LESINDO.COM – Ada orang yang begitu tinggi ilmunya, tetapi semakin jauh dari kesederhanaan. Banyak yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi lupa bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan baik. Ada pula yang fasih mengutip tentang kesabaran, keikhlasan, dan rendah hati, tetapi mudah tersinggung ketika pendapatnya tidak diikuti.
Di situlah kita sering diingatkan bahwa ilmu tanpa adab dapat kehilangan maknanya.
Sebab ilmu seharusnya membuat seseorang semakin memahami bahwa dirinya bukanlah pusat dari segala sesuatu. Semakin banyak yang diketahui, semestinya semakin besar kesadaran bahwa masih begitu banyak yang belum diketahui.
Dalam kehidupan sehari-hari, kualitas seseorang sebenarnya tidak selalu terlihat dari gelar yang melekat di belakang namanya, jabatan yang disandangnya, atau seberapa banyak orang yang mendengarkan perkataannya.
Kualitas itu justru sering terlihat dari hal-hal kecil.
Bagaimana ia menyapa orang yang tidak memiliki kepentingan dengannya. Bagaimana ia memperlakukan orang yang kedudukannya lebih rendah. Bagaimana ia berbicara kepada orang tua, tetangga, teman kerja, pedagang kecil, petugas kebersihan, atau seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Karena adab tidak selalu hadir dalam pidato. Adab hadir dalam perilaku.
Lingkungan adalah Cermin Akhlak
Kita hidup berdampingan dengan banyak karakter manusia. Di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di lingkungan masyarakat, bahkan di ruang-ruang digital.
Di sanalah karakter kita sesungguhnya diuji.
Mudah untuk terlihat baik ketika berada di hadapan banyak orang. Mudah pula berbicara tentang pentingnya menghormati sesama ketika suasana sedang nyaman.
Namun bagaimana ketika seseorang berbeda pendapat dengan kita?
Bagaimana ketika kritik datang?
Bagaimana ketika orang lain mendapatkan keberhasilan yang kita inginkan?
Bagaimana ketika seseorang yang kita anggap lebih rendah justru memberikan nasihat kepada kita?
Di situlah adab menemukan tempatnya.
Orang yang matang secara batin tidak merasa harus selalu menang dalam setiap perdebatan. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan.
Sebab berbeda pendapat tidak harus bermusuhan, dan menjadi benar tidak harus membuat orang lain merasa salah di hadapan banyak orang.
Mulut Bisa Berkata, Sikap Akan Berbicara
Manusia bisa menyusun kata-kata dengan sangat indah. Bisa berbicara tentang moral, etika, kesantunan, bahkan mengajarkan orang lain bagaimana menjadi manusia yang baik.
Tetapi kehidupan sehari-hari mempunyai cara sendiri untuk membuka siapa diri kita sebenarnya.
Cara seseorang memandang orang lain. Nada suaranya ketika berbicara. Ekspresi wajah ketika mendengar pendapat berbeda. Cara memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepadanya.
Semua itu sering berbicara lebih jujur daripada kata-kata.
Sebab akhlak bukan sesuatu yang perlu diumumkan. Ia akan terlihat dari kebiasaan.
Orang yang benar-benar baik biasanya tidak terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya baik. Ia tidak membutuhkan panggung untuk menunjukkan kesalehan, tidak membutuhkan pengakuan untuk merasa berharga.
Ia cukup menjalani hidup dengan tenang.
Menghormati orang lain tanpa memilih-milih.
Menepati janji.
Mengakui kesalahan.
Meminta maaf ketika keliru.
Mengucapkan terima kasih ketika menerima kebaikan.
Dan tidak merasa lebih tinggi hanya karena memiliki ilmu, jabatan, kekayaan, atau pengalaman yang lebih banyak.
Belajar Adab dari Hal-Hal Sederhana
Adab sesungguhnya tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar.
Ia bisa dimulai dari rumah.
Mendengarkan ketika orang tua berbicara. Tidak membentak pasangan. Bersabar menghadapi anak. Tidak mempermalukan anggota keluarga di depan orang lain.
Di lingkungan kerja, adab bisa berarti menghargai pendapat teman, tidak mengambil hak orang lain, tidak menyebarkan keburukan rekan kerja, serta berani mengakui kontribusi orang lain.
Di lingkungan masyarakat, adab bisa berarti menyapa tetangga, menjaga kebersihan bersama, tidak merasa paling berjasa, dan mau membantu tanpa harus menunggu diminta.
Bahkan di media sosial, adab tetap diperlukan.
Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tidak harus menghina. Kita boleh mengkritik, tetapi tidak perlu merendahkan. Kita boleh tidak setuju, tetapi tetap bisa menjaga martabat orang lain.
Sebab di balik setiap akun dan layar, tetap ada manusia yang memiliki perasaan.
Sebelum Menuntut Dihargai
Sering kali kita ingin dihormati, tetapi lupa belajar menghormati.
Kita ingin didengarkan, tetapi tidak mau mendengarkan.
Kita ingin dipahami, tetapi tidak berusaha memahami.
Kita ingin orang lain menjaga perasaan kita, tetapi dengan mudah melukai perasaan orang lain.
Barangkali sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah sikap kita pantas mendapatkan penghormatan yang kita tuntut dari orang lain?
Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi jawabannya bisa menjadi cermin yang sangat dalam.
Karena memperbaiki dunia tidak selalu harus dimulai dari orang lain.
Kadang ia cukup dimulai dari cara kita berbicara hari ini.
Dari cara kita memperlakukan orang yang berbeda dengan kita.
Dari keberanian mengakui bahwa kita pernah salah.
Dari kesediaan meminta maaf tanpa mencari pembenaran.
Dan dari kemauan untuk tetap rendah hati meskipun memiliki alasan untuk menyombongkan diri.
Ilmu Seharusnya Membuat Kita Semakin Rendah Hati
Pada akhirnya, ilmu yang sejati bukan hanya membuat seseorang semakin pintar menjelaskan kehidupan, tetapi juga semakin mampu menjalani kehidupan dengan bijaksana.
Ilmu semestinya memperhalus tutur kata, menenangkan pikiran, menundukkan ego, dan membuat seseorang semakin menghargai sesama.
Sebab setinggi apa pun ilmu yang dimiliki, manusia tetap membutuhkan manusia lain.
Kita lahir dengan bantuan orang lain, tumbuh karena kebaikan banyak orang, belajar dari pengalaman orang lain, dan pada akhirnya akan meninggalkan dunia dengan membawa jejak dari apa yang pernah kita lakukan kepada sesama.
Maka jangan hanya mengejar menjadi manusia yang berilmu.
Berusahalah menjadi manusia yang beradab.
Jangan hanya ingin dikenal karena kecerdasan.
Biarlah kita dikenang karena kebaikan sikap.
Jangan hanya pandai berbicara tentang kehidupan.
Belajarlah menjadi teladan dalam menjalaninya.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita berdiri yang akan menentukan nilai diri kita, melainkan seberapa baik kita memperlakukan orang lain ketika berada di atas maupun ketika berada di bawah.
Jaga etika. Perbaiki sikap. Rendahkan ego. Hormati sesama.
Sebab manusia yang benar-benar berkelas tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tinggi.
Ia justru membuat orang-orang di sekitarnya merasa dihargai.(Gus)

