spot_img
BerandaBudayaPart 2 : Alas Purwo: Dari Hutan Purba, Jejak Kolonial Hingga Panggung...

Part 2 : Alas Purwo: Dari Hutan Purba, Jejak Kolonial Hingga Panggung Wisata Spiritual

Oleh : Faicha AM (Mahasiswa Unair FKH)

Banteng, macan tutul dan hutan yang terus diuji

LESINDO.COM – Taman Nasional Alas Purwo menjadi habitat sejumlah satwa penting, termasuk banteng Jawa, macan tutul Jawa dan elang Jawa. Data resmi taman nasional mencatat bahwa banteng menjadi salah satu spesies prioritas kawasan tersebut. Pada 2020, keberadaan banteng yang terpantau di Sadengan mencapai 120 ekor.

Namun keberadaan satwa tidak pernah berdiri sendiri.

Satwa membutuhkan ruang.

Ruang membutuhkan habitat.

Habitat membutuhkan hutan.

Dan hutan membutuhkan perlindungan.

Di luar batas taman nasional, persoalan menjadi lebih rumit. Penelitian tentang ekologi banteng menunjukkan bahwa satwa ini juga pernah bergerak ke wilayah yang berbatasan dengan kawasan taman nasional, termasuk areal hutan produksi. Ketika kebutuhan pakan dan air tidak sepenuhnya tersedia di satu tempat, batas administratif tidak selalu menjadi batas bagi pergerakan satwa.

Bagi manusia, garis batas dapat dibuat di peta.

Bagi banteng, garis itu tidak selalu ada.

Di antara karst dan gua-gua pertapaan

Alas Purwo bukan hanya hutan.

Sebagian besar kawasan memiliki bentang alam karst dengan jaringan sungai bawah tanah dan gua yang melimpah. Gua-gua tersebut menjadi bagian penting dari karakter geologi kawasan sekaligus memiliki nilai sejarah dan budaya.

Di sejumlah gua, muncul tradisi pertapaan.

Goa Istana, Goa Padepokan dan sejumlah gua lainnya kemudian dikenal sebagai tempat melakukan laku spiritual.

Di sinilah fakta dan mitologi kembali bertemu.

Gua secara geografis memang nyata.

Orang memang datang untuk bertapa.

Tetapi cerita tentang siapa yang pernah bertapa, kekuatan apa yang ada di dalamnya, atau kerajaan gaib yang dipercaya berada di kawasan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat.

Bagi seorang peneliti, cerita itu harus dibaca sebagai fenomena budaya.

Bagi seorang peziarah, ia bisa menjadi pengalaman spiritual.

Bagi wisatawan, ia menjadi bagian dari daya tarik.

Alas Purwo menampung semuanya.

Satu Suro dan wajah lain Alas Purwo

Setiap memasuki bulan Suro, cerita tentang Alas Purwo kembali ramai.

Orang datang bukan hanya untuk melihat hutan.

Sebagian datang untuk menjalani ritual, berdoa, bermeditasi atau melakukan laku spiritual.

Mitos tentang kerajaan gaib, tempat keramat dan berbagai pantangan telah menjadi bagian dari narasi populer Alas Purwo. Penelitian tentang folklore setempat menunjukkan bahwa cerita-cerita tersebut memang hidup dalam masyarakat dan diwariskan melalui tuturan.

Tetapi ada bahaya ketika mitos diperlakukan sebagai fakta.

Label “hutan paling angker” dapat menarik perhatian wisatawan, tetapi sekaligus berpotensi menenggelamkan cerita yang jauh lebih penting: sejarah kawasan, kehidupan masyarakat, penelitian arkeologi dan konservasi satwa.

Alas Purwo bukan sekadar tempat untuk memburu cerita gaib.

Ia juga menyimpan cerita tentang bagaimana manusia memperlakukan alam.

Dari pertapaan menuju pariwisata

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Banyuwangi merupakan salah satu kawasan konservasi paling penting di Indonesia, terutama karena statusnya sebagai salah satu ekosistem hutan tertua di Pulau Jawa. (mc)

Perubahan paling terasa terjadi ketika Alas Purwo semakin dikenal sebagai destinasi wisata.

Dulu, nama Alas Purwo lebih banyak beredar melalui cerita masyarakat, peziarah dan orang-orang yang mengenal kawasan tersebut secara langsung.

Sekarang, namanya hadir di layar telepon.

Foto hutan beredar di media sosial.

Video tentang banteng Sadengan menjadi tontonan.

Pantai Plengkung atau G-Land menjadi magnet bagi peselancar.

Hutan yang dahulu terasa jauh kini berada dalam jangkauan kamera siapa pun.

Perubahan ini membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga pertanyaan baru.

Seberapa banyak wisatawan yang bisa ditampung?

Seberapa besar aktivitas manusia dapat diterima ekosistem?

Dan sampai kapan hutan dapat menjadi objek wisata tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai kawasan konservasi?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada perdebatan apakah Alas Purwo benar-benar memiliki kerajaan gaib.

G-Land: ketika hutan bertemu industri wisata

Di sisi lain kawasan, Pantai Plengkung menawarkan wajah yang hampir berlawanan.

Jika gua-gua Alas Purwo identik dengan kesunyian dan laku spiritual, G-Land identik dengan ombak dan adrenalin.

Peselancar dari berbagai negara datang mengejar gelombang.

Nama G-Land bahkan lebih dikenal oleh sebagian komunitas peselancar dunia dibandingkan nama Alas Purwo sendiri.

Di sini, alam kembali menjadi daya tarik ekonomi.

Ombak menjadi komoditas wisata.

Pantai menjadi panggung olahraga.

Dan kawasan konservasi bersentuhan langsung dengan industri pariwisata.

Tidak otomatis berarti buruk.

Tetapi setiap bentuk pemanfaatan kawasan konservasi membawa konsekuensi yang harus dihitung.

Sebab hutan tidak hanya menyediakan pemandangan untuk manusia.

Ia menyediakan ruang hidup bagi satwa, air bagi ekosistem, dan bentang alam yang tidak dapat diproduksi ulang ketika rusak.

Alas Purwo hari ini

Hampir satu abad setelah kawasan ini pertama kali memperoleh status perlindungan pada masa Hindia Belanda, Alas Purwo telah mengalami perubahan panjang.

Dari cagar alam menjadi suaka margasatwa.

Dari suaka margasatwa menjadi taman nasional.

Dari kawasan yang relatif terisolasi menjadi destinasi wisata.

Dari cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut menjadi konten yang beredar dalam hitungan detik.

Tetapi hutan tidak berubah secepat manusia.

Pohon membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun.

Satwa membutuhkan habitat.

Karst membutuhkan waktu geologis.

Dan ekosistem yang rusak tidak dapat dipulihkan hanya dengan sebuah unggahan kampanye lingkungan.

Itulah sebabnya masa depan Alas Purwo sesungguhnya bukan ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang.

Melainkan oleh seberapa mampu manusia menahan diri untuk tidak mengambil terlalu banyak dari hutan.

Antara mitos dan fakta

Alas Purwo barangkali akan terus disebut sebagai hutan pertama.

Cerita tentang kerajaan gaib akan tetap hidup.

Orang akan terus datang pada malam-malam tertentu untuk menjalani laku.

Peselancar akan terus mengejar gelombang G-Land.

Fotografer akan terus memburu siluet banteng di Sadengan.

Peneliti akan terus mencari jejak kehidupan masa lalu di antara karst dan gua.

Semua itu adalah bagian dari Alas Purwo hari ini.

Namun satu hal harus tetap dibedakan.

Mitos adalah warisan budaya.
Sejarah adalah jejak masa lalu.
Konservasi adalah tanggung jawab masa kini.

Ketiganya boleh hidup berdampingan, tetapi tidak boleh saling menggantikan.

Sebab jika Alas Purwo hanya dijual sebagai hutan mistis, kita kehilangan sejarahnya.

Jika hanya dijual sebagai destinasi wisata, kita mengabaikan ekosistemnya.

Dan jika hanya dipandang sebagai hutan tua, kita lupa bahwa hutan itu masih hidup—dan kehidupan di dalamnya membutuhkan perlindungan, bukan sekadar kekaguman.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar tentang Alas Purwo bukanlah apakah hutan itu benar-benar menyimpan kerajaan gaib.

Pertanyaan yang lebih nyata justru:

Ketika manusia semakin dekat dengan hutan, mampukah manusia menjaga jarak yang cukup agar hutan tetap menjadi hutan?

Di sanalah masa depan Alas Purwo ditentukan.

 

 

 

 

 

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments