Keruntuhan Majapahit, lahirnya Demak, jatuhnya Arya Penangsang, hingga berdirinya Mataram bukanlah satu garis lurus. Di antara fakta, legenda, dan kepentingan politik, Sunan Kalijaga ditempatkan sebagai penghubung sebuah zaman.
Oleh: Redaksi
LESINDO.COM – Pada mulanya adalah sebuah kerajaan yang kehilangan pusat.
Majapahit tidak tiba-tiba lenyap dari peta Jawa setelah satu pertempuran besar. Di dalam berbagai sumber, termasuk tradisi babad, keruntuhannya tampil sebagai proses yang rumit: perebutan kekuasaan, persaingan antarkerabat, perubahan jaringan politik, dan semakin kuatnya pusat-pusat kekuasaan baru.
Di ruang kosong itulah Demak muncul.
Kemudian Pajang.
Lalu Mataram.
Dalam versi sejarah yang diwariskan turun-temurun, perpindahan itu kerap digambarkan sebagai estafet: kekuasaan Majapahit berpindah kepada Demak, Demak kepada Pajang, dan akhirnya Pajang kepada Mataram. Tetapi sejarah tidak sesederhana itu.
Ada yang benar-benar dapat dilacak. Ada yang hanya dapat dibaca sebagai tradisi. Ada pula yang baru masuk ke dalam cerita beberapa waktu setelah peristiwanya terjadi.
Di antara semuanya, nama Sunan Kalijaga menempati posisi istimewa.
Ia bukan sekadar wali dalam cerita keagamaan. Dalam berbagai tradisi Jawa, ia hadir sebagai penghubung antara dunia lama dan dunia baru: antara simbol-simbol Hindu-Buddha dan Islam, antara rakyat dan keraton, antara kebudayaan dan kekuasaan.
Namun pertanyaan pentingnya justru ini: seberapa jauh kisah tersebut merupakan sejarah, dan seberapa jauh ia adalah cara masyarakat Jawa menjelaskan perubahan zaman?
Majapahit: Kerajaan yang Tidak Mati Seketika
Tradisi populer sering menyebut angka 1478 sebagai tahun runtuhnya Majapahit. Angka itu kemudian dikenal luas melalui ungkapan sirna ilang kertaning bumi.
Masalahnya, sejarah Majapahit tidak berhenti begitu saja pada tahun tersebut.
Sumber-sumber berbeda memberikan gambaran yang lebih berlapis mengenai hubungan Majapahit dan Demak. Sebuah kajian mengenai kronik Tionghoa Semarang dan Cirebon, misalnya, menunjukkan adanya perbedaan antara tradisi Babad Tanah Jawi dan kronik lain mengenai kapan dan bagaimana Demak menundukkan Majapahit. Salah satu kronik bahkan menggambarkan proses penaklukan yang berlangsung bertahap hingga 1527, bukan satu kali penyerbuan.
Artinya, cerita tentang “jatuhnya Majapahit” perlu dibaca dengan hati-hati.
Kerajaan dapat kehilangan kekuasaan politik jauh sebelum kebudayaannya benar-benar hilang.
Justru di sinilah menariknya narasi tentang Demak.
Dalam tradisi Jawa, Demak bukan sekadar kerajaan baru. Ia diposisikan sebagai pewaris. Hubungan itu kemudian diperkuat melalui berbagai kisah mengenai keturunan raja Majapahit, pusaka kerajaan, dan perpindahan wahyu keprabon.
Babad bekerja bukan seperti arsip modern.
Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”
Ia juga bertanya, “Mengapa penguasa yang sekarang berhak memerintah?”
Kajian historiografi tentang Babad Tanah Jawi menunjukkan bahwa teks tersebut mengandung fungsi legitimasi kekuasaan. Genealogi, kisah kenabian, dan hubungan dengan Wali Songo menjadi bagian dari cara Mataram menjelaskan keabsahan dinastinya.
Dengan kata lain, masa lalu tidak sekadar dikenang.
Ia juga disusun kembali untuk memberi dasar bagi kekuasaan yang sedang berdiri.
Sunan Kalijaga dan Politik Kebudayaan
Di tengah perubahan itu berdiri sosok yang dalam ingatan Jawa hampir selalu tampak berada di antara dua dunia: Sunan Kalijaga.
Ia dikenal melalui cerita tentang wayang, gamelan, tembang, pakaian, arsitektur, hingga berbagai tradisi masyarakat Jawa.
Dalam tradisi dakwah yang dilekatkan kepadanya, Islam tidak datang dengan menghancurkan seluruh simbol lama. Simbol-simbol tersebut justru diberi tafsir baru.
Wayang tidak dibuang.
Ia dimainkan.
Cerita lama tidak selalu dihapus.
Ia diberi makna baru.
Sejumlah penelitian mengenai dakwah kultural Sunan Kalijaga menunjukkan bagaimana wayang dipandang sebagai medium penting untuk menyampaikan nilai-nilai Islam melalui proses akulturasi dan reinterpretasi simbol.
Tetapi ada jebakan dalam kisah ini.
Semakin panjang sebuah legenda hidup, semakin besar pula kecenderungan satu tokoh diberi terlalu banyak peran.
Sunan Kalijaga kemudian muncul sebagai pendakwah, seniman, arsitek, penasihat politik, penghubung antarkerajaan, bahkan pengendali keseimbangan kekuasaan Jawa.
Sebagian besar atribusi tersebut hidup kuat dalam tradisi.
Namun tidak semuanya dapat dibuktikan dengan sumber sezaman.
Karena itu, menyebut Kalijaga sebagai “arsitek politik Nusantara” lebih tepat ditempatkan sebagai interpretasi terhadap tradisi, bukan sebagai fakta dokumenter yang sudah pasti.
Justru di situlah daya tarik tokoh ini.
Ia menjadi semacam simbol bagi cara Jawa menjelaskan Islamisasi: perubahan tanpa merasa sepenuhnya kehilangan masa lalu.

