Dulu aku malu dibonceng ayah dengan motor tua itu. Kini, ketika ayah telah tiada, justru motor tua itulah yang paling ingin kuingat.
LESINDO.COM – Ada masa ketika seseorang ingin cepat-cepat meninggalkan masa lalu. Ada pula kenangan yang dahulu terasa biasa saja, tetapi justru menjadi sesuatu yang paling dirindukan ketika waktu tak lagi bisa diputar kembali.
Aku pernah berada di masa itu.
Masa ketika seorang anak merasa malu dibonceng ayahnya dengan motor tua. Motor yang catnya mulai kusam, suaranya kasar, bahkan kadang mengeluarkan asap dari knalpot. Motor yang mungkin bagi sebagian orang tak lagi layak dibanggakan.
Namun bagi ayah, motor tua itu adalah kendaraan untuk mengantarkan harapan.
Dulu, ketika masih duduk di sekolah dasar, hampir setiap pagi ayah mengantarkanku ke sekolah dengan motor tua itu. Aku duduk di belakang, memeluk tas sekolah, sementara ayah mengendarai motor dengan tenang melewati jalan-jalan yang setiap hari kami lalui.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada kendaraan keluaran terbaru.
Hanya sebuah motor tua dan seorang ayah yang selalu berusaha memastikan anaknya sampai di sekolah tepat waktu.
Saat itu aku belum mengerti bahwa setiap kali ayah menyalakan mesin motor, sesungguhnya ia sedang menyalakan harapan untuk masa depanku.
Waktu berjalan.
Ketika memasuki sekolah menengah atas, perasaanku mulai berubah. Di depan gerbang sekolah, satu per satu teman datang dengan kendaraan yang jauh lebih bagus. Ada yang turun dari mobil, ada yang dibonceng dengan motor baru, mengilap dan terlihat gagah.
Sementara aku masih datang dengan motor tua yang sama.
Pelan-pelan, rasa malu mulai tumbuh.
Aku kemudian meminta ayah menurunkanku agak jauh dari gerbang sekolah.
“Turunkan di sini saja, Yah.”
Ayah mungkin tahu alasannya.
Ia tahu anaknya mulai malu jika teman-temannya melihat kendaraan yang kami pakai. Ia tahu motor itu sudah tua, sudah tidak sebagus kendaraan milik teman-temanku.
Tetapi ayah tidak bertanya.
Tidak marah.
Tidak pula memberikan nasihat panjang.
Ia hanya tersenyum, lalu menurunkanku di tempat yang kuminta.
Senyum yang dahulu mungkin kuanggap biasa saja, tetapi kini baru kusadari menyimpan begitu banyak pengertian.
Ayah seakan memahami bahwa setiap anak memiliki masa ketika ingin terlihat sama dengan teman-temannya. Ia tidak ingin membuatku merasa bersalah hanya karena keadaan ekonomi keluarga kami tidak seperti keluarga lainnya.
Baginya, selama aku masih mau sekolah, masih mau belajar, dan masih memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, semuanya sudah cukup.
Selebihnya, biarlah waktu yang mengajarkan arti kehidupan.
Dan benar.
Waktu akhirnya mengajarkanku.
Ketika aku melanjutkan kuliah di luar kota, kehidupan keluarga kembali diuji. Ayah jatuh sakit.
Saat itulah ibu bercerita tentang sesuatu yang selama ini tidak pernah kuketahui.
Motor tua yang dahulu membuatku malu ternyata memiliki cerita yang jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Motor itulah yang menjadi salah satu jalan ayah membiayai kuliahku.
Ayah sebenarnya bisa saja membeli motor baru.
Bisa saja mengganti motor tua itu dengan kendaraan yang lebih nyaman, lebih bagus, dan lebih layak dipandang.
Tetapi ia memilih tidak melakukannya.
Motor tua itu dipertahankan.
Uang yang seharusnya mungkin digunakan untuk membeli kendaraan baru, sedikit demi sedikit disisihkan untuk biaya kuliah anaknya.
Setiap rupiah yang berhasil dihemat menjadi bagian dari masa depanku.
Aku kemudian tersadar.
Betapa mudahnya seorang anak menilai orang tuanya dari apa yang tampak di mata.
Aku melihat motor tua.
Ayah melihat sebuah kendaraan yang masih bisa digunakan untuk bekerja, mengantar anak, dan menghemat pengeluaran.
Aku melihat rasa malu.
Ayah melihat masa depan.
Aku sibuk memikirkan bagaimana agar tidak terlihat berbeda dari teman-teman.
Ayah justru sibuk memikirkan bagaimana agar anaknya bisa terus sekolah.
Begitulah sering kali cinta orang tua bekerja.
Diam-diam.
Tidak banyak bicara.
Tidak selalu hadir dalam bentuk kemewahan.
Kadang cinta justru hadir dalam bentuk motor tua yang tak pernah diganti.
Dalam pakaian yang sederhana.
Dalam uang belanja yang dihemat.
Dalam keinginan orang tua yang sengaja ditunda demi memenuhi kebutuhan anak.
Dan sering kali, seorang anak baru benar-benar memahami semua itu setelah kehilangan orang yang melakukannya.
Kini aku telah memiliki mobil sendiri.
Tidak perlu lagi meminta diturunkan jauh dari gerbang.
Tidak perlu lagi merasa malu ketika kendaraan berhenti di depan sekolah.
Aku bisa datang ke mana saja dengan kendaraan yang jauh lebih nyaman dibanding motor tua milik ayah dahulu.
Tetapi anehnya, setelah semua yang dahulu kuanggap sebagai ukuran keberhasilan itu kumiliki, ada satu hal yang justru paling sering kurindukan.
Motor tua itu.
Aku merindukan perjalanan sederhana ketika duduk di belakang ayah.
Merindukan suara mesin tuanya.
Merindukan hembusan angin yang menerpa wajah.
Merindukan punggung ayah yang menjadi tempatku bersandar.
Merindukan tangannya yang tenang mengendalikan kemudi.
Dan yang paling kurindukan adalah sosok ayah yang tidak pernah marah ketika aku meminta turun jauh dari gerbang sekolah.
Seandainya waktu bisa kembali, mungkin aku tidak akan pernah meminta ayah menurunkanku di tempat yang jauh.
Aku ingin sekali mengatakan:
“Yah, antar aku sampai depan.”
Bahkan kalau harus melewati gerbang sekolah dengan motor tua yang berasap itu, aku tidak akan malu lagi.
Aku justru ingin teman-temanku tahu bahwa di atas motor tua itulah ada seorang ayah yang sedang mengantarkan masa depan anaknya.
Kini semuanya tinggal kenangan.
Ayah sudah tidak ada.
Motor tua itu mungkin juga sudah lama berhenti beroperasi.
Tetapi perjalanan kami tidak pernah benar-benar berhenti.
Ia terus hidup dalam ingatan.
Setiap kali rindu datang, aku seperti kembali menjadi anak kecil yang duduk di belakang ayah. Tidak ada mobil. Tidak ada kemewahan. Tidak ada gengsi.
Hanya aku, ayah, sebuah motor tua, dan jalan panjang menuju sekolah.
Dahulu aku mengira ayah hanya sedang mengantarkanku ke sekolah.
Ternyata, tanpa kusadari, ayah sedang mengantarkanku menuju kehidupan.
Dan sekarang, ketika aku telah sampai pada tempat yang dahulu ia impikan, baru kusadari satu hal:
Tidak ada kendaraan yang lebih mewah daripada kasih sayang seorang ayah.
Tidak ada perjalanan yang lebih indah daripada perjalanan bersama orang yang kita cintai.
Dan tidak ada yang lebih mahal daripada sebuah kenangan yang tidak mungkin diulang.
Aku memang sudah memiliki mobil sendiri.
Tetapi jika diberi kesempatan memilih sekali lagi, aku ingin kembali duduk di jok belakang motor tua itu.
Duduk di belakang ayah.
Menatap punggungnya.
Merasakan angin pagi.
Dan kali ini, aku ingin memeluknya lebih erat.
Sebab kini aku tahu, motor tua itu bukan kendaraan yang membuatku malu.
Motor tua itu adalah kendaraan yang membawa cinta seorang ayah menuju masa depan anaknya.
Dan setelah ayah tiada, barulah aku mengerti:
Yang paling kita rindukan dari masa lalu bukanlah kemewahannya, melainkan orang-orang yang dahulu hadir di dalam kesederhanaannya. (Fai)

