spot_img
BerandaBudayaKetika Aksara Jawa Mengajak Manusia Pulang

Ketika Aksara Jawa Mengajak Manusia Pulang

Dalam tafsir filosofis terhadap Ha Na Ca Ra Ka, lima aksara pertama dapat dibaca sebagai gambaran tentang unsur-unsur dasar kehidupan manusia: hawa, nafsu, cipta, rasa, dan karsa.

Menyusuri Sangkan Paraning Dumadi dari Ha Na Ca Ra Ka hingga Ma Ga Ba Tha Nga

LESINDO.COM – Pagi belum sepenuhnya terang ketika seorang lelaki tua duduk sendirian di pendapa.  Di hadapannya terbentang selembar kain bertuliskan aksara Jawa. Huruf-huruf itu tampak seperti bentuk-bentuk yang diam. Namun bagi mereka yang mengenalnya, aksara bukan sekadar gambar. Ia adalah bunyi, bahasa, sejarah, sekaligus ingatan sebuah peradaban.

Jari lelaki itu perlahan mengikuti rangkaian aksara.

Ha… Na… Ca… Ra… Ka.

Ia berhenti sejenak.

Kemudian melanjutkan.

Da… Ta… Sa… Wa… La.

Lalu:

Pa… Dha… Ja… Ya… Nya.

Dan akhirnya:

Ma… Ga… Ba… Tha… Nga.

Empat kelompok aksara.

Dua puluh huruf.

Namun dalam tafsir filosofis Jawa, rangkaian itu dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar sistem bunyi.

Ia seperti sebuah perjalanan.

Perjalanan manusia sejak masih menjadi kemungkinan, berada dalam rahim, dilahirkan ke dunia, menjalani kehidupan, berhadapan dengan kematian, hingga akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.

Sebuah perjalanan yang dalam kebudayaan Jawa dikenal melalui gagasan sangkan paraning dumadi—dari mana segala sesuatu berasal dan ke mana akhirnya kembali.

Sebelum Manusia Mengenal Dunia

Manusia sering merasa bahwa kehidupan dimulai ketika seorang bayi membuka mata.

Padahal jauh sebelum mengenal cahaya, manusia telah melalui sebuah proses panjang yang tidak pernah disaksikannya sendiri.

Dalam tafsir filosofis terhadap Ha Na Ca Ra Ka, lima aksara pertama dapat dibaca sebagai gambaran tentang unsur-unsur dasar kehidupan manusia: hawa, nafsu, cipta, rasa, dan karsa.

Hawa adalah hembusan kehidupan.

Nafsu adalah dorongan yang membuat manusia bergerak.

Cipta adalah kemampuan berpikir dan membayangkan.

Rasa adalah kepekaan batin.

Sementara karsa adalah kehendak untuk memilih dan melakukan sesuatu.

Kelima unsur tersebut akan menemani manusia sepanjang hidup.

Ia bisa menjadi kekuatan.

Tetapi juga bisa menjadi sumber persoalan.

Pikiran dapat melahirkan kebijaksanaan, tetapi juga kesombongan.

Nafsu dapat menjadi energi kehidupan, tetapi juga dapat menyeret manusia pada kerakusan.

Karsa dapat membawa seseorang pada keberanian, tetapi juga dapat berubah menjadi ambisi yang tidak mengenal batas.

Karena itu, perjalanan manusia sesungguhnya bukan sekadar bagaimana memperoleh kehidupan, tetapi bagaimana mengelola kehidupan yang telah diberikan.

Rahim: Universitas Pertama Manusia

Sebelum mengenal sekolah, manusia mengenal rahim.

Sebelum mengenal guru, ia belajar dari tubuh ibunya.

Sebelum mengenal bahasa, ia mengenal denyut kehidupan.

Rangkaian Da Ta Sa Wa La secara filosofis dapat dibaca sebagai gambaran proses dadi—menjadi.

Dari sesuatu yang belum berbentuk menjadi manusia.

Rahim adalah ruang pertama tempat manusia bertumbuh. Gelap, sunyi, tetapi penuh kehidupan.

Di sana manusia tidak mengenal persaingan.

Tidak mengenal harga rumah.

Tidak mengenal nilai uang.

Tidak mengenal jabatan.

Tidak mengenal media sosial.

Ia hanya tumbuh.

Dalam tafsir tradisional, fase ini juga dikaitkan dengan topo, sebuah laku prihatin dalam ruang yang penuh keterbatasan, serta songo, sembilan lubang tubuh, hingga wulan, perjalanan bulan-bulan kehamilan.

Sampai akhirnya datang satu kata:

Lahir.

La.

Tabir rahim terbuka.

Tangisan pertama terdengar.

Dunia menyambut manusia dengan cahaya.

Dan sejak saat itu, perjalanan sesungguhnya dimulai.

Dunia yang Terlalu Ramai untuk Didengarkan dengan Hati

Setelah lahir, manusia memasuki dunia yang jauh lebih luas.

Ia melihat padang.

Dunia terbuka.

Kemudian mengenal dunya—ruang tempat manusia mengejar kehidupan.

Sekolah.

Pekerjaan.

Keluarga.

Harta.

Jabatan.

Cinta.

Persahabatan.

Persaingan.

Kegagalan.

Kesuksesan.

Semua bercampur menjadi satu panggung besar bernama kehidupan.

Di sinilah manusia sering lupa bahwa dirinya hanya seorang pengembara.

Ketika masih kecil, ia ingin segera dewasa.

Ketika dewasa, ia mengejar uang.

Setelah memiliki uang, ia mengejar waktu.

Ketika usia bertambah, ia mulai sadar bahwa uang ternyata tidak dapat membeli kembali waktu yang telah hilang.

Pada usia tertentu, manusia mulai memahami bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi tentang seberapa banyak yang dapat membuat hidup menjadi berarti.

Karena itu, dalam tafsir filosofis Pa Dha Ja Ya Nya, manusia membutuhkan jembar.

Kelapangan dada.

Kelapangan untuk menerima bahwa tidak semua keinginan harus menjadi kenyataan.

Tidak semua orang harus menyukai kita.

Tidak semua kehilangan harus dibalas dengan kemarahan.

Tidak semua perbedaan harus menjadi permusuhan.

Hidup akan terasa lebih ringan ketika manusia berhenti memaksa dunia untuk selalu sesuai dengan keinginannya.

Yoga: Mengingat di Tengah Kesibukan

Di tengah dunia yang semakin ramai, manusia membutuhkan ruang untuk berhenti.

Ya dapat dibaca sebagai yoga—laku mendekatkan diri kepada Tuhan, sembah, doa, dan perjalanan batin.

Bukan berarti manusia harus meninggalkan dunia.

Justru ia tetap berada di tengah dunia, tetapi tidak kehilangan dirinya.

Bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan.

Memiliki harta, tetapi tidak menjadi budak harta.

Memiliki jabatan, tetapi tidak mabuk kekuasaan.

Memiliki ilmu, tetapi tidak merasa paling tahu.

Sebab manusia sering kali bukan kehilangan Tuhan karena terlalu banyak berbuat dosa, tetapi karena terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa untuk berhenti dan bertanya:

Untuk apa semua ini?

Pada akhirnya manusia adalah nyawa—nya.

Tubuh yang tampak kuat sesungguhnya hanyalah tempat sementara bagi kehidupan.

Hari ini seseorang masih berjalan.

Besok mungkin hanya tinggal nama.

Karena itu, kesadaran terhadap kematian bukan untuk menakut-nakuti manusia.

Justru sebaliknya.

Kesadaran akan kematian dapat membuat kehidupan menjadi lebih bernilai.

Ma: Saat Semua yang Dimiliki Harus Ditinggalkan

Tidak ada manusia yang bisa bernegosiasi dengan kematian.

Ia datang tanpa memandang jabatan.

Tidak peduli seseorang kaya atau miskin.

Terkenal atau tidak dikenal.

Berpendidikan tinggi atau tidak pernah bersekolah.

Ketika Ma—mati—datang, seluruh perbedaan duniawi menjadi tidak berarti.

Rumah yang dibangun bertahun-tahun ditinggalkan.

Kendaraan yang dibanggakan berhenti menjadi milik.

Pakaian terbaik tidak lagi dikenakan.

Gelar akademik tidak ikut masuk ke liang lahat.

Bahkan tubuh yang selama hidup dijaga dengan berbagai cara pada akhirnya kembali kepada tanah.

Ga—gari.

Yang tersisa dari tubuh hanyalah sisa.

Kemudian Ba—bathang.

Jasad yang tak lagi memiliki kehidupan.

Pada titik itu, manusia benar-benar berhadapan dengan dirinya sendiri.

Apa yang tersisa setelah tubuh tidak lagi bernyawa?

Thilas: Jejak yang Tidak Ikut Mati

Jawabannya mungkin bukan benda.

Melainkan thilas.

Jejak.

Setiap manusia meninggalkan sesuatu setelah kepergiannya.

Ada yang meninggalkan rumah.

Ada yang meninggalkan karya.

Ada yang meninggalkan tulisan.

Ada yang meninggalkan jabatan.

Tetapi yang paling lama bertahan justru sering kali bukan benda.

Melainkan kenangan.

Seorang guru mungkin tidak meninggalkan kekayaan kepada murid-muridnya.

Tetapi satu kalimat yang pernah ia ucapkan bisa hidup puluhan tahun.

Seorang ibu mungkin tidak meninggalkan harta.

Tetapi kasih sayangnya dapat menjadi bekal anak-anaknya sepanjang kehidupan.

Seorang sahabat mungkin pergi tanpa meninggalkan banyak benda.

Tetapi kebaikannya dapat terus disebut dalam doa.

Di sinilah kehidupan memperoleh ukuran yang berbeda.

Bukan lagi tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.

Ngilmu: Bekal Terakhir

Kemudian tibalah pada Nga—ngilmu.

Dalam tafsir filosofis, ilmu bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala.

Ilmu yang sejati adalah ilmu yang mengubah perilaku.

Membuat manusia lebih mengerti dirinya.

Lebih mampu mengendalikan nafsunya.

Lebih lapang menerima kehidupan.

Lebih rendah hati ketika berhasil.

Lebih sabar ketika gagal.

Dan lebih dekat kepada Tuhan ketika menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan.

Barangkali itulah sebabnya manusia terus belajar sepanjang hidup.

Bukan agar terlihat pintar.

Tetapi agar semakin memahami bahwa semakin banyak yang diketahui, semakin luas pula wilayah yang belum diketahui.

Ilmu akhirnya membawa manusia pada kerendahan hati.

Dan kerendahan hati membawa manusia kembali kepada asalnya.

Dua Puluh Huruf, Satu Perjalanan

Jika rangkaian aksara tersebut dibaca sebagai tafsir filosofis, Carakan seperti sedang mengisahkan manusia dalam dua puluh langkah.

Ha Na Ca Ra Ka.

Potensi kehidupan.

Da Ta Sa Wa La.

Menjadi dan lahir.

Pa Dha Ja Ya Nya.

Menjalani dunia.

Ma Ga Ba Tha Nga.

Meninggalkan dunia dan pulang.

Sebuah lingkaran yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan manusia.

Kita datang tanpa membawa apa-apa.

Kemudian belajar memiliki.

Lalu takut kehilangan.

Setelah kehilangan, kita belajar menerima.

Dan pada akhirnya kita memahami bahwa sejak awal tidak ada yang benar-benar kita miliki.

Semuanya hanya dititipkan.

Tubuh.

Waktu.

Keluarga.

Harta.

Jabatan.

Ilmu.

Bahkan napas yang keluar masuk setiap detik pun bukan milik kita.

Ketika Aksara Berubah Menjadi Cermin

Mungkin inilah keindahan terbesar dari aksara Jawa.

Ia tidak harus selalu dibaca sebagai sebuah dokumen sejarah.

Ia juga dapat dibaca sebagai cermin.

Ketika melihat Ha Na Ca Ra Ka, manusia diajak mengingat asal-usul potensi dirinya.

Ketika membaca Da Ta Sa Wa La, ia diingatkan bahwa kehidupan bermula dari sebuah proses yang penuh keajaiban.

Ketika sampai pada Pa Dha Ja Ya Nya, ia diingatkan untuk menjalani dunia dengan kesadaran.

Dan ketika sampai pada Ma Ga Ba Tha Nga, ia diajak menatap kematian dengan lebih jernih.

Bahwa kematian bukan lawan kehidupan.

Kematian adalah bagian dari kehidupan.

Ia membuat waktu menjadi berharga.

Ia membuat pertemuan menjadi berarti.

Ia membuat kebaikan tidak layak ditunda.

Dan ia mengingatkan manusia bahwa suatu hari nanti perjalanan ini akan selesai.

Pada akhirnya, manusia tidak membawa rumahnya.

Tidak membawa mobilnya.

Tidak membawa rekeningnya.

Tidak membawa jabatan.

Tidak membawa popularitas.

Yang mungkin tinggal adalah jejak kebaikan dan ilmu yang pernah dibagikan.

Maka hidup barangkali bukan soal bagaimana menjadi manusia yang paling besar.

Tetapi bagaimana menjadi manusia yang ketika pergi, kepergiannya meninggalkan cahaya bagi orang lain.

Lelaki tua di pendapa itu kembali memandangi aksara Jawa di hadapannya.

Ia tersenyum kecil.

Barangkali ia tidak sedang membaca huruf.

Ia sedang membaca dirinya sendiri.

Dari Ha hingga Nga.

Dari datang hingga pulang.

Dari sangkan menuju paran.

Dan di antara keduanya ada satu kesempatan yang tidak pernah bisa diulang:

hidup.

Sebab manusia pada akhirnya akan pulang.

Pertanyaannya bukan lagi kapan.

Melainkan:

ketika tiba waktunya pulang, jejak seperti apa yang akan kita tinggalkan? (Nea)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments