Demokrasi Tanpa Literasi
LESINDO.COM – Dalam negara demokrasi, kualitas pemilih tidak hanya ditentukan oleh jumlah suara, tetapi juga kualitas informasi yang dikonsumsi.
Ketika masyarakat tidak terbiasa membaca secara mendalam, pilihan politik lebih mudah dipengaruhi pencitraan, slogan, atau potongan video viral.
Program pembangunan kalah oleh popularitas.
Data kalah oleh sensasi.
Debat kebijakan bergeser menjadi perang narasi.
Demokrasi tetap berjalan, tetapi kualitas pengambilan keputusan publik perlahan menurun.
Ancaman bagi Masa Depan Bangsa
Rendahnya literasi bukan sekadar persoalan pendidikan.
Ia berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia.
Tenaga kerja yang minim literasi akan lebih sulit mempelajari teknologi baru, memahami regulasi, membaca kontrak kerja, maupun meningkatkan kompetensi.
Dalam jangka panjang, produktivitas nasional melemah.
Daya saing ekonomi menurun.
Inovasi melambat.
Bangsa yang miskin budaya membaca akan kesulitan bersaing di tengah ekonomi berbasis pengetahuan.
Menyelamatkan Budaya Membaca
Tidak ada teknologi yang harus disalahkan.
Video pendek bukan musuh buku.
Media sosial bukan lawan jurnalisme.
Masalah muncul ketika masyarakat kehilangan keseimbangan antara hiburan dan pengetahuan.
Literasi tidak dapat dibangun hanya melalui slogan “gemar membaca”.
Ia memerlukan ekosistem yang sehat: perpustakaan yang hidup, sekolah yang mengajarkan berpikir kritis, keluarga yang membiasakan membaca sejak dini, media yang menjaga kualitas jurnalisme, dan platform digital yang lebih bertanggung jawab terhadap penyebaran informasi.
Karena pada akhirnya, bangsa yang kehilangan kebiasaan membaca bukan hanya kehilangan buku.
Ia kehilangan kemampuan membedakan fakta dan opini.
Kehilangan daya kritis.
Kehilangan ruang dialog yang sehat.
Dan ketika semua orang bebas berbicara, tetapi semakin sedikit yang mau membaca dengan sungguh-sungguh, masyarakat tidak sedang mengalami kekurangan informasi.
Mereka sedang mengalami kelebihan informasi yang miskin pemahaman.
Di situlah paradoks zaman digital menemukan wajahnya yang paling nyata: semakin banyak orang menjadi jurnalis, semakin sedikit orang yang benar-benar menjadi pembaca. (Cha)

