spot_img
BerandaJelajahjelajahTidak Semua Pertanyaan Harus Memiliki Jawaban

Tidak Semua Pertanyaan Harus Memiliki Jawaban

Belajar memahami bahwa tidak semua yang diinginkan harus dimiliki dan tidak semua yang hilang berarti kehidupan telah berakhir.

Untuk Apa Kita Hidup, Jika Pada Akhirnya Kita Akan Mati?

LESINDO.COM – Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu membutuhkan jawaban segera. Ia kadang hanya datang, duduk diam di dalam kepala, lalu menemani seseorang menatap langit-langit kamar pada malam yang panjang.

Untuk apa kita hidup, jika pada akhirnya semua akan mati?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Bahkan klise. Namun, justru karena sederhana, ia sering menyimpan kedalaman yang tidak mudah dijelaskan.

Manusia menjalani hidup dengan begitu banyak rencana. Kita bekerja, mengumpulkan uang, membangun rumah, mencari pasangan, membesarkan anak, menjaga kesehatan, dan menyiapkan masa depan. Seolah-olah dengan perencanaan yang cukup matang, kehidupan dapat berjalan sebagaimana yang kita inginkan.

Padahal, hidup tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rencana.

Ada orang yang memilih tidak menikah karena takut kehilangan kebebasan, tetapi kemudian khawatir akan kesepian ketika usia menua. Ada yang menikah dengan harapan dapat berjalan bersama hingga rambut memutih, tetapi tidak semua perjalanan cinta berakhir dengan kebersamaan.

Ada pula yang bekerja keras sepanjang hidup karena takut kekurangan di masa tua. Namun, ironinya, sebagian orang justru terlalu sibuk mengejar hari esok hingga lupa menikmati hari ini. Ketika waktu luang akhirnya datang, tubuh sudah tidak lagi memiliki tenaga seperti dulu.

Hidup memang sering berada di antara dua penyesalan.

Ada jalan yang tidak kita tempuh, lalu kita bertanya-tanya bagaimana hidup akan berjalan jika dahulu kita memilihnya. Namun, ada pula jalan yang sudah kita tempuh dengan penuh keyakinan, tetapi ternyata meninggalkan luka.

Begitulah manusia.

Kita tidak pernah benar-benar tahu mana pilihan yang akan membawa kebahagiaan dan mana yang akan membawa kesedihan. Kita hanya memilih berdasarkan apa yang kita pahami pada saat itu, lalu menjalani konsekuensinya.

Seberapa rapi pun kita menyusun rencana, selalu ada sesuatu yang berada di luar kendali.

Kita bisa menjaga tubuh, tetapi tidak selalu dapat menghindari sakit. Kita bisa bekerja keras, tetapi tidak dapat menjamin keberhasilan. Kita bisa mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tetapi tidak dapat memaksa waktu untuk mempertemukan dua orang selamanya.

Pada akhirnya, manusia hanyalah makhluk yang berjalan sambil belajar.

Belajar menerima.

Belajar melepaskan.

Belajar memahami bahwa tidak semua yang diinginkan harus dimiliki dan tidak semua yang hilang berarti kehidupan telah berakhir.

Dalam perjalanan itu, hidup meninggalkan banyak jejak. Ada kenangan yang begitu indah hingga kita ingin mengulangnya. Ada pula peristiwa yang begitu pahit sehingga kita berharap tidak pernah mengalaminya.

Ada urusan yang seolah tidak pernah selesai.

Ada kata-kata yang tidak sem

pat diucapkan.

Ada permintaan maaf yang terlambat.

Ada pertemuan yang ternyata menjadi pertemuan terakhir tanpa pernah kita sadari.

Mungkin karena itulah hidup terasa begitu rumit. Kita terus berjalan sambil membawa kenangan, harapan, ketakutan, dan hal-hal yang belum selesai.

Namun, semakin jauh seseorang berjalan, barangkali ia akan sampai pada sebuah kesadaran sederhana: hidup sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak.

Kita sering merasa membutuhkan banyak hal untuk bahagia. Lebih banyak uang. Rumah yang lebih besar. Jabatan yang lebih tinggi. Kehidupan yang lebih mewah.

Padahal, setelah melewati berbagai perjalanan, ukuran kebahagiaan sering kali kembali kepada hal-hal sederhana.

Tubuh yang masih sehat.

Makanan yang cukup.

Rumah untuk pulang.

Orang-orang yang tulus.

Hati yang tidak terlalu gaduh.

Entah seseorang memiliki banyak uang atau sedikit, kesehatan tetap menjadi kekayaan yang tidak dapat digantikan. Entah hidup dalam kemewahan atau kesederhanaan, ketenangan hati tetap menjadi sesuatu yang paling sulit dibeli.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar uang hingga tubuh yang menjadi kendaraan hidup ini justru hancur di tengah jalan.

Jangan pula membiarkan persoalan kecil mengambil terlalu banyak ruang di dalam hati. Tidak semua hal harus dipikirkan sampai membuat tidur kehilangan nyenyaknya. Tidak semua perkataan orang harus dibawa pulang dan disimpan dalam pikiran.

Ada hal-hal yang memang perlu diperjuangkan.

Tetapi ada pula hal-hal yang harus dilepaskan.

Maka, mungkin pertanyaan tentang tujuan hidup tidak selalu harus dijawab dengan sesuatu yang besar.

Mungkin hidup bukan semata-mata tentang menjadi seseorang yang hebat. Bukan pula tentang memiliki segalanya.

Barangkali, hidup adalah tentang menjalani hari dengan sebaik-baiknya.

Menjadi manusia yang tidak terlalu banyak menyakiti.

Memberikan kebaikan ketika masih memiliki kesempatan.

Mencintai ketika masih bisa bertemu.

Meminta maaf sebelum terlambat.

Bersyukur atas apa yang masih ada.

Dan menikmati kehidupan tanpa terus-menerus dihantui ketakutan tentang sesuatu yang belum tentu terjadi.

Kita tentu boleh merencanakan masa depan. Manusia memang membutuhkan harapan agar tetap memiliki arah. Namun, jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk memikirkan hari esok hingga lupa bahwa kehidupan sesungguhnya sedang berlangsung hari ini.

Sebab, pada akhirnya, tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban.

Tidak semua rencana harus menjadi kenyataan.

Tidak semua kehilangan harus dimengerti.

Dan tidak semua jalan harus kita ketahui ujungnya sebelum kita melangkah.

Mungkin kita memang akan mati pada akhirnya.

Justru karena waktu kita terbatas, hidup menjadi berharga.

Karena kita tidak hidup selamanya, maka sebuah pertemuan menjadi berarti. Karena waktu tidak dapat diulang, maka sebuah kesempatan menjadi berharga. Karena manusia akan pergi, maka kehadiran hari ini layak untuk disyukuri.

Hiduplah dengan baik.

Nikmati apa yang masih ada.

Jaga tubuhmu.

Tenangkan hatimu.

Lakukan kebaikan selagi kesempatan masih terbuka.

Tentang masa depan, rencanakanlah seperlunya.

Tetapi jangan menyerahkan seluruh kebahagiaan hari ini kepada sesuatu yang belum tentu terjadi esok hari.

Sebab, waktu memiliki caranya sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hari ini masih kita bawa dalam diam.

Dan mungkin, ketika kita telah berjalan cukup jauh, kita akan memahami bahwa hidup bukan tentang menemukan jawaban atas semua pertanyaan.

Hidup adalah tentang belajar menjalani pertanyaan itu, sambil tetap melangkah, mencintai, bersyukur, dan menikmati perjalanan.

Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup bermakna bukan semata-mata seberapa panjang usia kita, melainkan apa yang kita lakukan dengan waktu yang sempat dipercayakan kepada kita. (Rai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments