spot_img
BerandaBudayaKetika 24 Jam Terasa Belum Cukup: Membaca Etos Kerja Warung Madura

Ketika 24 Jam Terasa Belum Cukup: Membaca Etos Kerja Warung Madura

LESINDO.COM – Malam telah lama turun. Jalanan mulai lengang. Lampu-lampu rumah satu per satu dipadamkan. Sebagian orang sudah terlelap, mengistirahatkan tubuh setelah seharian bergulat dengan pekerjaan dan berbagai urusan kehidupan.

Namun, di sebuah sudut kampung, sebuah cahaya masih menyala.

Warung kecil itu tetap terbuka.

Di balik etalase sederhana, berbagai kebutuhan sehari-hari tersusun rapi. Ada kopi, gula, sabun, mi instan, rokok, minuman, hingga berbagai barang kecil yang mungkin dibutuhkan seseorang pada saat yang tidak terduga.

Orang mengenalnya sebagai warung Madura.

Warung itu seperti memiliki hubungan yang berbeda dengan waktu.

Ketika kebanyakan tempat usaha mengenal jam buka dan jam tutup, warung Madura seakan berjalan dengan kalendernya sendiri. Pagi dilayani, siang dilayani, sore dilayani, bahkan ketika tengah malam telah lama berlalu, lampu warung itu masih menyala.

Orang pun sering berseloroh.

Dalam satu hari, manusia diberi waktu 24 jam. Namun, entah bagaimana, warung Madura seperti mampu menambahkan satu jam lagi. Sebab, selama kita masih membutuhkan sesuatu, rasanya warung itu tetap ada.

Buka 25 jam sehari.

Tentu itu hanya gurauan. Sebab waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Satu hari tetap terdiri atas 24 jam. Tidak kurang dan tidak lebih.

Namun, gurauan itu menyimpan kekaguman.

Cahaya yang Tidak Cepat Padam

Di tengah malam, keberadaan warung Madura sering kali terasa lebih dari sekadar tempat membeli kebutuhan.

Ia menjadi semacam cahaya kecil di tengah kampung yang mulai tidur.

Ketika seseorang kehabisan kopi untuk menemani pekerjaan malam, warung itu masih terbuka. Ketika seorang ibu tiba-tiba membutuhkan sesuatu untuk keluarganya, lampu warung itu masih menyala. Ketika seorang pengendara pulang larut malam dan ingin membeli minuman, pintunya belum tertutup.

Dalam kesederhanaannya, warung itu hadir ketika banyak tempat lain telah berhenti.

Barangkali, di situlah kekuatan sebenarnya.

Bukan semata-mata karena warung itu menjual barang. Melainkan karena ada kesediaan untuk tetap hadir ketika waktu mulai sepi.

Di balik pintu yang terus terbuka, sesungguhnya ada tubuh yang juga lelah. Ada mata yang mungkin ingin terpejam. Ada seseorang yang harus bergantian menjaga. Ada keluarga yang membagi waktu antara bekerja, makan, beristirahat, dan kembali melayani pembeli.

Buka tanpa henti tentu bukan berarti tanpa pengorbanan.

Waktu sebagai Kesempatan

Bagi sebagian orang, malam adalah waktu untuk berhenti.

Bagi yang lain, malam justru bisa menjadi kesempatan.

Mungkin inilah salah satu cara membaca etos kerja yang sering tampak dari kehidupan para perantau Madura. Mereka melihat waktu bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dilewati, melainkan sebagai ruang yang bisa dimanfaatkan.

Ketika kesempatan datang, ia tidak selalu muncul pada jam kerja.

Kebutuhan manusia juga tidak mengenal jadwal.

Orang bisa membutuhkan sesuatu pada pukul tujuh pagi. Bisa pula pada pukul sebelas malam. Bahkan, kebutuhan sering datang ketika semua toko telah tutup dan jalanan mulai sunyi.

Di situlah sebuah warung kecil yang tetap menyala menemukan arti kehadirannya.

Ia seperti mengatakan, tanpa banyak kata: selama masih ada yang membutuhkan, kami masih di sini.

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun, jika direnungkan, di dalamnya terdapat filosofi yang cukup dalam tentang kerja dan ketekunan.

Ketika Orang Lain Berhenti

Tentu, tidak ada manusia yang benar-benar dapat bekerja selama 24 jam penuh.

Tubuh membutuhkan istirahat. Mata perlu tidur. Pikiran membutuhkan jeda.

Namun, semangat kerja tidak selalu berarti seseorang harus memaksakan dirinya bekerja tanpa henti. Etos kerja juga dapat tumbuh dari kemampuan mengatur peran, berbagi tugas, dan menjaga usaha agar tetap hidup.

Warung yang terlihat selalu terbuka, mungkin dijaga secara bergantian.

Di situlah kita belajar bahwa ketekunan tidak selalu merupakan pekerjaan seorang diri.

Ada keluarga.

Ada kebersamaan.

Ada pembagian tugas.

Ada keyakinan bahwa usaha harus terus berjalan.

Dari warung kecil di pinggir jalan, kita mungkin sedang melihat sebuah pelajaran besar tentang bagaimana kehidupan diperjuangkan.

Tidak dengan pidato panjang.

Tidak dengan slogan yang dipasang di dinding.

Tetapi melalui pintu yang tetap terbuka dan lampu yang tidak segera dipadamkan.

Gurauan tentang 25 Jam

Maka, ketika orang berkata bahwa warung Madura buka 25 jam sehari, kita tahu itu hanya lelucon.

Namun, kadang-kadang sebuah lelucon lahir dari kenyataan yang membuat kita kagum.

Sebab, manusia memang hanya memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Tidak seorang pun diberi lebih.

Yang membedakan mungkin bukan jumlah waktunya.

Melainkan cara manusia memperlakukannya.

Ada yang membiarkan waktu berlalu begitu saja. Ada yang menunggu kesempatan datang. Ada pula yang berusaha membuka pintu selebar-lebarnya agar kesempatan bisa masuk.

Warung Madura, dengan segala kesederhanaannya, seakan mengingatkan kita tentang hal itu.

Bahwa waktu memang terbatas.

Namun, semangat tidak selalu mengenal batas yang sama.

Dan ketika malam telah semakin larut, jalanan mulai sunyi, serta sebagian besar lampu telah padam, cahaya kecil dari warung yang masih terbuka itu seperti sebuah penanda:

bahwa di suatu tempat, selalu ada orang yang sedang memperjuangkan hidupnya.

Sementara waktu terus berputar.

Dua puluh empat jam sehari.

Tetapi bagi mereka yang memiliki semangat untuk terus bergerak, mungkin memang terasa seperti belum cukup.

Sehingga lahirlah gurauan yang begitu akrab di telinga:

Warung Madura tidak buka 24 jam.

Sebab, 24 jam ternyata masih kurang. Mereka buka 25 jam sehari.  (Rhe)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments