spot_img
BerandaBudayaPart 3 : Keruntuhan Majapahit, lahirnya Demak, jatuhnya Arya Penangsang, hingga berdirinya...

Part 3 : Keruntuhan Majapahit, lahirnya Demak, jatuhnya Arya Penangsang, hingga berdirinya Mataram bukanlah satu garis lurus.

Karena itu, pembaca modern perlu menahan diri untuk tidak menelan seluruh kisah babad sebagai laporan jurnalistik dari abad ke-15 dan ke-16.

Oleh: Redaksi

Di antara fakta, legenda, dan kepentingan politik, Sunan Kalijaga ditempatkan sebagai penghubung sebuah zaman.

Sutawijaya: Anak Angkat yang Menjadi Penguasa

LESINDO.COM – Nama Sutawijaya kemudian berubah menjadi Panembahan Senopati.

Di tangannya, Mataram tidak lagi sekadar daerah bawahan.

Ia berubah menjadi pusat kekuasaan.

Hubungan antara Sutawijaya dan Pajang memburuk setelah kekuatan Mataram berkembang. Ketegangan itu pada akhirnya membuka jalan bagi munculnya Mataram sebagai kekuatan politik mandiri. Literatur sejarah menempatkan Sutawijaya sebagai tokoh utama dalam proses tersebut, setelah sebelumnya Pemanahan meletakkan fondasinya.

Di Kotagede, jejak kekuasaan baru itu masih terbaca.

Kompleks Masjid Mataram Kotagede diperkirakan berkaitan dengan masa pemerintahan Panembahan Senopati, meskipun penanggalan dan sejarah pembangunannya juga memiliki perdebatan tersendiri.

Mataram tidak lahir dari ruang kosong.

Ia dibangun dari kemenangan perang, pemberian tanah, jaringan keluarga, legitimasi agama, dan kemampuan mengendalikan wilayah.

Dan, tentu saja, dari cerita.

Babad sebagai Mesin Ingatan Kekuasaan

Di sinilah seluruh rangkaian cerita itu menemukan pola.

Majapahit memberi masa lalu.

Demak memberi Islam.

Pajang memberi jembatan.

Mataram memberi dinasti.

Wali Songo memberi legitimasi spiritual.

Dan babad menyatukannya.

Dalam Babad Tanah Jawi, sejarah bukan sekadar urutan tahun. Ia adalah jaringan hubungan antara manusia, raja, wali, leluhur, wahyu, dan dunia gaib.

Karena itu, pembaca modern perlu menahan diri untuk tidak menelan seluruh kisah babad sebagai laporan jurnalistik dari abad ke-15 dan ke-16.

Namun sama kelirunya jika seluruhnya dibuang sebagai dongeng.

Babad adalah dokumen tentang bagaimana masyarakat Jawa memahami kekuasaan.

Itulah nilai historisnya.

Ketika seorang raja dikaitkan dengan Majapahit, itu berbicara tentang legitimasi.

Ketika ia dihubungkan dengan para wali, itu berbicara tentang kesalehan dan otoritas agama.

Ketika ia disebut memperoleh wahyu keprabon, itu berbicara tentang konsep kekuasaan Jawa.

Dan ketika seorang wali ditempatkan di antara Majapahit dan Demak, ia menjadi simbol bahwa perubahan politik tidak harus dipahami sebagai pemutusan total dengan masa lalu.

Kalijaga, di Tengah Dua Dunia

Mungkin karena itu Sunan Kalijaga tetap hidup begitu kuat dalam ingatan Jawa.

Ia berada di antara dua zaman.

Di satu sisi, ia ditempatkan dalam dunia wali dan Islamisasi.

Di sisi lain, ia dikaitkan dengan wayang, gamelan, tembang, arsitektur dan simbol-simbol Jawa yang lebih tua.

Ia bukan sekadar tokoh agama dalam cerita.

Ia adalah metafora.

Metafora tentang bagaimana sebuah masyarakat menghadapi perubahan.

Islam tidak selalu dibayangkan sebagai pedang yang memotong masa lalu. Dalam narasi Kalijaga, ia menjadi bahasa baru yang masuk ke dalam bentuk-bentuk lama.

Wayang tetap hidup.

Gamelan tetap berbunyi.

Masjid berdiri dengan bentuk arsitektur yang tidak sepenuhnya asing bagi masyarakat Jawa.

Dan kekuasaan baru berusaha menjelaskan dirinya sebagai penerus, bukan sekadar penghancur.

Tetapi sejarah menuntut satu catatan kaki besar:

tidak semua yang dipercaya masyarakat merupakan peristiwa yang dapat dibuktikan.

Justru karena itulah sejarah dan babad harus dibaca bersamaan—tetapi tidak dicampuradukkan.

Sejarah mencari bukti.

Babad mencari makna.

Kadang keduanya bertemu.

Kadang tidak.

Dari Demak ke Mataram: Sebuah Estafet yang Tidak Sederhana

Jika seluruh kisah itu disederhanakan menjadi satu garis, kita memperoleh:

Majapahit → Demak → Pajang → Mataram.

Tetapi di balik garis tersebut terdapat perebutan kekuasaan, konflik keluarga, perang antardaerah, perubahan jaringan politik, legitimasi agama, dan proses panjang pembentukan negara baru.

Mataram kemudian tumbuh jauh melampaui wilayah awalnya. Pada masa-masa berikutnya, terutama di bawah Sultan Agung, ekspansi Mataram menjadi proyek politik yang jauh lebih besar dan berupaya menempatkan sebagian besar Jawa dalam satu orbit kekuasaan.

Karena itu, Mataram bukan sekadar “penerus” Demak.

Ia adalah hasil dari proses baru.

Demikian pula Demak tidak semata-mata “pengganti” Majapahit.

Ia adalah salah satu kekuatan yang muncul ketika tatanan politik Jawa mengalami perubahan besar.

Dan Sunan Kalijaga?

Ia mungkin tidak dapat dibuktikan sebagai pengendali seluruh proses itu.

Tetapi dalam ingatan kolektif Jawa, ia telah memperoleh fungsi yang lebih besar daripada seorang individu.

Ia menjadi wajah dari sebuah transisi.

Seorang wali yang berdiri di ambang dua dunia.

Di belakangnya, Majapahit perlahan berubah menjadi masa lalu.

Di depannya, Demak, Pajang, dan Mataram menyusun masa depan.

Di antara keduanya, ada kayu tatal, wayang, pusaka, perang, ramalan, dan kisah-kisah tentang wahyu.

Dan dari serpihan-serpihan itulah sebuah sejarah baru dibangun.

Bukan sejarah yang seluruhnya terdiri atas fakta.

Bukan pula legenda belaka.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih Jawa:

kekuasaan yang membutuhkan sejarah, dan sejarah yang kemudian membutuhkan legenda.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments