Coban Pelangi, Malang — Ketika Air Terjun Menjadi Lukisan Langit
LESINDO.COM – Pagi belum sepenuhnya membuka tirai ketika perjalanan menuju kaki Gunung Semeru dimulai. Udara pegunungan terasa dingin, jalan berkelok, sementara kabut sesekali turun menyelimuti lereng. Di antara hijaunya pepohonan dan hamparan ladang warga, perjalanan membawa kita menuju sebuah tempat yang namanya terdengar seperti potongan puisi: Coban Pelangi.
Di kawasan Poncokusumo, Kabupaten Malang, air jatuh dari tebing setinggi sekitar 110 meter. Derasnya aliran air membelah keheningan hutan, menciptakan suara alam yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk kota.
Coban, dalam bahasa Jawa, berarti air terjun. Sementara pelangi adalah warna-warni cahaya yang sesaat muncul ketika sinar matahari bertemu dengan butiran air.
Nama itu bukan pemberian yang berlebihan.
Pada waktu tertentu, terutama ketika cahaya matahari jatuh pada sudut yang tepat, percikan air yang beterbangan berubah menjadi prisma alami. Warna merah, jingga, kuning, hijau hingga biru dapat muncul di antara derasnya air.
Pelangi itu tidak pernah benar-benar bisa dipaksa untuk hadir.
Ia datang ketika alam menghendaki.
Dan mungkin justru di situlah keindahannya.
Dari Tempat Mencari Kayu Bakar
Jauh sebelum menjadi tujuan wisata, kawasan Coban Pelangi hanyalah bagian dari hutan di lereng Semeru. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai kawasan yang biasa dimasuki untuk mencari kayu bakar.
Sekitar dekade 1980-an, keberadaan air terjun mulai semakin dikenal. Anak-anak sekolah dari wilayah Malang Timur mulai berdatangan. Mereka menyusuri jalan dan medan yang ketika itu masih jauh dari kata mudah.
Belum ada fasilitas wisata seperti sekarang.
Belum ada tempat duduk yang tertata.
Belum ada papan penunjuk jalan yang nyaman.
Yang ada hanyalah hutan, tebing, suara air dan perjalanan panjang untuk menemukan sebuah air terjun.
Potensi wisata itu kemudian mulai dirintis masyarakat sekitar sekitar 1986. Beberapa tahun kemudian, pengelolaan kawasan berada di bawah Perhutani. Fasilitas wisata perlahan dibangun dan Coban Pelangi mulai dikenal lebih luas.
Tetapi bagi mereka yang pernah datang pada masa-masa awal, Coban Pelangi tentu memiliki cerita yang berbeda.
Lebih liar.
Lebih sunyi.
Dan mungkin lebih dekat dengan wajah alam yang sebenarnya.
Ketika Pelangi Muncul Hampir Setiap Hari
Ada cerita menarik dari masa lalu Coban Pelangi.
Menurut penuturan masyarakat yang pernah menjaga kawasan tersebut, dahulu terdapat sebuah batu besar yang menjorok di bagian atas air terjun. Batu itu membuat aliran air terpecah dan menghasilkan lebih banyak percikan.
Ketika sinar matahari mengenai percikan tersebut, pelangi pun terbentuk.
Konon, pada masa itu pelangi dapat terlihat hampir setiap hari.
Namun alam tidak pernah berhenti berubah.
Banjir bandang kemudian datang. Batu besar yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari karakter air terjun itu akhirnya terkikis dan terseret arus.
Sejak saat itu, bentuk jatuhan air berubah.
Pelangi tidak lagi selalu hadir seperti dahulu.
Ia menjadi lebih pemilih.
Hanya pada waktu tertentu, ketika matahari, air dan sudut pandang manusia bertemu dalam komposisi yang tepat, warna-warni itu kembali muncul.
Seolah alam sedang mengatakan kepada manusia:
Keindahan tidak selalu bisa dimiliki. Kadang ia hanya bisa ditunggu.

Menunggu Cahaya
Bagi fotografer, Coban Pelangi bukan sekadar tempat untuk mengabadikan air terjun.
Ia adalah tempat untuk menunggu.
Menunggu matahari.
Menunggu kabut bergerak.
Menunggu percikan air.
Dan tentu saja, menunggu pelangi.
Kamera boleh memiliki lensa paling panjang. Tripod boleh berdiri kokoh. Pengaturan kamera boleh disiapkan sedemikian rupa.
Tetapi tidak ada kamera yang bisa memerintahkan pelangi untuk muncul.
Di situlah alam kembali mengajarkan kesabaran.
Kadang pelangi hadir hanya beberapa menit.
Kadang ia muncul samar di antara kabut.
Kadang warna-warninya begitu jelas, seperti lukisan yang digoreskan langit di depan mata.
Dan kadang, setelah menunggu cukup lama, tidak ada apa-apa.
Hanya air terjun.
Hanya kabut.
Hanya suara burung dan gemuruh air.
Tetapi bukankah itu sendiri sudah merupakan hadiah?
Di Kaki Semeru
Coban Pelangi berada di kawasan yang memiliki hubungan erat dengan lanskap Gunung Semeru. Perjalanan menuju air terjun membawa pengunjung memasuki suasana khas pegunungan Malang Timur.
Udara lebih dingin.
Pepohonan lebih rapat.
Langit terasa lebih dekat.
Di kejauhan, kehidupan masyarakat lereng gunung berjalan dengan ritmenya sendiri. Petani bekerja di ladang, kendaraan sesekali melintas, sementara kabut bergerak perlahan di antara bukit.
Di tempat seperti ini, waktu terasa berbeda.
Jam tangan tetap berjalan.
Tetapi manusia tidak lagi terlalu sibuk mengejarnya.
Mungkin karena di hadapan alam, kita akhirnya menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai.
Kadang perjalanan justru lebih penting daripada tujuan.
Pelangi yang Mengajarkan Kehidupan
Ada alasan mengapa pelangi selalu memiliki tempat khusus dalam ingatan manusia.
Ia muncul setelah air.
Ia hadir karena cahaya.
Dan ia tidak pernah tinggal selamanya.
Begitu pula kehidupan.
Ada masa ketika seseorang berada dalam kesulitan. Ada masa ketika hidup terasa seperti hujan panjang. Namun setelah itu, selalu ada kemungkinan cahaya datang dari arah yang tidak pernah kita duga.
Coban Pelangi seperti menyimpan filosofi itu.
Air yang jatuh adalah perjalanan.
Cahaya adalah harapan.
Dan pelangi adalah keindahan yang muncul dari pertemuan keduanya.
Barangkali itulah sebabnya tempat ini tidak pernah sekadar menjadi sebuah air terjun.
Ia menjadi ruang untuk berhenti.
Untuk menarik napas.
Untuk mendengarkan suara air.
Untuk melihat langit.
Dan sesekali, untuk mengingat bahwa dunia masih memiliki keindahan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Pulang Membawa Kenangan
Ketika kaki mulai meninggalkan kawasan Coban Pelangi, suara air perlahan terdengar semakin jauh.
Pelangi mungkin sudah menghilang.
Kabut mungkin kembali menutup lereng.
Namun sesuatu tertinggal di dalam ingatan.
Bukan hanya gambar yang tersimpan dalam kamera, tetapi juga pengalaman tentang perjalanan, dinginnya udara, suara air dan kesabaran menunggu sebuah warna muncul di antara cahaya dan percikan air.
Coban Pelangi mengajarkan satu hal sederhana:
Tidak semua keindahan harus kita kejar. Ada keindahan yang justru datang ketika kita mau berhenti dan menunggu.
Di kaki Semeru, air terus jatuh.
Hutan tetap menghijau.
Kabut datang dan pergi.
Matahari terus bergerak.
Dan sesekali, ketika cahaya bertemu dengan air dalam sudut yang sempurna, sebuah pelangi kembali lahir.
Sesaat.
Indah.
Lalu menghilang.
Seperti banyak hal dalam hidup yang baru kita sadari nilainya setelah ia berlalu. (Fai)

