah pendidikan juga masih memberi ruang bagi manusia untuk mengenal dirinya sendiri?

Apakah anak-anak masih diajari untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara hatinya?

Apakah mereka diajari bahwa kegagalan bukan akhir dari kehidupan?

Apakah mereka diajari bahwa keberhasilan tanpa kejujuran dapat menjadi bentuk lain dari kekalahan?

Apakah mereka diajari untuk tidak hanya bertanya, “Bagaimana caranya aku berhasil?”

Tetapi juga:

“Untuk apa aku berhasil, dan menjadi manusia seperti apa setelah keberhasilan itu kudapatkan?”

Sebab, pendidikan yang hanya mengajarkan manusia untuk mengejar sesuatu, tanpa mengajarkan kapan harus berhenti, mungkin akan melahirkan manusia yang terus berlari tanpa mengetahui ke mana ia sebenarnya menuju.

Menjadi Manusia yang Tidak Takut Bertanya

Pendidikan sejati seharusnya tidak sekadar menyiapkan manusia agar dapat hidup di dalam sebuah sistem.

Pendidikan juga harus memberi keberanian kepada manusia untuk bertanya ketika sistem itu mulai kehilangan kemanusiaannya.

Mengapa sesuatu yang salah dapat menjadi kebiasaan?

Mengapa kejujuran terkadang justru menjadi beban?

Mengapa keberhasilan sering hanya diukur dengan angka?

Mengapa manusia yang berbeda harus selalu dianggap ancaman?

Dan ketika jawaban-jawaban itu tidak memuaskan, pendidikan seharusnya tidak mengajarkan kita untuk sekadar diam.

Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu menjaga kejernihan pikirannya ketika banyak orang memilih mengikuti arus.

Manusia yang tidak mudah merasa paling benar.

Manusia yang tidak takut mengakui kesalahan.

Manusia yang berani mengatakan tidak ketika seluruh dunia di sekelilingnya menganggap sesuatu yang salah sebagai kewajaran.

Namun, keberanian itu tidak boleh berubah menjadi kesombongan.

Sebab, orang yang ingin memperbaiki dunia juga harus terus bersedia diperbaiki oleh dunia.

Orang yang mengkritik sistem juga harus siap mengoreksi dirinya sendiri.

Di situlah barangkali letak keseimbangan yang paling sulit.

Menjadi kritis tanpa kehilangan kerendahan hati.

Menjadi teguh tanpa berubah menjadi keras.

Menjadi baik tanpa merasa lebih baik daripada orang lain.

Jalan Pulang

Pada akhirnya, barangkali pendidikan adalah perjalanan pulang.

Pulang kepada nilai-nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia.

Pulang kepada kejujuran.

Pulang kepada rasa malu ketika melakukan kesalahan.

Pulang kepada keberanian untuk mengakui bahwa kita belum sempurna.

Pulang kepada kesadaran bahwa dunia tidak akan menjadi lebih baik hanya karena kita pandai menemukan kesalahan orang lain.

Dunia berubah ketika seseorang berani memperbaiki dirinya.

Dan perubahan itu menjadi lebih bermakna ketika ia tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan ikut memperbaiki ruang tempat orang-orang lain hidup.

Karena itu, kita membutuhkan dua hal yang berjalan bersama.

Kita membutuhkan cermin untuk melihat diri sendiri.

Dan kita membutuhkan jendela untuk melihat dunia.

Cermin tanpa jendela dapat membuat manusia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Jendela tanpa cermin dapat membuat manusia terlalu sibuk menghakimi dunia.

Tetapi manusia yang mampu berpindah dari cermin ke jendela, lalu kembali lagi kepada cermin, mungkin akan memahami sesuatu yang sederhana:

Bahwa dunia memang penuh kesalahan.

Sistem memang tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya.

Manusia memang sering mengecewakan.

Tetapi di tengah semua itu, kita tetap memiliki satu ruang yang harus terus kita jaga.

Diri sendiri.

Sebab, sebelum kita berbicara tentang menyelamatkan dunia, mungkin kita perlu memastikan bahwa di dalam diri kita masih ada sesuatu yang belum mati:

kejujuran untuk mengakui kesalahan, keberanian untuk memperbaikinya, dan hati yang tetap ingin menjadi manusia.

Dan mungkin, dari sanalah pendidikan menemukan kembali jalan pulangnya.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments